PROKAL.co, PENAJAM — Ancaman penurunan kualitas air selama musim kemarau membuat Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengambil langkah antisipasi. Para pembudidaya ikan diminta menunda penebaran benih baru hingga kondisi cuaca kembali mendukung kegiatan budidaya.
Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada pengelola kolam tanah yang dinilai memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap perubahan suhu, penyusutan volume air, dan penurunan kualitas air selama musim kemarau.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan Diskan PPU, Musakkar Mulyadi, mengatakan imbauan telah disampaikan kepada para pembudidaya sejak memasuki masa peralihan musim.
Menurutnya, kondisi kemarau dapat memberikan tekanan cukup besar terhadap lingkungan kolam, terutama ketika volume air terus berkurang.
“Ketika kemarau datang, dampaknya cukup terasa terhadap kegiatan budidaya, khususnya kolam tanah yang memang lebih rentan. Karena itu, sebelum kemarau mencapai puncaknya, kami sudah menyampaikan imbauan kepada para pembudidaya melalui grup komunikasi,” ujar Musakkar, Jumat (4/9/2026).
Imbauan penundaan tebar benih tersebut berlaku bagi pembudidaya ikan air tawar maupun air payau. Diskan PPU meminta pelaku usaha memperhitungkan kondisi lingkungan kolam sebelum kembali memulai siklus budidaya.
Musakkar menjelaskan, salah satu persoalan yang perlu diantisipasi saat kemarau adalah menyusutnya volume air secara signifikan. Ketika jumlah air berkurang, kualitas air di kolam juga berpotensi mengalami penurunan.
Perubahan kondisi tersebut dapat menyebabkan suhu air meningkat dan kadar oksigen mengalami fluktuasi. Situasi itu menjadi semakin berisiko apabila jumlah benih yang ditebar terlalu padat.
“Kalau volume air turun cukup drastis, kualitas air juga ikut terpengaruh. Suhu bisa meningkat dan kadar oksigen berfluktuasi. Kondisi seperti ini cukup berbahaya bagi benih yang masih muda, terlebih kalau padat tebarnya tidak dikendalikan,” jelasnya.
Menurut Musakkar, tekanan lingkungan tersebut berpotensi menyebabkan tingkat kematian benih meningkat. Dalam kondisi tertentu, risiko tersebut bahkan dapat berkembang menjadi kematian dalam jumlah besar.
Karena itu, Diskan PPU menyarankan pembudidaya tidak memaksakan siklus produksi baru selama kondisi air belum memungkinkan.
“Untuk sementara, penebaran benih baru sebaiknya ditunda. Kami menyarankan pembudidaya menunggu sampai musim penghujan tiba, ketika kondisi air lebih mendukung untuk memulai kembali budidaya,” katanya.
Meski demikian, kondisi kemarau saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan ikan di pasaran PPU. Diskan memastikan produksi dan pasokan ikan masyarakat masih relatif stabil.
Salah satu faktor yang membuat pasokan tetap terjaga adalah siklus budidaya sebagian pembudidaya yang telah memasuki masa panen sebelum dampak kemarau mencapai puncaknya.
Kondisi tersebut membuat ikan hasil budidaya masih dapat masuk ke pasar meskipun penebaran benih baru mulai dikurangi.
Diskan PPU berharap strategi tersebut dapat membantu pembudidaya menjaga keberlangsungan usaha sekaligus menghindari kerugian akibat kematian benih selama kondisi cuaca ekstrem.
Musakkar mengatakan pembudidaya dapat memanfaatkan masa tunggu tersebut untuk melakukan persiapan kolam dan mengevaluasi siklus produksi sebelum kembali menebar benih.
“Dengan panen yang dilakukan pada waktu yang tepat dan menunda penebaran benih baru, risiko kerugian bisa ditekan. Setelah kondisi cuaca dan kualitas air kembali mendukung, pembudidaya dapat memulai siklus produksi berikutnya dengan lebih optimal,” pungkasnya. (kim/adv)
Editor : Wawan