TENGGARONG – Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tengah menghadapi musim kemarau panjang. Hal ini dikarenakan fenomena alam El Nino yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan berlangsung hingga Oktober nanti. Kemarau berkepanjangan ini mengakibatkan beberapa kawasan perairan Sungai Mahakam yang mengarungi Kaltim mengering. Salah satunya adalah Danau Melintang, yang terletak di kawasan hulu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Di atas danau yang membentang seluas 11.000 hektare sampai Danau Semayang ini. Terdapat sebuah desa yang berbagi nama sama. Yakni Desa Melintang yang masuk dalam wilayah pemerintah kecamatan Muara Wis. Imbas musim kemarau ini, danau luas yang sebelumnya menghiasi desa Melintang kini surut dan berubah menjadi sebuah padang pasir yang kering dan gersang. Tidak hanya berdampak secara alam. Musim kemarau ini juga berimbas terhadap warga setempat yang perekonomiannya bergantung terhadap perairan di Melintang.
“Kekeringan ini terparah sejak tahun 2002. Dulu itu dua bulan saja surutnya. Sekarang ini terparah dan kami sangat kesulitan mencari ikan,” cerita salah satu nelayan di desa Melintang, Sahbana kepada Prokal.co, Rabu (9/8).
Desa Melintang merupakan sebuah desa yang terletak di pedalaman hulu Kukar. Untuk mencapainya dari Ibukota Kukar, kecamatan Tenggarong diperlukan menempuh perjalanan yang memakan waktu hingga empat jam. Desa ini jika dalam kondisi normal menjadi sentra pengembangan ikan tawar. Bahkan menjadi habitat Pesut Mahakam, hewan mamalia air tawar yang berstatus endemik. Namun, dikarenakan el nino ini. Kebanyakan ikan mengungsi ke kawasan perairan yang pasang.
Sahbana menyebut dirinya sangat tersulitkan karena kondisi ini. Yang sebelumnya dia termudahkan dalam mencari ikan menggunakan jaring di sekitar desa. Atau dalam bahasa Kutai berarti ‘Merengge’. Kini, Sahbana harus berlabuh ke perairan Muara Pela yang terletak di tengah-tengah Danau Semayang dan Melintang. Dikarenakan ikan-ikan mengungsi ke perairan yang pasang. Untuk mencapai lokasi ini, dirinya harus menggunakan kapal ces selama 30 menit.
“Kesana harus menggunakan kapal ces selama 30 menit. Tetapi untuk sehari Insya Allah cukup saja biar tidak melimpah. Besoknya lanjut mencari lagi, karena ikan berpindah kesana,” imbuhnya.
Pria yang merupakan bapak dari lima anak ini mengaku bahwa dirinya sangat terdampak fenomena alam ini. Mulai dari menurunnya harga ikan, yang sebelumnya berharga Rp 30 ribu per kilogram. Kini menjadi Rp 16 ribu per kilogram. Sahbana sendiri dalam seharinya merengge dari pagi hingga malam dengan sela istirahat. Menghidupi keluarganya, keuntungan yang didapatnya berkurang drastis. Mulai dari anjloknya harga ikan hingga pengeluaran biaya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) yang bertambah.
“Sehari bisa saja dapat Rp 50 sampai 100 ribu, tapi terpotong dengan BBM yang mahal. Namun selama masih sehat Insya Allah besok bisa lanjut bekerja lagi. Terkadang saya sampai pinjam karena usaha yang tersulitkan selama kemarau ini. Ya kami berdoa semoga (musim kemarau) tidak sampai lama. Jikapun lama, untuk pemerintah tolong bantu lah kami di Melintang,” tutup Sahbana. (moe)
Editor : izak-Indra Zakaria