SAMARINDA - Komisi II DPRD Kaltim meminta adanya audit dari Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP) secara keseluruhan terhadap PT Cahaya Fajar Kaltim (CFK).
Dengan hasil audit itu, diharapkan ditemukan data dan fakta yang jelas kondisi perusahaan tersebut. Sehingga, permasalahan untuk pembayaran piutang perusahaan itu bisa diatasi.
"Mereka kan mengajukan gugatan kepailitan. Kalau itu kepailitan, maka mereka membayar separuh (saham Perusda Kelistrikan). Yang jadi masalah ada utang belum dibayar. Nah, kita minta audit BPKP. Kalau bisa sih kita minta kembalikan saham kita (Perusda Kelistrikan). Kalau nggak, gantiin duit kalau nggak salah sebesar Rp 78 miliar," ujar Ketua Komisi II DPRD Kaltim Nidya Listiyono, Jumat 8 September 2023.
Sebelumnya Komisi II DPRD Kaltim telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Selasa 4 Juli 2023. Rapat dihadiri wakil ketua DPRD Seno Aji, rapat dipimpin Sapto Setyo Pramono anggota Komisi II dihadiri anggota Agiel Suwarno dan Komariah. Hadir pula Dirut Perusda Ketenagalistrikan Kaltim Supiansyah dan Nixson Butarbutar Direktur Operasional serta GM PT. CFK.
Dalam RDP itu terungkap PT.CFK memiliki permasalahan dengan mitra kerjasamanya PT Graha Benua Etam yang telah bergulir ke ranah hukum. Pengadilan Negeri Surabaya pada 22 Juni 2023 pun mengabulkan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU Sementara) dari PT. Graha Benua Etam (PT.GBE).
Dalam amar putusanya hakim menetapkan PT CFK dalam keadaan PKPU sementara selama 45 hari terhitung sejak tanggal putusan diucapkan.
RDP juga mengungkap terkait pelunasan deviden tahun buku 2022, Perusda Kelistrikan telah menyurati PT CFK. Namun, tidak ada jawaban tertulis, terutama sejak di pegang Dirut PT. CFK saat ini.
Komisi II DPRD Kaltim, dikatakan Nidya, akan terus memonitor kasus PT CFK yang belum bisa membayar piutang dan menyetor deviden ke Perusda Kelistrikan.
"Kita akan panggil Asisten II Pemprov Kaltim. Kita akan terus monitor. Dan kita lihat progress nya sejauh mana. Kita minta komitmen pembayaran itu. Kalau nggak kita evaluasi semua kita minta putus kontrak saja. Ngapain kita lanjutkan kalau nggak ada cuan," ujar Nidya disapa akrab Tio. (myn)
Editor : izak-Indra Zakaria