Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pembelajaran Berdiferensiasi, Kunci Berdayakan Potensi Anak

izak-Indra Zakaria • 2024-01-17 18:27:06
Workshop Pendidikan Merdeka di Era Digital digelar SMAN 2 Balikpapan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dosen Universitas Tidar DR. Ericka Darmawan
Workshop Pendidikan Merdeka di Era Digital digelar SMAN 2 Balikpapan. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dosen Universitas Tidar DR. Ericka Darmawan

BALIKPAPAN – SMAN 2 Balikpapan menjadi inspirator bagi pendidikan merdeka di era digital dengan menyelenggarakan rangkaian workshop. Bertajuk Pendidikan Merdeka di Era Digital: Strategi, Teknologi, dan Aksi Nyata. Berlokasi di Aula SMA 2 Balikpapan, Selasa (16/1).



Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama dari Dosen Universitas Tidar Magelang DR. Ericka Dharmawan S.Si, S.Pd, M.Pd. Pemateri menyampaikan tentang integrasi teknologi, strategi inovatif, dan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi. Khususnya pendidikan merdeka dengan fokus pada pembelajaran berdiferensiasi.


Dia menjelaskan, berbagai macam strategi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan unik setiap siswa. Sehingga menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Betapa penting menciptakan ruang belajar yang memahami keunikan setiap siswa tidak dapat diabaikan.


“Pembelajaran berdiferensiasi, kunci untuk memberdayakan potensi setiap anak,” katanya. Sementara itu, Kepala SMA 2 Balikpapan Dra. Ririen Friedayati mengatakan, kegiatan workshop merupakan komitmen sekolah dalam mendukung transformasi pendidikan. Terlebih pendidikan merdeka adalah panggilan untuk semua.


“Sebagai kepala sekolah, saya percaya kolaborasi antara teknologi, strategi inovatif, dan pembelajaran berdiferensiasi dapat membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan,” ungkapnya. Melalui semangat dan visi bersama, workshop ini berhasil mencapai target yang diharapkan sekolah.


Khususnya menyatukan konsep pendidikan merdeka, integrasi teknologi, strategi inovatif, dan pembelajaran berdiferensiasi. “Itu membentuk landasan kuat menuju pendidikan adaptif dan relevan di era digital yang terus berkembang,” bebernya.


Ada pun pembelajaran berdiferensiasi dilakukan dengan membuat kegiatan sangat atraktif, antusias, dan bersemangat. Misalnya melalui kegiatan bekerja kelompok. Kemudian mengerjakan lembar kerja dan presentasi tentang berbagai permasalahan pembelajaran di zaman sekarang.


“Berdiferensiasi bisa dilakukan dalam konten, proses, dan produk,” katanya. Kemudian pemberian asesmen yaitu tes dan nontes. Serta pembagian gaya belajar siswa dalam visual, auditori, dan kinestetik. Ririen menjelaskan, kelas berdiferensiasi memfasilitasi dan mengakomodasi setiap murid sesuai kebutuhannya masing-masing.


Sebab sistem pembelajaran ‘satu untuk semua’ justru akhirnya cenderung menuntut setiap murid untuk mempelajari hal yang sama dan pada waktu yang sama. “Tanpa memperhatikan bahwa kebutuhan dan kemampuan setiap individu berbeda satu sama lain,” ucapnya.


Dia menjelaskan, diferensiasi pembelajaran bukan berarti sekelompok instruksi berbeda atau lembar kerja yang berbeda untuk setiap murid. Melainkan sebagai strategi mengajar guru agar dapat memfasilitasi kebutuhan setiap murid. “Sehingga setiap murid mengalami pengalaman sukses dalam proses belajar masing-masing,” ujarnya.


Ada pun kegiatan workshop ini berlangsung selama tiga hari yakni 16-18 Januari. Selain mendengar pemaparan narasumber dari Universitas Tidar, ada pemaparan materi lainnya. Mulai dari diskusi pembelajaran Kurikulum Merdeka dan pembelajaran berdiferensiasi.


Lalu guru mengisi LK evaluasi diri masing-masing individu guru atau LK kompetensi guru. Selanjutnya materi dan diskusi implementasi pembelajaran berdiferensiasi. “Guru dalam kelompok mengisi LK ruang kolaborasi lingkungan belajar. Guru dalam kelompok mendesain pembelajaran berdiferensiasi model two stay two stray (TSTS),” tutupnya.


DINA ANGELINA 


dinaangelina6@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria