ADA sekitar 80 jenis penyakit autoimun. Sebagian dari penyakit autoimun itu hanya menyerang satu organ saja. Sebagian lain menyerang banyak organ atau bersifat sistemik.
Sampai saat ini penyebab lupus belum diketahui pasti. Beberapa faktor yang diduga berperan terhadap munculnya penyakit lupus pada seseorang antara lain, faktor genetik, infeksi, hormonal, bahan-bahan kimia, dan kegemukan.
Spesialis penyakit dalam-konsultan reumatologi dr Natsir Akil kepada Kaltim Post menjelaskan, di dalam tubuh terdapat suatu sistem imun yang berfungsi melindungi tubuh terhadap berbagai kuman yang akan menginfeksi tubuh.
Selain berfungsi mencegah terjadinya infeksi, sistem imun juga bisa mencegah terjadi pertumbuhan sel-sel asing di dalam tubuh yang nantinya menyebabkan tumbuhnya sel-sel ganas. Gangguan terhadap sistem imun bisa berupa kemampuan sistem imun yang menurun atau terjadinya keadaan yang disebut autoimuniti.
“Autoimun menggambarkan suatu kondisi di mana sistem imun di dalam tubuh tidak mampu membedakan antara kuman dan benda asing dari luar tubuh dengan sel-sel atau jaringan tubuh sendiri. Sehingga sistem imun menyerang sel-sel dan jaringan tubuh sendiri yang berujung pada terjadinya peradangan dan kerusakan organ-organ tubuh,” bebernya, Kamis (13/5).
Lupus dikatakan berat jika menyerang organ-organ vital seperti otak, ginjal dan darah, dan dikatakan ringan jika hanya menyerang kulit dan sendi.
Dengan demikian, penampilan penyakitnya sangat beragam dan gejala-gejala dan tanda-tandanya berbeda antara satu penderita lupus (odapus) dengan penderita yang lain, maka penyakit lupus juga dikenal dengan istilah penyakit seribu wajah (A disease with a thousand of faces).
Tidak ada dua odapus yang mempunyai gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit yang sama. Selain gambaran klinik yang sangat beragam, lupus juga menyerupai banyak penyakit lain (the great imitator), baik penyakit yang dasarnya autoimun maupun penyakit yang non-autoimun.
Lupus bisa menyerupai penyakit saraf, jiwa, darah, kulit, kanker, infeksi, dan lain-lain. Berkaitan dengan dua hal itu, penentuan seseorang apakah sedang menderita lupus atau tidak, menjadi tantangan tersendiri bagi para dokter di seluruh dunia.
“Diperlukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan diagnosis seseorang lupus atau tidak. Tidak ada pemeriksaan tunggal yang bisa menetapkan seseorang menderita lupus,” jelasnya.
Kadang-kadang perlu waktu beberapa lama untuk memastikan seseorang terkena lupus atau tidak. Pada beberapa kasus seseorang odapus harus berpindah-pindah ke beberapa dokter sebelum diagnosis lupusnya tegak. Gejala-gejala dan tanda-tanda lupus bisa berupa, nyeri sendi, radang sendi, demam, sakit kepala, rambut rontok, sariawan, cepat capek, nafsu makan menurun, ruam menyerupai kupu-kupu di muka, dan bercak kemerahan di badan jika terpapar sinar matahari (fotosensitivitas).
“Jadi mereka (penderita lupus) benar-benar tidak boleh terpapar langsung sinar matahari. Jadi untuk menggantikan vitamin D bisa mengonsumsi tambahan vitamin dan makanan,” ucapnya.
Salah satu hal yang perlu diketahui oleh penderita lupus (odapus) adalah apa saja yang dapat mencetuskan atau memperberat gejala-gejala lupusnya. Faktor-faktor pencetus lupus antara lain, sinar ultraviolet dari matahari; sinar ultraviolet dari lampu pijar, obat-obatan sulfa (membuat penderita lupus lebih peka terhadap cahaya matahari) seperti trimethoprim (obat sulfamethoxazole, sulfisoxazole, sulfasalazine, diuretik pelancar kencing), obat-obatan tetrasiklin; antibiotik seperti amoksisilin dan ampisilin.
Kemudian menderita infeksi, kedinginan, kelelahan, mengalami trauma atau kecelakaan, stres emosional seperti mengalami suatu perceraian, menderita penyakit tertentu, kematian di dalam keluarga, dan kesulitan kesulitan hidup lainnya. Stres pada tubuh seperti mengalami pembedahan, trauma fisik, kehamilan, ataupun persalinan. “Hingga kini belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan. Yang ada hanya mengontrol,” ungkapnya.
Lupus lebih banyak dijumpai pada perempuan. Terutama perempuan usia reproduktif dibanding laki-laki dan umur terbanyak adalah pada 15-45 tahun. Namun, pada anak-anak dan usia lanjut juga bisa ditemukan. Meski 90 persen penderita lupus pemeriksaan laboratorium ANA (anti-nuclear antibody)-nya positif, tidak ada satu pun pemeriksaan laboratorium tunggal yang dapat memastikan seseorang menderita lupus.
Banyak penderita mengalami gejala-gejala lupus untuk beberapa tahun lamanya, sebelum mereka betul-betul ditetapkan menderita lupus. “Jadi perbandingannya, jika ada 10 odapus, sembilan di antaranya perempuan. Itu berhubungan dengan faktor hormon estrogen,” ujarnya.
Natsir hingga kini sudah menangani lebih 100 pasien lupus. Baginya, yang paling penting dalam pengobatan lupus adalah kemampuan dan kemauan odapus untuk bisa menjalani hari-harinya. Mampu mengontrol berbagai faktor pencetus gejala lupus. Apalagi dengan perkembangan obat-obatan dan edukasi yang luas, usia harapan hidup penderita lupus kini semakin meningkat. “Dulu secara medis usia harapan hidup penderita hanya sampai 5 tahun. Kini meningkat menjadi 10 tahun,” katanya. (rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria