BALIKPAPAN – Banjir kembali melanda sejumlah titik di Kota Balikpapan, Kamis (19/6/2025). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan mengungkapkan bahwa curah hujan tinggi disertai kondisi topografi berbukit serta minimnya lahan resapan menjadi faktor utama penyebab banjir di kota ini.
Kepala BMKG Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menjelaskan bahwa Balikpapan saat ini masih berada dalam masa transisi dari musim hujan menuju kemarau. Meski begitu, hujan lebat masih kerap terjadi di periode peralihan ini.
“Balikpapan memang mengalami dua kali puncak hujan dalam setahun, Januari dan Juni. Setelah puncak ini, baru beralih ke musim kemarau,” ungkap Kukuh. Menurut data BMKG, hujan yang terjadi sejak Kamis pagi tercatat mencapai intensitas 54 milimeter dalam sehari. Jumlah ini sudah masuk kategori lebat dan cukup untuk memicu genangan, terlebih bila sistem drainase tidak mampu mengalirkan air secara cepat.
“Hujan tadi melanda hampir seluruh Balikpapan hingga Samboja dan Penajam. Siang bergeser ke Samarinda dan Kutim. Ini pola lokal yang biasa terjadi di Kalimantan Timur,” jelasnya. Selain curah hujan, faktor topografi berbukit dan padatnya permukiman memperparah banjir. Minimnya area resapan air menyebabkan air hujan mengalir langsung ke jalanan tanpa sempat meresap ke tanah.
“Wilayah Balikpapan berbukit, sementara sistem peresapan sangat terbatas. Drainase juga belum optimal meski terus diperbaiki pemerintah,” ujar Kukuh. Ia memastikan banjir ini tak terkait dengan pasang laut. Kawasan seperti Jalan MT Haryono yang terendam justru berada di dataran tinggi, jauh dari pantai.
“Pasang laut memang tinggi pagi tadi, tapi tidak mempengaruhi banjir di MT Haryono. Daerah pesisir seperti Batakan baru terdampak pasut,” katanya. Meski demikian, Kukuh menegaskan air banjir di Balikpapan relatif cepat surut, seiring aliran air yang menuju laut saat pasang surut mereda. “Biasanya beberapa jam setelah hujan berhenti air surut total,” tutupnya.(*)
Editor : Indra Zakaria