Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ikuti Pelatihan Ecoprint dari Pertagas, Ibu-Ibu Samboja Antusias Ciptakan Karya Khas

Wawan-Wawan Lastiawan • 2023-08-14 12:21:12
Retno Setyaningsih dan Didi menjelaskan mengenai teknik ecoprint yang ramah lingkungan dan bisa menghasilkan ekonomi keluarga.
Retno Setyaningsih dan Didi menjelaskan mengenai teknik ecoprint yang ramah lingkungan dan bisa menghasilkan ekonomi keluarga.

Membatik ecoprint sedang marak digandrungi. Selain prosesnya murah dan mudah, teknik membatik menggunakan pewarna alami dari daun ini juga ramah lingkungan. Hasil karyanya bisa menghasilkan cuan. PT Pertamina Gas atau Pertagas melihat baik peluang ini. Mereka menggelar pelatihan untuk warga, khususnya ibu-ibu, di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Membatik teknik ecoprint untuk ciptakan karya khas Samboja.

 

Wawan Lastiawan, Samboja

  

Riuh suara ibu-ibu terdengar bersahut-sahutan di dalam aula Kantor Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara, Rabu, 9 Agustus 2023, pagi. Waktu itu menunjukkan pukul 09.35 Wita. Ruangan berukuran 15x20 meter persegi itu diisi 60 peserta dari ibu-ibu perwakilan dari desa/ kelurahan se- Kecamatan Samboja. Mereka kompak mengenakan t-shirt berwarna putih. “Mbak, bahan sudah siap. Daunnya langsung ditempel kah?” tanya Rika Ermawati (46), salah satu satu peserta pelatihan ecoprint dari Kelurahan Wonotirto.

Ibu-ibu di bagian depan dekat pintu utama aula juga mulai lontar pertanyaan. “Mbakku, ini sudah kah? Terus selanjutnya piye?” kata Purningsih (48), warga kelahiran Surabaya, yang sudah 25 tahun tinggal di Samboja.

Peserta lain juga tampak sibuk. Tangan mereka aktif menyiapkan bahan dan perlengkapan. “Pastikan bahan yang disiapkan sesuai dengan list yang ada di kertas panduan. Kalau sudah ditata bahannya, bisa kita mulai,” ujar Retno Setyaningsih, instruktur ecoprint yang dihadirkan Pertagas dalam pelatihan ini.

Retno merupakan pengrajin ecoprint Amung Godhong asal Magelang. Namanya tersohor di dunia ecoprint di Magelang. Ia sudah berpengalaman dengan aneka karyanya sejak 2016 lalu.

Oleh Pertagas, Retno Setyaningsih didatangkan sebagai pemateri. Selain Retno, ada juga Didi dari Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama). Ia juga berpengalaman di bidang membatik ecoprint dan pengembangan ekonomi kreatif.

Didi dan Retno dengan hasil karya ecoprint yang dipajang dalam pelatihan ecoprint gelaran Pertagas.

 

Mendengar isyarat akan dimulai, suara ibu-ibu tadi makin gaduh. Mereka saling tanya teman di sebelah. Wajah panik pun mulai terlihat pada peserta yang belum selesai menata bahan dan perlengkapan. “Loh, ayo..ayo.. Tangannya yang menata dan bekerja, ibu-ibu. Bukan mulutnya loh ya. Duuh ibu-ibu ini kok malah mulutnya yang kerja,” guyon Retno, lewat pengeras suara, disambut tawa para peserta.

Menata bahan ecoprint yang digunakan cukup banyak. Masing-masing orang membekali diri dengan ember berisi air,cuka, soda abu, tawas, kapur tohor, tali, tunjung, dan plastik kresek. Lalu, ada alat utama ecoprint berupa daun beraneka macam yang ditaruh di dalam wadah dan kain serat alam sebagai medianya. Semua bahan dan perlengkapan tadi diletakkan di samping dan depan peserta.  

Perempuan berkacamata dan berambut pirang ini kemudian menjelaskan proses pembuatan ecoprint. Pertama-tama, kain lebih dulu dicuci. Ia menggunakan dua kain. Satu kain utama, kemudian dilapisi kain blanket. Kain itu lalu dibentangkan kemudian digulung dan dikukus selama dua jam.

Peserta mendapat pembekalan teori dari pemateri sebelum membuat ecoprint.

 

Setelah dibuka gulungannya, dibiarkan terlebih dulu. Proses selanjutnya yaitu proses penguncian warna. “Namanya fiksasi. Ini supaya warnanya tidak luntur. Setelah itu dicuci lalu disetrika,” kata ibu empat anak ini.

Retno, Didi, dan 60 peserta pelatihan punya semangat kuat membantu mengangkat potensi lokal yang ada di Samboja. Didi menambahkan, Kalimantan memiliki tanaman khas yakni kayu ulin. Menurutnya, ini adalah hal baru. Sudah termasuk tanaman endemic. Warna khas dan unik. Yang warnanya tidak ada di tanaman lain.

“Tanamannya ada dua sebenarnya yang sudah kita coba, kayu ulin dan bajakah. Ulin dan bajakah punya karakter warna berbeda. Ini bisa diangkat menjadi karya khas Kalimantan, khususnya di Samboja yaitu warna ulin. Belum ada di Pulau Jawa loh ini. Kalau ini diangkat bisa menjadi produk khas di Kalimantan yang tidak didapatkan di daerah lain,” katanya.

Pewarna ulin, lanjut Didi, sudah digunakan sejak dua tahun terakhir ini. “Kalau kemarin-kemarin belum terlalu banyak. Ini kita coba lebih masif lagi di Kaltim. Harapannya satu tahun ke depan akan semakin banyak dikenal orang,” sebutnya.

Secara kualitas warna dari kayu ulin teruji melekat kuat pada kain. Hal ini sudah terbukti. “Kami sudah buktikan dalam dua tahun ini produk dengan pewarna ulin memang luar biasa. Secara kualitas warna teruji kuat. Bagus. Karena sudah kuat uji praktek. Sudah uji pakai. Uji produk. Sudah kami pakai dua tahun ini dan masih sangat bagus,” kata Didi.

Retno kemudian mengatakan, pasar ecoprint juga jangan diragukan. Saat ini peminatnya sudah ada di mana-mana. Mulai dari Sabang hingga Merauke. “Namun tentunya harus ada nilai jual yang bisa kita publikasikan ya. Apa itu? Yaitu warna alami dan motif dari tanaman itu tadi,” ujarnya.

Untuk nilai jual, lanjut Retno, harganya bervariatif. Untuk motif ulin minimal seharga Rp 400 ribu. Beda lagi jika kain yang digunakan berbahan kain sutera. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Retno lalu menjelaskan, secara umum semua daun bisa digunakan ecoprint untuk teknik steaming. “Teknik steaming pada ecoprint ini dari tanaman apapun. Kita bisa dapat motif dan warnanya saja. Misal daun jati. Bisa dapat motif dan warnanya. Sedangkan daun jenis tanaman paku-pakuan, hanya bisa motif, Tapi tak bisa mengeluarkan warna,” kata Retno.

Retno saat ini tengah mengembangkan inovasi terbaru. “Saya lagi mengembangkan Maneka Series. Istimewanya satu lembar kain bisa beraneka warna. Bisa bikin tiga warna. Yang ini, jarang ada orang yang punya,” katanya.

Pelatihan dari Pertagas dihelat sejak 7 Agustus hingga 11 Agustus 2023. Sebelum pelatihan ecoprint dan shibori, warga Samboja juga mengikuti pelatihan ekonomi kreatif yang bekerja sama dengan Kemenparekraf.

Salah satu peserta warga Kelurahan Wonotirto, Kecamatan Samboja, Rika Ermawati, mengaku merasakan kontribusi Pertagas. Ia sangat antusias mengikuti pelatihan dari Pertagas ini.

Rika Ermawati menunjukkan hasil karya ecoprint dari mengikuti pelatihan Pertagas.

 

Setelah mengetahui teknik pembuatan ecoprint, Rika berencana menyeriusi karya ini untuk dijual. Ia dan ibu ibu lainnya ingin turut menciptakan karya ecoprint dari kayu ulin. Sebagai karya khas Kalimantan, khususnya wilayah Samboja. “Prosesnya relatif mudah. Bahannya juga murah. Dari ikut pelatihan ini, ibu ibu di rumah ada kegiatan dan menghasilkan uang. Ibaratnya selesai pelatihan bukan selesai begitu saja. Tapi bisa diterapkan ilmunya,” kata perempuan berusia 46 tahun ini.

Menurut Rika, yang dilakukan Pertagas ini membuat dia dan ibu-ibu lainnya antusias serta jadi memiliki keterampilan dan pengetahuan. “Saya merasakan dampaknya. Saya di rumah punya usaha membuat seblak kering. Pulang dari sini termotivasi buat menyeriusi ecoprint.  Terima kasih kepada Pertagas. Sudah memberi perhatian lebih kepada warga Samboja, khususnya ibu-ibu,” kata Rika.

Sementara itu, Manager Communication Relations & CSR PT Pertamina Gas, Imam Rismanto, didampingi Analyst CSR, Yedo Kurniawan, mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan warga Samboja. Ini diinisiasi oleh Pertagas tujuannya untuk meningkatkan kreativitas masyarakat. Khususnya ecoprint dan shibori. “Targetnya ini bisa menopang untuk pengembangan dari IKN dengan adanya produk kreativitas warga. Sehingga desa ini menjadi salah satu desa tujuan untuk produk-produk kreatif dari masyarakat. Dampaknya untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Yedo.

Analyst CSR PT Pertagas, Yedo Kurniawan, mendampingi peserta saat menata letak bahan ecoprint. 

 

Dari banyaknya motif batik ecoprint di Indonesia, Pertagas dan warga Samboja ke depannya tertarik akan mengembangkan potensi daerah dengan menggunakan pewarna dari kayu ulin. “Kayu ulin menjadi tumbuhan ciri khas dari Kalimantan. Salah satunya di Samboja. Ini pasti akan menjadi daya tarik dan nilai jual yang bagus di pasaran,” ujar Yedo.

Yedo mengatakan, dari kegiatan ini, Pertagas berharap pengetahuan yang diperoleh bisa berkelanjutan. “Target kami setelah kegiatan ini akan melakukan pembinaan. Pembinaan akan dilakukan pendampingan pada tahun depan. Sehingga, selanjutnya keahlian membuat batik ecoprint dan shiburi ini tak hanya digunakan di saat ini saja,” kata Yedo.

Seluruh peserta warga Samboja juga mengaku senang dan antusias mengikuti pelatihan ini. Kegiatan-kegiatan dari Pertagas turut membantu warga mengembangkan keahlian dan kreativitas, khususnya para ibu. Tak sekadar berdiam diri di rumah menjadi ibu rumah tangga, tetapi para ibu mendapat dampak positif dan semangat menghasilkan karya. Dengan peluang membangkitkan ekonomi keluarga. (wawan lastiawan/prokal.co)

Editor : Wawan-Wawan Lastiawan
#ekonomi