Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bunga Tujuh Rupa yang Siap “Mewarna-warnikan” Taman

izak-Indra Zakaria • 2023-06-18 08:47:53
BERUBAH: Kondisi Pinang Mas Garden sudah tidak seindah saat awal dibuka yang penuh dengan bunga Celosia. Namun, diharapkan pergantian bunga tujuh rupa yang lebih populer, bisa kembali membangkitkan keindahan taman tersebut.
BERUBAH: Kondisi Pinang Mas Garden sudah tidak seindah saat awal dibuka yang penuh dengan bunga Celosia. Namun, diharapkan pergantian bunga tujuh rupa yang lebih populer, bisa kembali membangkitkan keindahan taman tersebut.

 

Pinang Mas Garden di Jalan P Suryanata, Gang Manunggal, Kelurahan Bukit Pinang, Kecamatan Samarinda Ulu, viral pada 2021. Itu karena keindahan bunga Celosia yang berwarna-warni.

 

KINI kondisinya telah berubah. Belum ada lagi hamparan bunga Celosia yang menawan. karena telah digantikan bibit mawar dan melati yang masih membutuhkan waktu lama untuk bisa dinikmati. 

Wawan, pengelola Pinang Mas Garden mengungkapkan, saat ini mereka mengganti jenis bunga di taman tersebut. "Kemarin bunga Celosia berwarna-warni, ke depannya tidak akan berwarna seperti sebelumnya. Kami akan menggantinya dengan mawar dan melati," jelasnya. 

Salah satu alasan perubahan ini adalah nilai ekonomis. Wawan menjelaskan, Celosia memiliki masa hidup yang pendek, dan harus ditanam kembali setiap enam bulan, sedangkan mawar dan melati memiliki masa hidup yang lebih panjang hingga puluhan tahun.

 Pinang Mas Garden dibuat dengan latar belakang kekurangan tempat rekreasi di Samarinda, terutama menghadirkan wisata murah dan alam. Selama ini, kebanyakan tempat hanya menawarkan kolam renang atau taman bekas galian tambang. “Sebelumnya, kami lakukan beberapa kali percobaan regenerasi Celosia di taman ini, tetapi selalu gagal hingga pembibitan kelima. Proses tersebut memakan waktu hampir setahun karena jarak waktu antara satu bibit dengan bibit berikutnya sekitar satu setengah bulan. Namun, hasilnya masih jauh dari harapan,” ucapnya.

 Upaya terbaru ini adalah menanam bunga matahari, tetapi hasilnya tidak memuaskan karena pertumbuhannya tidak merata. Selain itu, bunga matahari memiliki masa hidup yang singkat, mirip dengan Celosia, yaitu hanya enam bulan. “Dan masih saya pikirkan cara agar taman ini tetap berjalan tanpa mengenal waktu,” ujar Wawan. 

Selain menanam bunga, rencananya dibangun gazebo dengan bahan dasar bambu yang akan diganti dengan ulin. Namun, fasilitas pemancingan mungkin belum segera tersedia. Taman bunga ini memiliki luas sekitar seperempat hektare, sedangkan keseluruhan area termasuk gunung memiliki luas sekitar 5 hektare lebih. Selain itu, ada beberapa pohon seperti durian, nangka, dan lainnya yang ditanam untuk menjaga keberlanjutan lingkungan hijau. 

Meski ada rencana untuk membangun flying fox di puncak bukit, hal itu masih tahap wacana. Saat ini fokus utama adalah menanam berbagai jenis bunga yang tahan lama, sehingga pengunjung dapat menikmatinya setiap saat.

 Pada awalnya selain sebagai tempat rekreasi, taman tersebut digunakan untuk edukasi anak-anak. Mereka diajarkan tentang menanam bibit, pembuahan, dan diberikan suvenir berupa bibit Celosia. Selain itu, ada kandang sapi meski fasilitasnya belum modern.

 Saat ini, sudah ada ratusan bibit yang ditanam dan ribuan bibit yang tersedia, tetapi masih dikelompokkan dalam beberapa blok. Pengelola masih mencari jenis bunga lain yang cocok, tetapi tetap berfokus pada tujuh jenis bunga populer di pasar, seperti melati, terompet, dan kembang sepatu mikro. 

Selama masa popularitas Celosia, taman ini tidak mengalami kerusakan yang signifikan karena saat itu banyak pengunjung yang datang. Meski awalnya pengelola tidak yakin untuk membuka taman ini karena belum tahu apakah ada minat dari pengunjung, tetapi setelah membuka secara gratis selama tiga hari dan mendapatkan respons yang positif, mereka memutuskan untuk memasang biaya masuk yang terjangkau. Terlebih, lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kota juga menjadi daya tarik tersendiri. (dra/k8)

ARINA NURHIDAYAH

areenaheedayah@kaltimpost.co.id

Editor : izak-Indra Zakaria