BALIKPAPAN-Pemerintah memutuskan menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) sejak Sabtu, 3 September lalu.
Untuk pertalite saat ini harganya ditetapkan Rp 10 ribu per liter, sementara solar kini dibanderol Ro 6800 per liter dan pertamax dijual Rp 14.500 per liter.
Kenaikan harga BBM ini, dipastikan bakal memberi efek domino terhadap perekonomian. Salah satu pihak yang dipastikan terdampak kebijakan ini tentu saja para pengusaha.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Balikpapan, Yaser Arafat Syahril mengatakan, kenaikan harga beberapa jenis BBM ini bakal memberikan tekanan pada pelaku usaha.
"Kenaikan harga BBM dipastikan dibarengi kenaikan ongkos di sektor logistik yang mau tidak mau akan diikuti kenaikan harga nyaris seluruh komoditas dan jasa," kata Yaser kepada jurnalis, Senin (12/9).
Kenaikan harga ini terjadi di tengah kontrak yang proyeknya sedang berjalan, baik proyek pemerintah maupun swasta.
"Adanya kenaikan harga BBM ini tidak diperhitungkan di dalam kontrak yang tengah berjalan. Selisih nilai kontrak sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM ini mestinya jadi perhatian pemerintah," ujar dia.
Dirinya berharap, pemerintah menyusun regulasi khusus agar kenaikan harga BBM juga diikuti penyesuaian terhadap kontrak yang berjalan.
"Misalnya saja, pemerintah memberi regulasi mengurangi volume barang dengan nilai kontrak yang sudah disepakati. Artinya nilai kontrak tak berubah, volumenya saja yang misalnya dikurangi," urai Yaser.
Naiknya harga BBM, kata Yaser, juga membuat karyawan menuntut kenaikan gaji maupun tunjangan. Sebab, harga kebutuhan pokok dan transportasi juga turut mengalami kenaikan. "Ini kan pasti jadi beban pengusaha," ucap dia.
Pengusaha, kata Yaser, memang selalu jadi pihak yang paling terpukul kenaikan BBM. Apalagi selama ini, tak ada insentif khusus yang diberikan pemerintah kepada pengusaha saat ada kenaikan harga BBM.
"Padahal kan pengusaha ini merupakan penggerak ekonomi," tandasnya.
Berbicara lebih luas, kebijakan ini disebut Yaser berpotensi menaikkan inflasi bulan ini. Mengingat saat ini harga sejumlah komoditas sudah mulai merangkak naik.
Kenaikan harga juga akan dibarengi dengan melemahnya daya beli masyarakat, yang dikhawatirkan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. (hul).
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan