Siaga Hingga Akhir Tahun, BPBD PPU Pastikan Dukungan Operasional Tim Pemadam Terpenuhi

Wawan • Dipublikasikan Rabu, 21 Oktober 2026 | 20:44 WIB
PADAMKAN: Personel BPBD PPU berjibaku memadamkan api karhutla di wilayah Petung, Penajam, PPU.
PADAMKAN: Personel BPBD PPU berjibaku memadamkan api karhutla di wilayah Petung, Penajam, PPU.

 

PROKAL.co, PENAJAM-Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini memasuki babak krusial. Perjuangan tanpa henti selama 3 bulan 20 hari tidak hanya menguras stamina ratusan petugas lapangan, tetapi juga memicu lonjakan kebutuhan dana operasional darurat.

Pemerintah setempat resmi memperpanjang Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi hingga akhir Desember 2026. Untuk menopang kerja tim di titik api, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU mengoptimalkan suntikan Belanja Tidak Terduga (BTT).

Kepala Pelaksana Harian BPBD PPU, Nurlaila, mengungkapkan bahwa skema penyaluran anggaran darurat ini dikucurkan bertahap sesuai dinamika lapangan dan kapasitas fiskal daerah. Setelah alokasi awal Rp107 juta terserap penuh, BPBD kembali mengajukan tambahan biaya.

"Pengajuan BTT terbaru kami sebesar Rp350 juta. Jumat pekan lalu baru cair separuh atau Rp175 juta. Anggaran ini langsung digunakan untuk merembes atau membayar tagihan operasional tiga minggu sebelumnya, seperti bahan bakar minyak (BBM), makanan dan minuman (mamin) petugas lapangan, hingga perbaikan peralatan," ujar Lala, sapaan akrab Nurlaila.

Lala menegaskan, pihaknya siap mengajukan permohonan dana tambahan bila eskalasi kebakaran masih membutuhkan sokongan hingga tutup tahun. Pasalnya, beban penanganan karhutla tahun ini tergolong masif.

Data rekapitulasi BPBD PPU periode Januari hingga 17 Oktober 2026 mencatat sebanyak 273 kejadian karhutla. Amukan api telah melahap total luasan lahan terdampak hingga mencapai 642 hektare.

"Peningkatan intensitas karhutla mulai terjadi sejak Juli, kemudian mencapai puncaknya pada Agustus dan September. Memasuki Oktober, kondisi cuaca dinilai cenderung lebih ekstrem dan memerlukan kewaspadaan tinggi," ungkap Lala.

Rutinitas maraton memadamkan api selama hampir empat bulan membuat fisik para petugas terancam tumbang. Personel lapangan mulai memerlukan rotasi istirahat yang cukup serta pasokan vitamin tambahan guna menjaga daya tahan tubuh.

"Kebakaran hutan dan lahan ini bencana yang benar-benar menguji fisik dan mental petugas. Ancaman di lapangan tidak main-main, mulai dari suhu panas, asap, debu, paparan api, angin kencang, hingga ancaman keberadaan satwa liar seperti ular," jelasnya.

Dalam sejumlah insiden kritis, tim pemadam terpaksa bermalam di area terbuka hingga pagi hari demi mengunci bara api agar tidak meluas kembali. Dedikasi tersebut menuai apresiasi tinggi di tengah keterbatasan sarana penunjang.

"Pemenuhan tugas dan tanggung jawab pejabat daerah maupun pejabat kewilayahan justru diuji dan diaktualisasikan dalam kondisi seperti ini. Seperti yang disampaikan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) PPU, Tohar, bahwa kerja keras seluruh tim di lapangan menjadi bagian dari pengabdian dan ibadah kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa," kata Lala.(rie/adv)

Editor : Wawan
ADV PEMKAB PPU pemkab ppu