Pratu Sandy Primadana namanya. Seorang prajurit TNI asal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang gugur bertugas di Distrik Paro, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Sandy dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak saat menjaga posnya, Kamis (30/11) kemarin. Karena terlibat kontak senjata yang dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Mendiang Sandy sendiri merupakan warga Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong. Pria kelahiran Balikpapan, 18 Desember 1998 ini bertugas di Korem 172/PWY. Putra asli Kukar yang berumur 25 tahun ini merupakan alumnus SMA Negeri 2 Tenggarong. Lantas, bagaimana kah sosok Sandy di mata gurunya?
Awak media Prokal.co berkesempatan mengunjungi sekolah Almarhum Sandy di SMA Negeri 2 Tenggarong yang terletak di Jalan Pesut, Timbau pada Jumat (1/12). Untuk bertemu mantan guru-guru sekaligus mengetahui langsung sosoknya sebelum menjadi prajurit TNI.
Dan diceritakan para guru-gurunya. Yakni ibu Ina yang merupakan Waka Kurikulum. Didampingi ibu Miska, Guru Bahasa Indonesia, Ibu Siti Khotimah, Guru Seni Budaya dan Bapak Suparto, Guru Sejarah. Para guru ini turut bercerita tentang sosok Sandy. Yang dikenal sebagai sosok yang sopan, beretika baik, ramah, murah senyum, pintar dan bertanggung jawab.
"Anaknya luar biasa sopan terhadap kami (para guru). Meski lulus tahun 2016 lalu, kami masih sangat ingat dengan almarhum," cerita Ina.
Sandy sendiri merupakan siswa SMA Negeri 2 Tenggarong yang lulus pada tahun 2016 silam. Meski sudah meninggalkan sekolah sejak tujuh tahun yang lalu. Sosok Sandy masih melekat dalam memori gurunya. Tidak hanya bawaan sifatnya yang baik dan sopan. Namun juga potensi atletik, musik dan kemampuan akademiknya. Selama sekolah, Sandy dikenal sangat rajin bersekolah dan memiliki nilai yang rata-rata bagus.
Di ekstrakurikuler juga. Sandy menggeluti olahraga basket juga seni musik. Di seni musik, Sandy sering memainkan alat musik jimbe. Diakui hebat oleh gurunya, Sandy bisa menyeimbangi ekskul dengan tugas sekolah. Hal ini membuktikan rasa tanggung jawab tingginya. Yang juga menjadi sifat penting sebagai seorang abdi negara.
Tiga tahun menimba ilmu di SMA Negeri 2 Tenggarong. Sandy merupakan sosok yang dewasa pada umurnya. Gurunya menyebut Sandy bisa menyesuaikan diri, tidak pernah ketinggalan tugas dan tidak membatasi diri dengan teman. Bahkan, cita-citanya yang ingin menjadi prajurit TNI sudah diketahui banyak orang.
"Semuanya tau kalau dia bercita-cita menjadi TNI. Jadi saat tau kabar (meninggal dunia) ini kami kaget dan sedih. Karena almarhum sosok yang sangat baik," lanjut Ina.
Guru-guru Sandy mengaku bahwa mendiang adalah Kusuma Bangsa asal Kukar. Dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi SMA Negeri 2 Tenggarong. Karena pernah memiliki murid yang telah gugur sebagai kusuma bangsa tersebut. Guru bahasa indonesia Sandy, Siti Khotimah. Pernah secara bercanda mempertanyakan kemampuan Sandy yang berkeinginan menjadi prajurit TNI kala dia sekolah.
"Memang dari potensi dia mampu. Namun saat sekolah dia kurus dan tinggi. Jadi saya tanya bisa kah kamu, kuat nggak fisikmu. Terus dijawab kuat dong bu," timpal Siti sembari bernostalgia.
"Kami bersaksi almarhum (Sandy) adalah orang baik. Kami turut berduka kepada keluarga yang ditinggalkan. Dan kami sangat berbangga pernah memiliki murid yang merupakan kusuma bangsa," tegas para guru mengakhiri.
Untuk diketahui, saat ini jenazah Pratu Sandy Primadana dalam perjalanan menuju kampung halamannya untuk dikebumikan. Jenazahnya diperkirakan akan tiba Sabtu (2/12) besok. Kodim 0906/KKR akan memandu kedatangan Sandy. Untuk mendapatkan pemakaman secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bukit Biru, Tenggarong. (moe)
Editor : izak-Indra Zakaria