Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kilas Balik Pernikahan Mubarakah Ponpes Hidayatullah 11 Tahun Lalu; Berawal dari Keresahan Sang Pendiri  

Faroq Zamzami • 2024-10-30 09:51:49
ILMU AGAMA: Ponpes Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan.
ILMU AGAMA: Ponpes Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan.
AGENDA: Tampilan undangan Nikah Mubarakah.
AGENDA: Tampilan undangan Nikah Mubarakah.

PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan, kembali menggelar pernikahan mubarakah yang diikuti para santri dan santriwati ponpes tersebut. 

Ajang ini akan dihelat pada Minggu (3/11/2024). Direncanakan ada 21 pasangan yang mengikuti nikah mubarakah ini. 

Prokal.co akan menerbitkan ulang tulisan tentang pernikahan mubarakah yang pernah tayang sebelas tahun lalu di Kaltim Post (grup Prokal.Co). Tulisan yang dibuat Faroq Zamzami, wartawan Kaltim Post dan Prokal.co ini tidak diperbaharui, ditayangkan seperti layaknya saat terbit di edisi cetak Kaltim Post pada 25, 26, 27 Juli 2013. Berikut tulisan pertama.

 

Ungkapan Jawa yang kesohor, ”Witing trisno jalaran soko kulino (cinta timbul karena terbiasa)” tak berlaku di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim).  

DI ujung timur Kota Minyak -- sebutan Balikpapan, Kaltim -- Ponpes Hidayatullah berdiri. Dari pusat kota berjarak kurang lebih 27 kilometer. Sekira 45 menit menyusuri jalan, yang semakin ke timur semakin mengecil.

Tak selalu dua jalur lengkap dengan trotoar setinggi satu kilan lebih orang dewasa seperti di pusat kota. Jalan menjadi menyempit saat menuju kawasan ini.

Akses dua jalur hanya sampai depan kantor PT OMS Oilfield Services, Jalan Mulawarman, yang masih di Kecamatan Balikpapan Selatan. Selebihnya sisa satu jalur dua lajur tanpa median jalan.  

Ponpes Hidayatullah berdiri megah di kelurahan terujung Balikpapan,  Teritip. 

Media ini bertandang ke sana satu hari pertengahan Juli 2013. Tempat santri menuntut ilmu agama ini berbatasan dengan pesisir-nya Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tepatnya di Kecamatan Samboja.

Dibanding nama kelurahannya, Teritip, Hidayatullah lebih identik dengan kawasan tempatnya berdiri, Gunung Tembak. Sebut saja Gunung Tembak, maka akan melekat nama Hidayatullah. Atau sebaliknya.

Posisi pesantren di sisi kanan Jalan Mulawarman yang agak menanjak dari arah Balikpapan Selatan. Pagarnya yang tinggi baru kena sentuhan renovasi Juni lalu, jelang Silaturahmi Nasional Hidayatullah di pesantren ini pada 2013.

Dari depan, di sisi kanan pintu masuk pagar, Masjid Ar-Riyadh jadi penanda kompleks pesantren yang berdiri di atas tanah wakaf H Darman seluas tiga hektare itu.

Selain masjid, di bagian depan pesantren ada Sakinah Mart dan kantor. Agak ke dalam, berdiri asrama santri putra dan putri yang terpisah jauh, ruang kelas, hingga kampus.

Balikpapan Timur tak hanya identik dengan kehadiran Hidayatullah sejak lama. Kecamatan ini, dan sebagian Balikpapan Selatan serta Balikpapan Utara sejak dulu juga dikenal sebagai pusat industri yang menggeliat. 

Di wilayah ini berdiri pabrik-pabrik besar nasional hingga kelas dunia. Dari alat berat, otomotif, hingga hasil laut.

Ada PAMA Persada, Ossiana, PT Leighton Contractors, PT Elnusa Perkasa, Renault Trucks, hingga United Tractors. Kawasan yang bagai gula bagi pendatang dari luar daerah, juga luar negeri.

Di beberapa sela kantor perusahaan asing, berdiri kompleks permukiman ekspatriat. Kawasan perumahan yang umumnya terintegrasi dengan sarana pendidikan bagi anak-anak bule. Sebut saja Batakan Housing Complex.

Ada juga Australian International School (AIS)  di kompleks ini. Atau masih di selatan Balikpapan, ada Vilabeta Residence dengan fasilitas Prabu International School.

Bagian timur kota tak hanya mengecap label kawasan industri. Juga jadi pusat wisata pantainya Kota Beriman --sebutan lain Balikpapan. Ada Pantai Segara Sari di Manggar milik pemerintah daerah.

Masih satu barisan dengan Pantai Manggar ada Pantai Lamaru milik pengusaha lokal yang terkenal, Jos Sutomo.

Tak hanya bibir pantai dan laut, di Lamaru juga ada wisata sejarah, Makam Jepang. Sedangkan di Kelurahan Teritip ada wahana wisata lain lagi, penangkaran buaya.

Geliat kemajuan di timur kota dan Balikpapan secara umum sejak dulu itulah yang membuat KH Abdullah Said (almarhum), pendiri Ponpes Hidayatullah, khawatir. Dia bimbang dengan masa depan santri-santrinya di tengah gempuran kemajuan zaman. Saat itu, tahun 1970-an.

AWAL MULA

Satu Senin tahun 1976. Pagi yang masih muda saat fajar mulai bangkit. Awal hari yang cerah tak dapat  menyembunyikan gurat resah di wajah Abdullah. Dia gusar. Ada galau menyelip. Air muka khawatir tak dapat ditutupi saat ustaz kharismatik ini berdiri di hadapan santri-santrinya. 

Kekhawatiran akan masa depan anak didiknya. Santri sang ustaz masa itu memang masih hitungan jari. Belum besar seperti saat ini yang nyaris menyentuh seribu orang. Angka itu pun hanya santri di Balikpapan yang merupakan pusat Hidayatullah.

Dalam perkembangannya, Hidayatullah menyebar di beberapa daerah. Status mereka cabang. Seperti Ponpes Hidayatullah di Sulawesi, Jakarta, Jawa Timur, hingga Papua. Gunung Tembak ditetapkan sebagai Wilayah Khusus Pusat (WKP) Hidayatullah pada 1998.

Saat ini, santri yang mondok ada 800-an. Jumlah terbanyak adalah santri putri, yang lebih setengahnya, 450 orang. Sisanya santri putra. Awal hadir, Hidayatullah juga belum berbentuk sekolah umum berjenjang. Masih pendidikan diniah (agama).

Kini, semua level pendidikan ada di pesantren ini. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak, SMP, hingga perguruan tinggi. Namun, yang mondok di asrama hanya siswa SMP dan SMA serta mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah.

Tiap Senin pagi, pada masa-masa awal pesantren berdiri, Ustaz  Abdullah memang biasa mengumpulkan para santri. Momen awal minggu itu dijadikan untuk memberikan pencerahan dan pandangan keagamaan kepada anak didiknya. 

Salah satu yang paling intens disampaikan Ustaz Abdullah pada 1976 itu adalah bagaimana santri-santrinya tetap terjaga dalam pergaulan.

“Saat itu saja (1976), Ustaz Abdullah Said sudah menyimpan kekhawatiran akan santri-santrinya, khususnya dalam hal pernikahan,” kata salah seorang ustaz di Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, menceritakan masa itu, saat bincang di Kantor Pusat Hidayatullah, 16 Juni 2013.

“Islam itu tak sekadar cerita, tapi juga harus diwujudkan dalam alam nyata. Tak hanya dengan ilmu tapi juga dengan amal,” kalimat ini salah satu yang disampaikan Abdullah Said, kepada santrinya masa itu, seperti diutarakan Ghofur. 

Menurut Pembantu Ketua I STIS Hidayatullah ini, kekhawatiran pendiri pesantren saat itu selalu disampaikan kepada santri tiap ada kesempatan. Saat usai salat ada pertemuan kecil di masjid, atau di sela-sela makan bersama.        

"Pendiri (Abdullah Said) dulu ingin santri-santrinya jangan sampai ikut tergerus kemajuan zaman yang memang sudah melanda Balikpapan. Dulu saja beliau sudah ada rasa khawatir dengan kemajuan zaman,” jelasnya.

Apalagi, masa itu banyak muda-mudi luar kota yang datang sebagai perantau untuk mengadu nasib di perusahaan-perusahaan besar. Perkembangan zaman ini tentu akan membawa pengaruh terhadap kondisi masyarakat.

Abdullah Said ingin agar para santrinya tetap menjaga keislaman, khususnya dalam pernikahan. Dia khawatir santrinya justru menikah dengan orang yang punya pemahaman agama dangkal, apalagi tak seiman.

Dia pun sering memberikan pemahaman untuk menikahkan santrinya dengan cara Islami. Tanpa pacaran! Substansi itulah yang kerap disampaikan kepada santri Abdullah saat Senin pagi, awal membuka hari medio 1976.

“Kampanye” ini terus diserukan. Saat “sosialisasi” dinilai sudah matang,  Ustaz Abdullah Said mulai menikahkan muridnya yang sama-sama dari Hidayatullah. Satu pasangan, dua pasangan.

Tercatatlah sebagai tonggak awal alias angkatan pertama pernikahan massal ala Hidayatullah yang kesohor sampai sekarang, adalah Ustaz Abdul Qadir Jailani  bersama pasangannya serta Ustaz Sarbini dan pasangannya.

Tak ada yang menolak dengan rencana pendiri pesantren untuk memulai tradisi nikah massal ini. Bahkan, Ustaz Abdul Qadir Zailani, ditemui setelah prosesi nikah massal, 16 Juni 2013, mengatakan,“Dulu itu kami sangat patuh dengan Ustaz Abdullah Said. Jangankan disuruh nikah, disuruh pergi perang pun kami tidak menolak. Apalagi ini menikah. Menikah ‘kan enak.”

Dia tersenyum saat menutup kalimatnya yang bernada canda itu. Abdul Qadir adalah perintis dan kader awal pondok pesantren. Saat ini, versi Hidayatullah, setidaknya mereka sudah menikahkan hampir seribu pasangan sejak angkatan pertama 1976.

Tak hanya santri yang dipersatukan dengan nikah mubarakah ini. Dari 100 guru yang mengajar sekarang, 60 persennya dulu peserta nikah massal. “Guru-guru yang lain (tidak mengikuti nikah mubarakah), ada yang memang sudah menikah duluan sebelum masuk sini (Hidayatullah),” kata Ghofur. (far)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Faroq Zamzami
#balikpapan #kilas balik #pendiri #ponpes #nikah #santri #hidayatullah