Kasus ISPA di PPU Tembus 11.412 Kasus, Balita Jadi Perhatian Khusus

Wawan • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 17:24 WIB
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes PPU, Sri Wiyani
Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes PPU, Sri Wiyani

 

PROKAL.co, PENAJAM- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat ribuan warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang 2026. Hingga 24 Agustus, akumulasi kasus yang tercatat di seluruh wilayah PPU mencapai 11.412 kasus.

Kondisi musim kemarau yang disertai meningkatnya potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan paparan debu dan asap di lingkungan masyarakat.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes PPU, Sri Wiyani, mengatakan kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia. Namun, jumlah penderita cukup banyak berasal dari kelompok dewasa dan balita.

“Dari keseluruhan kasus yang kami catat sampai 24 Agustus, kelompok dewasa dan balita termasuk yang paling banyak terdampak. Karena itu, pemantauan tetap dilakukan terhadap seluruh kelompok usia,” ujar Sri saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (30/8/2026).

Berdasarkan catatan Dinkes PPU, dari total 11.412 kasus tersebut, sebanyak 4.484 kasus terjadi pada kelompok dewasa. Sementara kasus ISPA pada balita mencapai 2.861 kasus.

Selain ISPA, Dinkes juga memberikan perhatian terhadap potensi pneumonia pada anak di bawah lima tahun. Dari total 284 kasus pneumonia yang tercatat, sebanyak 65 kasus terjadi pada balita.

Sri mengatakan pneumonia menjadi salah satu kondisi yang harus segera mendapatkan penanganan karena dapat berkembang menjadi infeksi serius pada paru-paru.

“Balita menjadi kelompok yang harus mendapat perhatian lebih, terutama ketika ISPA berkembang ke arah pneumonia. Dari 284 kasus pneumonia yang tercatat, terdapat 65 kasus pada balita,” jelasnya.

Menurutnya, orang tua perlu memperhatikan gejala gangguan pernapasan sejak awal. Keluhan seperti batuk dan pilek yang tidak kunjung membaik perlu diperiksakan agar kondisi pasien dapat segera diketahui dan ditangani.

Dari pemetaan yang dilakukan Dinkes PPU, kasus ISPA paling banyak ditemukan di wilayah pelayanan Puskesmas Penajam dan Puskesmas Petung.

Tingginya angka di dua wilayah tersebut antara lain berkaitan dengan jumlah penduduk yang relatif lebih padat dibandingkan sejumlah wilayah lainnya.

Selain faktor penyakit, kondisi lingkungan selama musim kemarau turut menjadi perhatian. Minimnya hujan menyebabkan debu dan partikel dari lingkungan lebih mudah bertahan di udara.

Paparan asap akibat Karhutla juga menjadi salah satu faktor yang diwaspadai. Selain itu, asap pembakaran sampah rumah tangga serta asap rokok juga dapat memperburuk kondisi udara dan berpengaruh terhadap kesehatan saluran pernapasan.

Dinkes PPU menyebutkan bahwa hingga saat ini data resmi hasil pengukuran kualitas udara dari lembaga berwenang belum diterima. Namun, berdasarkan pengamatan kondisi lapangan dan perubahan yang terlihat secara kasatmata, kualitas udara dinilai mengalami penurunan.

“Untuk hasil pengukuran kualitas udara secara resmi kami masih menunggu data dari lembaga yang berwenang. Tetapi dari kondisi lapangan, terutama secara visual, memang terlihat adanya penurunan kualitas udara,” ungkap Sri.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes PPU meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Puskesmas diminta terus memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah masing-masing.

Masyarakat juga diminta melakukan perlindungan diri, terutama ketika berada di lingkungan yang terpapar debu maupun asap.

Sri mengingatkan warga untuk menjaga kondisi tubuh dan tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan pada saluran pernapasan.

“Yang paling penting masyarakat menjaga daya tahan tubuh dan melakukan perlindungan diri. Jika muncul keluhan atau gangguan pernapasan, jangan menunggu kondisi memburuk, segera periksa ke Puskesmas terdekat,” pungkasnya.

Dengan jumlah kasus yang telah mencapai lebih dari 11 ribu hingga 24 Agustus, Dinkes PPU terus mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, khususnya terhadap paparan asap dan kondisi lingkungan yang berpotensi memperburuk gangguan saluran pernapasan. (kim/adv)

Editor : Wawan
ADV PEMKAB PPU pemkab ppu