BALIKPAPAN – Selain mengandalkan proyek bendungan skala besar yang membutuhkan waktu konstruksi lama, Pemerintah Kota Balikpapan juga bergerak cepat dengan menjalankan sejumlah program inovatif dan solusi alternatif sepanjang tahun 2026. Langkah ini diambil untuk memberikan dampak jangka pendek bagi warga yang masih kesulitan mengakses air bersih.
Salah satu fokus utama adalah optimalisasi sumur dalam. Melalui Dinas Pekerjaan Umum, Pemkot mengalokasikan anggaran khusus untuk perluasan jaringan perpipaan yang tersambung ke sumur-sumur hibah. Tak hanya itu, pengkajian mendalam mengenai kapasitas sumur dalam juga terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan air tanah tetap berkelanjutan tanpa merusak ekosistem lingkungan.
Terobosan lain yang kini mulai didorong adalah pemanfaatan air hujan. Pemkot Balikpapan mulai membangun instalasi pemanenan air hujan di 19 unit sebagai upaya diversifikasi sumber air di tingkat komunitas. Langkah ini diharapkan dapat menjadi cadangan air bagi kebutuhan non-konsumsi, sehingga beban distribusi air perpipaan dari PTMB dapat berkurang.
Mengenai wacana pengolahan air laut atau desalinasi, Kepala Bappeda-Litbang Kota Balikpapan, Murni, memberikan penjelasan bahwa opsi tersebut sempat dikaji secara serius. Namun, untuk saat ini rencana desalinasi harus diparkir sementara karena membutuhkan nilai investasi yang sangat besar, yang dikhawatirkan akan berdampak pada tingginya tarif air di tingkat konsumen.
Murni menegaskan bahwa penyediaan air bersih di Kota Beriman membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat. Perencanaan yang matang serta integrasi antara rencana bisnis operator dengan dukungan dana dari pemerintah pusat menjadi kunci utama. Harapannya, dengan kombinasi antara proyek strategis nasional dan inovasi lokal, krisis air di Balikpapan dapat teratasi secara permanen dan berkelanjutan. (*)
Editor : Indra Zakaria