SAMARINDA– Di tengah ramainya penyebaran informasi melalui media sosial (medsos), Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda juga tak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan media Instagram dan Facebook sebagai jembatan dalam menyampaikan komunikasi publik.
Agar isi konten yang dihasilkan bisa maksimal dan berkualitas, maka para pewarta di bawah Bidang Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi Diskominfo Kota Samarinda melakukan lawatannya ke Gedung Biru Kaltim Post Group, Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan Utara, Kamis (9/12/2012) pagi.
Dipimpin langsung Kepala Seksi (Kasi) Pengembangan Sumber Daya Komunikasi Publik Diskominfo Samarinda, Herman YB Tukan, kunjungan kali ini lebih kepada sharing session bersama Kaltim Post dalam pengelolaan konten agar menarik diterima dan diterjemahkan oleh netizen.
Pemimpin Redaksi (Pemred) Kaltim Post, Faroq Zamzami yang menerima langsung rombongan Diskominfo Samarinda pagi itu sedikit bercerita bagaimana perusahaan media cetaknya tengah berjuang menghadapi persaingan derasnya arus digitalisasi. Kaltim Post sendiri akunya, bukan ‘pemain lama’ di medsos.
”Jujur, Kaltim Post juga pemain baru dalam menyampaikan informasi di jejaring medsos. Karena cepat atau lambat, biar bagaimanapun media kovensional sekelas kami pada akhirnya harus bisa menyesuaikan diri dengan media digital termasuk medsos. Oleh karena itu, perlahan kami juga mulai memproduksi konten untuk di-upload di Instagram, Facebook, hingga Twitter,” tuturnya.
Di Kaltim Post sendiri jelas dia, penanggung jawab isi konten medsos ada di bawah Divisi Redaksi. Informasi yang disampikan pun menurutnya beragam. Tetapi tetap mengedepankan kaidah jurnalistik.
“Biasanya isu-isu yang lagi viral di tingkat nasional juga kita tarik untuk diolah kembali menjadi konten yang siap tayang di medsos Kaltim Post. Walaupun yang sifatnya receh, akan kami olah kembali agar lebih menarik. Karena informasi yang model begini justru banyak mendapat respon luar biasa dari netizen,” ungkapnya.
Sehingga tambah dia, produksi konten yang dihasilkan Kaltim Post tidak mesti yang selalu tersaji di media cetak maupun online.
“Intinya kita dituntut lebih peka aja, agar terus memantau perkembangan isu di tengah masyarakat. Saya paling sering cari isu hangat di twitter. Kalau ada yang menarik, baru kita poles, lalu follow up di medsos kami, dengan catatan kode etik jurnalistik tetap harus dikedepankan,” ungkapnya.
Sementara, Kasi Pengembangan Sumber Daya Komunikasi Publik, Herman YB Tukan mengatakan kunjungan pagi itu lebih kepada keingintahuan para pewarta di Diskominfo dalam memanfaatkan multiplatform dari website, medsos, hingga kolaborasi ke depan bersama Kaltim Post selaku media cetak terbesar di Kaltim dalam memberikan edukasi dalam menyajikan konten beragam, mulai dari artikel, image, motion graphics, hingga video, agar bisa menarik dan diterima warganet.
“Hasil sharing hari ini akan kami laporkan ke pimpinan kami di Samarinda agar bisa ditindaklanjuti. Harapannya agar ke depan kita bisa terus berkolaborasi untuk menyelenggarakan semacam pelatihan dalam memberikan edukasi kepada pengelola medsos di lingkungan Pemkot terkait bagaimana cara menyajikan atau memproduksi konten yang menarik,” ungkapnya. (far/pro)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan