BALIKPAPAN — Pesatnya pembangunan gedung bertingkat di Kota Beriman rupanya tidak dibarengi dengan kesiapan alat pemadam kebakaran khusus ketinggian. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan kini tengah menghadapi persoalan serius terkait keandalan armada operasional mereka, di mana satu-satunya kendaraan sky lift yang dimiliki saat ini sudah memasuki usia tua dan mengalami penurunan performa.
Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengungkapkan bahwa unit vital tersebut telah melampaui masa operasional satu dekade. Beberapa komponen krusial, terutama pada sistem hidrolik, mulai sering mengalami kendala teknis yang berpotensi menghambat keandalan petugas saat harus melakukan operasi darurat di lapangan. Padahal, usulan perbaikan sudah diajukan sejak tahun lalu, namun harus tertunda akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Keberadaan sky lift merupakan instrumen mati yang tidak bisa ditawar dalam menangani kebakaran di gedung-gedung tinggi. Tanpa dukungan alat ini, petugas pemadam akan mengalami kesulitan besar untuk menjangkau titik api di lantai atas maupun melakukan evakuasi penyelamatan secara cepat. Keterbatasan jangkauan armada standar saat ini dikhawatirkan dapat memperlambat penanganan dan meningkatkan risiko keselamatan bagi penghuni gedung maupun personel pemadam itu sendiri.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD Balikpapan telah mengusulkan pengadaan unit baru guna memperkuat kapasitas respons bencana di kota ini. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya biaya pengadaan, di mana harga satu unit kendaraan dengan spesifikasi khusus tersebut diperkirakan mencapai angka Rp20 miliar hingga mendekati Rp30 miliar. Sebagai solusi, pihak BPBD tengah berupaya mencari dukungan pendanaan melalui BPBD Provinsi Kalimantan Timur agar proses pengadaan dapat segera terealisasi.
Dari aspek teknis, BPBD menilai bahwa sky lift dengan jangkauan sekitar 32 meter adalah pilihan yang paling ideal untuk kondisi geografis Balikpapan. Pertimbangan ini didasarkan pada kemampuan daya dukung jalan kota yang belum memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan dengan jangkauan lebih tinggi. Berbeda dengan kota megapolitan lainnya, penggunaan kendaraan yang terlalu besar dan berat di Balikpapan justru berisiko merusak infrastruktur aspal jalanan kota.
Harapan besar digantungkan agar penambahan armada ini dapat segera terwujud dalam waktu dekat. Di tengah tren pembangunan vertikal yang terus meningkat di Balikpapan, kemampuan untuk menjangkau titik api di ketinggian menjadi faktor penentu yang sangat krusial dalam upaya menekan angka korban jiwa serta kerugian material saat terjadi bencana kebakaran.
Editor : Indra Zakaria