Meski belum ada laporan kasus rabies pada manusia selama satu dekade terakhir di Balikpapan, tingginya angka gigitan hewan penular rabies (HPR) menjadi perhatian serius pemerintah kota. Dalam talk show yang disiarkan Radio KPFM Balikpapan, Rabu 28 Mei 2025, Dinas Kesehatan Kota (DKK) bersama Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DP3) Balikpapan memaparkan langkah antisipasi serta potensi risiko yang dihadapi warga.
Adminkes Ahli Muda DKK Balikpapan, dr. I Dewa Gede Dony Lesmana, menegaskan bahwa meski belum ada kasus rabies pada manusia, status Balikpapan tetap rawan.
“Hingga April 2025, kami mencatat 361 kasus gigitan hewan penular rabies. Jika tidak ditangani dengan benar, ini bisa berpotensi menjadi wabah,” ujarnya.
drg. Ayu Widya Primanda, Medik Veteriner Muda DP3 Balikpapan menyebut bahwa, hewan penular rabies (HPR) umumnya adalah anjing, kucing, dan kera.
“Rabies bisa menyerang semua hewan berdarah panas, tapi yang paling sering menularkan lewat gigitan hanya tiga itu. Di tahun 2023, kami mencatat dua kasus positif rabies pada kucing, masing-masing di Kelurahan Gunung Bahagia dan Baru Ilir,” ujarnya.
Dewa menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan tujuh Rabies Center di puskesmas 24 jam untuk menangani korban gigitan. Lokasinya antara lain di Puskesmas Klandasan Ilir, Sepinggan, Manggar Baru, Baru Ulu, Mekar Sari, Karang Joang, dan Kariangau.
“Dinas Kesehatan menangani sisi manusianya, sedangkan DP3 mengurus hewannya. Komunikasi kami berjalan intensif agar penanganannya komprehensif,” tambah Dewa.
Ayu menyebutkan, gejala rabies pada hewan terdiri dari tiga fase, diantaranya fase prodromal di mana perubahan perilaku, dari jinak jadi agresif. Kedua fase eksitasi, hewan menjadi sangat galak dan menggigit benda bergerak secara acak.
Dan ketiga fase paralisis, di mana hewan lumpuh, tidak bisa bergerak, air liur berlebihan, dan berujung kematian dalam waktu rata-rata 10 hari.
Dewa melanjutkan, pada manusia gejalanya juga berawal seperti flu biasa setelah masa inkubasi 1–7 hari. Namun bila gejala neurologis sudah muncul seperti kejang atau kelumpuhan peluang sembuh hampir nihil. “Itulah sebabnya vaksinasi setelah gigitan sangat penting. Kita harus cegah sebelum gejala saraf muncul,” tegasnya.
Kedua narasumber sepakat bahwa meski belum ditemukan rabies pada manusia di Balikpapan, ancaman tetap nyata. Edukasi, vaksinasi hewan peliharaan, serta penanganan cepat terhadap gigitan menjadi kunci untuk mencegah kemunculan wabah. (*)
Editor : Indra Zakaria