Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Makanannya Berharap Gizi, Santri Tak Pernah Keracunan  

Faroq Zamzami • 2026-02-27 10:35:47

Faroq Zamzami
Faroq Zamzami

Catatan: Faroq Zamzami

(Jurnalis Kaltim Post dan Prokal.co)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Apakah ada yang pernah mendengar santri di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Balikpapan atau di Samarinda keracunan makanan? Dalam sepuluh atau 15 tahun terakhir.

Sependek pengetahuan saya, saya tak pernah mendengar? Dan mudah-mudahan tidak ada sampai seterusnya. Aamiin…

Sejak jadi jurnalis pada 2007 hingga kini, sepertinya, kalau saya tak salah ingat, tak pernah ada kejadian begitu. Jadi tak ada berita soal itu.

Saya tak pernah menulis kasus begitu. Dan lingkaran pergaulan saya selama bertugas di Balikpapan tak pernah membahas itu.

Ketika tugas di Samarinda pun tak pernah mendengar kasus anak pondok keracunan karena menu yang dimasak pengelola. 

Ah, ada saja itu, tapi karena mainmu kurang jauh jadi tak mendengar. Ah, ada saja itu, tapi memang tak terungkap media.

Ah, ada saja itu, tapi ditutup-tutupi pengelola ponpes, dan menutupi kasusnya lebih mudah karena pondok ‘kan memang lebih tertutup dibandingkan sekolah umum? Sepertinya tidak begitu.

Buktinya, kasus asusila di sebuah ponpes di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terungkap ke media. 

Ada saja yang angkat bicara. Ada saja jalannya sehingga terungkap. Saat ini, kasusnya sudah putusan di pengadilan tingkat pertama. 

Ada juga kasus santri meninggal karena dianiaya seniornya, juga terungkap. Di Samarinda. Googling saja.

Baca Juga: Selamat Jalan, Pak Burhan…

Apalagi kalau kasus keracunan makanan. Butuh penanganan medis. Harus ke rumah sakit. Jadi banyak pihak yang tahu. 

Oke mari kita sepakati saja memang tak pernah ada kasus santri keracunan. Dan memang tak ada.  

Saya sudah Googling. Tak ada. Googel menyajikan berita lain. Kasus keracunan yang lain. Yang kita semua tahu dalam program apa. AI juga menyajikan rangkuman kejadian keracunan yang lain. 

Saya tanya Googel begini, adakah santri ponpes keracunan di Balikpapan atau di Samarinda?

Padahal, makanan di ponpes itu -- kita tidak sedang berbicara pesantren yang iuran bulanan/SPP-nya mahal ya, kita bicara pondok kebanyakan, umum, yang santrinya datang dari keluarga kelas menengah dan ada yang di bawah -- sajian menunya jauh dibanding kualitas menu makan gratis yang lagi berjalan di sekolah-sekolah saat ini, yang terjaga semua-semuanya. Higienisitas, kandungan nutrisi, kandungan vitamin, dan keseimbangan gizi. 

Menu gratis itu mencakup itu, karena sampai ada nutrisionis khusus yang memantau.  

Di pondok, jangankan dapat buah sebagai pencuci mulut dan penyeimbang gizi, nasinya saja kadang agak keras. Sayurnya seperti kurang garam. Banyak kuahnya ketimbang dedaunannya. Perpaduannya tak proporsional.

Lauk lebih kecil ukurannya dibanding makanan rumahan, yang mau tak mau cepat habis dan tak bisa tambah walau masih mau, kecuali pakai cara curang. Cuma boleh tambah nasi.

Saya pernah mondok waktu sanawiyah. Lulus 1999.Ini beberapa menu yang dulu kami santap di pondok. 

Kalau tidak salah ingat, waktu saya pertama masuk kelas satu sanawiyah, SPP per bulan Rp 30 ribu. Kalau pun salah ingat setidaknya di bawah itu, dan hampir pasti tidak di atas angka itu. Nominal itu sudah untuk semua. Ya uang sekolah. Ya bayar asrama. Makan sehari tiga kali.  

Lantas bagaimana makanan para santrinya? Mari saya perkenalkan nama-nama lauknya untuk tahu para santri makan apa saja. Nama-namanya memang begitu. Semua warga pondok tahu. 

Anak pondok yang baca tulisan ini, saya yakin akan bernostalgia dan senyum-senyum sendiri. Apalagi yang satu pondok dengan saya.

- Tempe berenang. Ini merupakan menu berupa tempe rebus yang dipotong sebesar kira-kira dua hingga tiga jari orang dewasa.

Menu ini disajikan dengan kuah bening agak keruh yang rasanya tak terlalu gurih. Mirip-mirip kuah soto tapi tak berasa soto.

Butuh tambahan garam untuk membuat rasanya bisa lebih diterima lidah. Jadi, saat giliran menu ini tiba, di piring santri isinya nasi, tempe rebus plus kuah.

Baca Juga: Belajar Program Makan Siang Bergizi dari Jepang yang Sudah Dimulai Sejak Ratusan Tahun Lalu  

Menu ini sudah terjadwal. Saya sudah lupa kapan saja waktu datangnya. Sepertinya tak terlalu sering. Dan umumnya ini menu makan malam. 

Mungkin biar santri tak banyak protes. Sudah makan saja. Sudah malam. Habis itu Salat Isya. Lanjut belajar. Terus tidur. Besok sekolah.

Tempe berenang jadi menu yang paling tidak diharapkan kebanyakan santri saat itu. Beberapa santri bahkan terpaksa untuk tak mengambil lauk ini.

Mereka lebih memilih hanya mengambil nasi, kemudian membuat mi instan sekenanya dengan air panas yang tersedia. Jadilah makan malam dengan nasi dan mi instan. Karbohidrat, karbohidrat, tak ada protein. 

Itupun jika mereka masih punya persediaan mi instan. Atau yang punya kecap manis atau asin, tetap ambil jatah makan, nanti dibantu kecap. Apalagi kalau ada abon. Sangat, sangat membantu.

Jika sudah tak ada lagi persediaan lauk tambahan di lemari, mau tak mau menerima sajian tempe berenang apa adanya dan melahapnya demi memenuhi perut.

Biar malam tak terbangun karena perut krucuk-krucuk.

- Telur teriplek. Ini menu hanya datang saat sarapan. Menu berupa telur dadar yang dibuat sangat tipis. 

Bentuknya yang tipis itu membuatnya dilabeli telur teriplek. Entah sejak kapan. Entah sebutan itu pertama kali keluar dari mulut siapa.

Telurnya tak terlalu gurih. Rasa asin juga nyaris tak ada. Yang dominan hanya rasa telur tanpa variasi.

Pendamping telur teriplek ini adalah sambal kacang yang cuma dijatah satu sendok makan tiap santri.

Jangan bayangkan sambal kacangnya gurih berpadu dengan pedas yang lezat, seperti membeli nasi pecal saat sarapan atau seperti sambal kacang di nasi pecal di warung yang kesohor dengan sajian menu ini.

Yang ada, sambal kacangnya berasa gurih yang tanggung, juga nyaris tak ada asin-asinnya, dan rasa pedas yang pedas begitu saja, tak terlalu pedas juga.

Setidaknya, sambal kacang yang hanya satu sendok untuk tiap orang ini bisa menjadi penolong. 

Membuat menu ini jadi lebih bisa dinikmati dengan nasi panas, apalagi jika ditumpahi kecap manis, jadi lebih ramah di lidah.

Minta kuahnya agak banyak boleh saja, biar nasi terendam sekalian jadi mudah masuk mulut. Kalau begitu jadi tak terlalu perlu tambahan kecap manis. Apalagi kalau kecap manis sudah habis. 

Santri jelas tak bisa banyak menuntut. Menu yang disajikan sesuai kemampuan pengelola dari uang SPP yang dibayarkan tiap bulan. Tapi tetap ada variasinya.

Setidaknya, santri makan teratur. Seperti di rumah. Tiga kali sehari. Tak pernah kekurangan makanan walau dengan lauk seadanya. Dan tak pernah keracunan.

Kalau saya tak salah ingat, lauk favorit di pondok kami dulu bukan olahan ayam, tapi peyek udang. Setidaknya ini bagi saya dan beberapa rekan yang mengaku suka menu ini.

Tak setipis peyek, sedikit tebal bertepung, tapi tepungnya berasa gurih. Di peyek itu setidaknya ada dua hingga tiga udang ukuran kelingking yang nangkring.

Saya terkadang heran, mengapa kalau lauk peyek ini, sepertinya terasa enak seperti lauk rumahan. Sambalnya pas pedasnya dan peyeknya pas gurihnya.  

Sepertinya ditangani secara lebih maksimal oleh ibu-ibu dapur. Mengapa menu yang lain berasa kurang. Khususnya tiga menu yang saya sajikan di atas.

Mungkin karena santri sudah sejak awal ada rasa antipati jadi terbawa sugesti. Bisa jadi. Penolakan, penolakan bikin tak enak.

Menu peyek ini biasa datang pada hari Minggu. Saat makan siang. Sesekali hari lain juga ada menu peyek ini. Minggu memang sering menunya lebih menggiurkan ketimbang hari biasa. 

Kalau tidak peyek yang ditempeli dua atau tiga udang itu, sesekali ayam goreng. Tentu dengan ukuran yang jangan dibandingkan dengan lauk ayam rumahan.

Dan untuk sarapan, pada Hari Minggu ada sajian tambahan berupa bubur kacang hijau yang lebih banyak airnya ketimbang kacang hijaunya.

Namun, tetap enak bagi santri dan selalu dinanti. Dan paling duluan habis.

Kalau tak mau rugi, biasa santri menambah bubur kacang hijau itu dengan satu dua sendok makan nasi biar porsinya jadi lebih banyak.  

Satu lagi menu favorit. Tempe goreng kering dengan lapisan tepung tipis dan sesendok sambal pedas.

Saya lupa, sepertinya sambal tomat. Sambalnya pedas ada gurihnya. Tempenya renyah karena baru masak.

Dan menu ini hanya ada saat sarapan. Beberapa santri suka adu nyali dengan menyaru, mencoba mendapatkan sekali lagi menu ini, karena biasanya santri berebutan kalau menunya tempe ini.

Yang sudah dapat segera kembali ke kamar, menaruh makanan, lantas mengambil piring lain, dan mencoba lagi berdesakan untuk sekali lagi dapat tempe dan sambal.

Banyak yang lolos. Ada juga yang ketahuan. Standar. Namanya juga untung-untungan. 

Selebihnya menu di pondok kami dulu sebenarnya cukup variatif. Ada juga menu ikan goreng dengan sayur bening. Biasa untuk makan siang.

Jadi di piring nasi santri saat itu adalah nasi, ikan goreng dengan ukuran yang tak besar, sayur bening, dan sejumput sambal. Itu sudah enak.

Dan sekali lagi jangan bandingan dengan sajian rumahan. Menu di pondok, walaupun sama judulnya, levelnya di bawah menu rumahan, beberapa tingkat. 

Diskripsi saya tentang menu-menu itu saya rasa sudah cukup bagi ahli gizi untuk menilainya, bagaimana kandungan menu di satu piring makan santri. 

Selama saya di pondok, dengan lauk begitu, gizi yang terbatas, tak pernah ada kasus keracunan. Alhamdulillah sepertinya sampai sekarang. Dan mudah-mudahan seterusnya. Aamiin… Satu hal lagi, dulu, distribusi makanan masih sangat manual.

Tiap hari menu dimasak di asrama putri. Lantas diambil oleh santri putra yang kebagian tugas piket ambil makan. Tiap waktu makan berganti tim piket yang mengambil. 

Menu dari dapur di asrama putri dibawa ke tempat makan asrama putra, menempuh perjalanan kaki sekitar 800 meter. Kondisi jalannya mayoritas menanjak saat berangkat.

Sampai di dapur asrama putra, menu tak langsung dibagikan, kecuali saat sarapan. Karena waktu yang mepet saat pagi. 

Usai Salat Subuh biasa petugas piket segera mandi, persiapan sebentar, lantas menjalankan tugas ke asrama putri. Ketika mereka kembali, santri sudah banyak yang menanti di dapur. Tak ada jeda makanan tersimpan.

Suasana sarapan biasa begitu. Usai isi perut mereka langsung ke kelas menuntut ilmu. Kalau siang menu sudah diambil sebelum Salat Zuhur.

Santri makan usai salat. Ada jeda beberapa saat makanan tersimpan di dapur asrama putra.

Sementara menu untuk malam sudah ada yang mulai diambil pukul lima sore. Santri makan usai Salat Magrib. Juga ada jeda beberapa saat.

Ibu dapur pakai pelapis tangan seadanya saat membagikan jatah para santri. Biasa pakai plastik kemasan, terus sendok. Standar. 

Yang penting makanan tak diambil langsung dengan tangan. Ibu dapur yang membagikan makan juga tak pakai masker, hanya berjilbab seperti kewajiban para perempuan muslim.

Setelah dari pondok saya dulu, kita ke perusahaan katering tempat mama saya bekerja di Samarinda.

Ibu saya kerja di katering mulai saya SD sampai beberapa tahun lalu saat dia memutuskan gantung spatula karena usia.

Alhamdulillah, makanan yang disajikan dari katering tempat mama bekerja tak pernah bermasalah. 

Bosnya mama pernah dapat proyek untuk makan sebuah perusahaan kayu saat saya masih SD, seribuan orang tiap makan. Berjalan beberapa tahun. Alhamdulillah tak ada masalah kesehatan.

Jangan tanya dengan acara perkawinan yang ada saja tiap minggu menggunakan jasa katering tempat mama bekerja.

Kalau sudah ada resepsi begini, biasa di GOR Segiri atau GOR Sempaja, Samarinda, pesanan makanan minimal seribu. Bisa dua ribu. Pernah lebih tiga ribu. Sekali lagi alhamdulillah. Aman-aman saja. 

Pengelola makan bergizi gratis, ada baiknya juga studi banding ke pondok pesantren dan ke pemilik katering. Bagaimana bisa begitu. 

Cobalah untuk lihat-lihat penanganan makan para santri di pondok pesantren, tak ada salahnya. Ke katering juga. 

Studi banding begitu saya rasa tak perlu keluar anggaran alias bisa dijalankan gratis. Mereka, pihak pondok atau pihak katering justru senang.

Intinya, kita semua yang mendukung atau yang menolak, toh program makan bergizi gratis di sekolah ini sudah berjalan setahunan, tak mau lagi disajikan berita siswa yang keracunan makanan. (*)

Editor : Faroq Zamzami
#balikpapan #pondok pesantren #samarinda #keracunan makanan #santri