Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tarif Cuci Kontainer Naik 300 Persen, ALFI Balikpapan Protes Keras: Potensi Kerugian Tembus Triliunan

Redaksi Prokal • 2026-02-16 15:00:00
Pelabuhan Semayang.
Pelabuhan Semayang.

BALIKPAPAN — Sektor logistik di Kota Balikpapan tengah bergejolak menyusul kebijakan sepihak dari tiga raksasa pelayaran yang menaikkan tarif cleaning (pembersihan) kontainer secara drastis. Kenaikan yang mencapai hingga 300 persen ini memicu protes keras dari DPC Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Balikpapan, karena dinilai tidak wajar dan berpotensi memicu kerugian ekonomi dalam skala besar.

Ketua DPC ALFI Balikpapan, Firman Tola, mengungkapkan bahwa penyesuaian tarif tersebut sangat memberatkan para pelaku usaha. Sebagai gambaran, biaya pembersihan kontainer ukuran 20 kaki yang semula hanya Rp50 ribu kini melonjak menjadi Rp180 ribu hingga Rp200 ribu. Sementara untuk kontainer ukuran 40 kaki, tarif melambung dari Rp100 ribu menjadi Rp360 ribu. Tiga perusahaan pelayaran yang menjadi sorotan dalam kebijakan ini adalah Meratus, SPIL, dan Tanto, yang merupakan pemain utama penguasa industri pelayaran di wilayah Balikpapan.

Persoalan menjadi semakin pelik karena layanan pembersihan tersebut secara fisik tidak dilakukan di Balikpapan akibat ketiadaan depo. Perusahaan pelayaran berdalih bahwa proses cleaning dikerjakan di pelabuhan asal, namun biaya tetap ditagihkan kepada pemilik kargo di Balikpapan. Firman menegaskan bahwa berdasarkan rapat anggota pada Jumat (13/2), ALFI secara bulat menolak tarif baru tersebut karena dianggap melanggar mekanisme penetapan harga yang diatur dalam Permenhub Nomor 121 Tahun 2018 dan Permenhub Nomor 59 Tahun 2021.

Dampak ekonomi dari kebijakan ini diperkirakan sangat masif. Dengan rata-rata 7.000 kontainer yang masuk ke Balikpapan setiap bulannya, kenaikan rata-rata sebesar Rp150 ribu per kontainer tersebut diprediksi akan menimbulkan pembengkakan biaya logistik hingga Rp1,05 triliun per bulan. Jika kondisi ini dibiarkan secara nasional, potensi kerugian di berbagai daerah di Indonesia bisa mencapai angka ratusan miliar hingga triliunan rupiah tiap bulannya.

ALFI Balikpapan mendesak otoritas terkait untuk segera turun tangan mencari solusi agar stabilitas peredaran logistik di pintu gerbang Kalimantan Timur ini tidak terganggu. Kenaikan biaya logistik yang tidak terkendali dikhawatirkan akan berdampak domino pada kenaikan harga barang di tingkat konsumen, yang pada akhirnya membebani daya beli masyarakat luas.(*)

Editor : Indra Zakaria