Kasus Diare di PPU Naik, Juli Tembus 361 Penderita

Wawan • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 17:45 WIB
Sri Wiyani
Sri Wiyani 
 

PROKAL.co, PENAJAM- Kasus diare di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU mencatat sebanyak 2.084 kasus diare sepanjang Januari hingga Juli 2026, dengan lonjakan paling tinggi terjadi pada Juli.

Data Dinkes PPU menunjukkan jumlah penderita diare pada Juli mencapai 361 kasus. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan enam bulan sebelumnya dan memperlihatkan peningkatan dalam tiga bulan terakhir.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes PPU, Sri Wiyani, mengatakan kasus diare ditemukan pada berbagai kelompok usia. Mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa tercatat mengalami gangguan kesehatan tersebut.

“Total kasus diare yang tercatat sejak Januari sampai Juli 2026 sebanyak 2.084 kasus. Penderitanya berasal dari berbagai kelompok umur, baik balita, anak-anak maupun orang dewasa,” kata Sri Wiyani, Senin (7/9/2026).

Jika dirinci berdasarkan bulan, kasus diare di PPU tercatat sebanyak 345 kasus pada Januari, kemudian turun menjadi 254 kasus pada Februari dan kembali turun menjadi 214 kasus pada Maret.

Memasuki April, kasus kembali meningkat menjadi 342 penderita. Angka tersebut sempat turun menjadi 253 kasus pada Mei, sebelum kembali naik menjadi 315 kasus pada Juni dan mencapai 361 kasus pada Juli.

Kenaikan dalam dua bulan terakhir menjadi perhatian Dinkes PPU. Dari 253 kasus pada Mei, jumlah penderita bertambah menjadi 315 kasus pada Juni atau meningkat 62 kasus. Pada Juli, kasus kembali bertambah menjadi 361 penderita.

Sri mengatakan munculnya kasus diare di masyarakat dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya berkaitan dengan kebersihan makanan dan lingkungan yang kurang terjaga.

“Pemicunya bisa bermacam-macam, mulai dari higienitas makanan yang kurang baik, gangguan pencernaan dan keracunan, sampai infeksi yang disebabkan rotavirus maupun bakteri seperti Salmonella,” jelasnya.

Meski jumlah kasus menunjukkan peningkatan, Dinkes PPU memastikan hingga saat ini belum menerima laporan kematian yang berkaitan dengan kasus diare tersebut.

Sebagian besar pasien yang mendapatkan penanganan mengalami diare dengan gejala ringan dan tidak disertai dehidrasi. Namun, Dinkes menemukan satu pasien berusia di atas lima tahun yang mengalami indikasi dehidrasi berat.

Sementara itu, belum ditemukan kasus dehidrasi berat pada kelompok balita berdasarkan data yang dihimpun hingga Juli 2026.

Dinkes PPU tetap melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien di puskesmas maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Salah satu perhatian utama adalah memastikan ketersediaan logistik medis tetap mencukupi.

Sri mengatakan persediaan untuk kebutuhan penanganan pasien diare saat ini masih tersedia dan dinilai mampu mendukung pelayanan di fasilitas kesehatan.

Dalam penanganan awal, pasien diare mendapatkan terapi untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Pemberian cairan menjadi bagian penting, terutama ketika pasien mengalami kehilangan cairan akibat buang air besar secara terus-menerus.

“Penanganan utamanya adalah mencegah pasien mengalami dehidrasi. Karena itu, oralit diberikan untuk mengganti cairan yang hilang, sementara zinc juga diberikan untuk membantu proses pemulihan saluran pencernaan,” pungkas Sri.

Dinkes PPU juga mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kebersihan makanan dan minuman serta menjaga pola hidup bersih dan sehat sebagai bagian dari upaya mencegah penularan maupun munculnya kasus diare. (kim/adv)

Editor : Wawan
ADV PEMKAB PPU pemkab ppu