BALIKPAPAN – Di balik proses hukum kasus pembunuhan yang mengguncang kawasan Gunung Bugis, tersimpan duka yang teramat dalam dari sebuah keluarga kecil. Ayu, istri almarhum Muhammad Manzah, kini harus berjuang menata hidup bersama buah hatinya yang baru berusia tiga tahun. Kepergian sang suami bukan hanya meninggalkan status janda baginya, tetapi juga menyisakan ruang hampa bagi seorang anak kecil yang terus menanyakan keberadaan ayahnya.
Pertemuan terakhir antara ayah dan anak itu terjadi pada 10 Januari lalu, tepat di hari ulang tahun sang anak. Momen bahagia tersebut menjadi kenangan terakhir yang tak pernah disangka akan berakhir tragis hanya sepekan kemudian. Kehadiran buah hati ini merupakan penantian panjang selama sembilan tahun bagi pasangan Ayu dan almarhum, namun kebersamaan yang diperjuangkan dengan sabar itu justru diputus paksa oleh tindak kekerasan.
Ayu mengaku sangat terpukul karena tidak pernah menduga suaminya memiliki masalah dengan orang lain. Selama ini, almarhum dikenal sebagai sosok yang tidak pernah bercerita mengenai adanya konflik atau perselisihan. Kabar kematian suaminya pun baru diterima Ayu saat dirinya sedang bekerja di kawasan Sepaku, Penajam Paser Utara. Kabar duka tersebut datang bak petir di siang bolong, memberitahukan bahwa belahan jiwanya telah tiada sebelum ia sempat mendampingi di saat-saat terakhir.
Terkait desas-desus mengenai adanya konflik yang melibatkan pelaku sekitar dua minggu sebelum kejadian, Ayu menegaskan bahwa pihak keluarga sama sekali tidak mengetahui persoalan tersebut. Fokusnya kini bukan lagi mencari tahu akar masalah yang terkubur, melainkan memastikan bahwa proses hukum berjalan dengan transparan dan memihak pada kebenaran.
Dengan suara bergetar namun penuh ketegasan, Ayu menaruh harapan besar pada pundak aparat penegak hukum. Baginya, keadilan adalah harga mati. Ia menuntut agar pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal dan seadil-adilnya atas perbuatannya yang telah merampas figur ayah dari hidup anaknya yang masih balita. (*)
Editor : Indra Zakaria