Menunya Berharap Gizi, Santri Tak Pernah Keracunan  

Faroq Zamzami • Dipublikasikan Jumat, 27 Februari 2026 | 10:35 WIB
Faroq Zamzami
Faroq Zamzami

Catatan: Faroq Zamzami

(Jurnalis Kaltim Post dan Prokal.co)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Apakah ada yang pernah mendengar santri di sebuah pondok pesantren (ponpes) di Balikpapan atau di Samarinda keracunan makanan? Dalam sepuluh atau 15 tahun terakhir.
 
Sependek pengetahuan saya, saya tak pernah mendengar? Dan mudah-mudahan tidak ada sampai seterusnya. Aamiin…
 
Sejak jadi jurnalis pada 2007 hingga kini, sepertinya, kalau saya tak salah ingat, tak pernah ada kejadian begitu. Jadi tak ada berita soal itu.
 
 
Saya tak pernah menulis kasus begitu. Dan lingkaran pergaulan saya selama bertugas di Balikpapan tak pernah membahas itu.
 
Ketika tugas di Samarinda pun tak pernah mendengar kasus anak pondok keracunan karena menu yang dimasak pengelola.
 
Ah, ada mungkin, tapi karena mainmu kurang jauh jadi tak mendengar. 
 
Ah, ada saja itu, tapi memang tak terungkap media.
 
Ah, ada saja itu, tapi ditutup-tutupi pengelola ponpes, dan menutupi kasusnya lebih mudah karena pondok ‘kan memang lebih tertutup dibandingkan sekolah umum? 
 
Sepertinya tidak begitu. Buktinya, kasus asusila di sebuah ponpes di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terungkap ke media. 
 
Ada saja yang angkat bicara. Saat ini, kasusnya sudah putusan di pengadilan tingkat pertama.

Ada juga kasus santri meninggal karena dianiaya seniornya, juga terungkap. Di Samarinda. Googling saja.
 
Apalagi kalau kasus keracunan makanan. Butuh penanganan medis. Harus ke rumah sakit. Jadi banyak pihak yang tahu. 
 
Oke mari kita sepakati saja memang tak pernah ada kasus santri keracunan. Dan memang tak ada. 

 
Saya sudah Googling. Tak ada. Googel menyajikan berita lain. Kasus keracunan yang lain. Yang kita semua tahu dalam program apa. 
 
AI juga menyajikan kejadian keracunan yang lain. 
 
Saya tanya Googel begini, adakah santri ponpes keracunan di Balikpapan atau di Samarinda?
 
Padahal, makanan di ponpes itu -- kita tidak sedang bicara pesantren yang iuran bulanan/SPP-nya mahal ya, kita bicara pondok kebanyakan, umum -- sajian menunya jauh dibanding kualitas menu makan gratis yang lagi berjalan di sekolah-sekolah saat ini, yang terjaga semua-semuanya.
 
Higienisitas, kandungan nutrisi, kandungan vitamin, dan keseimbangan gizi. 
 
Menu gratis itu mencakup itu, karena sampai ada nutrisionis khusus yang memantau. 
 
Di pondok, jangankan dapat buah sebagai pencuci mulut dan penyeimbang gizi, nasinya saja kadang agak keras.
 
Sayurnya seperti kurang garam. Banyak kuahnya ketimbang dedaunannya. Perpaduannya tak proporsional.
 
Lauk lebih kecil ukurannya dibanding makanan rumahan, yang mau tak mau cepat habis dan tak bisa tambah walau masih kepingin, kecuali pakai cara curang. Cuma boleh tambah nasi.

Saya pernah mondok waktu sanawiyah. Lulus 1999.
 
Ini beberapa menu yang dulu kami santap di pondok. Kalau tidak salah ingat, waktu saya pertama masuk kelas satu sanawiyah, SPP per bulan Rp 30 ribu. 
 
Nominal itu sudah untuk semua. Ya uang sekolah. Ya bayar asrama. Makan sehari tiga kali. 
 
Lantas bagaimana makanan para santrinya? Mari saya perkenalkan nama-nama lauknya untuk tahu para santri makan apa saja.
 
Nama-namanya memang begitu. Semua warga pondok tahu. 
 
Entah siapa yang menamainya pertama begitu. Saat saya masuk sudah kesohor saja nama-nama menu itu. 
 
Anak pondok yang baca tulisan ini, saya yakin akan bernostalgia dan senyum-senyum sendiri. Apalagi yang satu pondok dengan saya.
 

- Tempe berenang. Ini merupakan menu berupa tempe rebus yang dipotong sebesar kira-kira dua hingga tiga jari orang dewasa.

Menu ini disajikan dengan kuah bening agak keruh yang rasanya tak terlalu gurih. Mirip-mirip kuah soto tapi tak berasa soto.

Butuh tambahan garam untuk membuat rasanya bisa lebih diterima lidah.

Jadi, saat giliran menu ini tiba, di piring santri isinya nasi, tempe rebus plus kuah.

Menu ini sudah terjadwal. Saya sudah lupa kapan saja waktu datangnya. Sepertinya tak terlalu sering. Dan umumnya ini menu makan malam. 

Mungkin biar santri tak banyak protes. Sudah makan saja. Sudah malam. Habis itu Salat Isya. Lanjut belajar. Terus tidur. Besok sekolah.

Tempe berenang jadi menu yang paling tidak diharapkan kebanyakan santri saat itu. Beberapa santri bahkan terpaksa untuk tak mengambil lauk ini.

Mereka lebih memilih hanya mengambil nasi, kemudian membuat mi instan sekenanya dengan air panas yang tersedia. Jadilah makan malam dengan nasi dan mi instan. Karbohidrat, karbohidrat, tak ada protein. 
 
Itupun jika mereka masih punya persediaan mi instan. Atau yang masih punya stok kecap manis atau asin, tetap ambil jatah makan, nanti dibantu kecap.
 
Apalagi kalau ada yang masih punya abon kemasan. Sangat, sangat membantu.

Jika sudah tak ada lagi persediaan lauk tambahan di lemari, mau tak mau menerima sajian tempe berenang apa adanya dan melahapnya demi memenuhi perut. Biar malam tak terbangun karena perut krucuk-krucuk.
 
Baca Juga: Rivalitas Samarinda-Balikpapan, Masih Adakah?

- Telur teriplek. Ini menu hanya datang saat sarapan. Menu berupa telur dadar yang dibuat sangat tipis. 
 
Bentuknya yang tipis itu membuatnya dilabeli telur teriplek. Entah sejak kapan. Entah sebutan itu pertama kali keluar dari mulut siapa.

Telurnya tak terlalu gurih. Rasa asin juga nyaris tak ada. Yang dominan hanya rasa telur tanpa variasi.

Saya pernah bergumam, apa ada cetakannya membuat telur setipis itu? 
 
Sampai lulus gumam itu tak terjawab karena saya tak pernah melihat cetakannya. Dan tak pernah pula bertanya-tanya soal itu kepada ibu-ibu dapur. 

Pendamping telur teriplek ini adalah sambal kacang yang cuma dijatah satu sendok makan tiap santri.

Jangan bayangkan sambal kacangnya gurih dan pedasnya yang lezat, seperti membeli nasi pecel saat sarapan atau di warung yang kesohor dengan sajian menu ini.
 
Yang ada, sambal kacangnya berasa gurih yang tanggung, juga nyaris tak ada asin-asinnya, dan rasa pedas yang pedas begitu saja, tak terlalu pedas juga.

Setidaknya, sambal kacang yang hanya satu sendok untuk tiap orang ini bisa menjadi penolong. 
 
Membuat menu ini jadi lebih bisa dinikmati dengan nasi panas, apalagi jika ditumpahi kecap manis, jadi lebih ramah di lidah. 

Dan kalau begitu, justru jadi menu yang berbalik enak bagi sebagian santri yang selalu punya persediaan kecap manis apapun mereknya. Tak punya kecap harap bersabar.
 
Jadi saat menu ini tiba, di piring santri adalah, nasi, telur, dan sambal kacang. Sudah. Itu saja. 
 
 
Minumnya? Anda berharap apa? Jus jeruk. Atau jus buah kemasan. Atau minuman susu fermentasi probiotik. Atau minimal es teh manis. Jelas tak ada.
 
Minum, ya air putih yang direbus di dalam dandang besar hingga mendidih. Dengan bahan bakar kayu. Bukan air putih galon. 
 
Air yang sudah dingin ambil sendiri di cerek atau mau yang masih panas langsung ambil di dandang untuk bikin teh sendiri. 

- Ikan asin otek atau ikan asin berenang. Menu ini sebenarnya bisa jadi penolong karena asinnya. Dan kuahnya. Karena diolah dengan direbus. Bukan digoreng kering. 
 
Namun, bagi sebagian santri, mereka sudah tak suka dengan ikan asin otek karena reputasinya. 
 
Katanya, dulu, ikan jenis ini, justru dihindari nelayan atau pemancing.
 
Atau kalau nelayan terpaksa mengumpulkan, disebut tak ada harganya untuk menganalogikan kalau harga per kilogramnya sangat murah.
 
Akhirnya, demi meningkatkan nilai ekonomisnya dibuatlah jadi ikan asin.
 
Malah katanya, dulu itu, kalau nelayan dapat ikan jenis ini kebanyakan dikembalikan ke air. Dibuang. Atau dijadikan umpan memancing.
 
Lauk ikan asin otek ini hanya menang asin nyaris tak ada gurih-gurihnya. 
 
Walaupun bagi sebagian santri rasa asin sudah cukup.
 
Jadi, kalau menu ini tiba, di piring santri isinya, nasi, ikan asin otek yang direbus plus kuahnya. 
 
Minta kuahnya agak banyak boleh saja, biar nasi terendam sekalian jadi mudah masuk mulut.

Kalau begitu jadi tak terlalu perlu tambahan kecap manis. Apalagi kalau kecap manis sudah habis. 
 
Santri jelas tak banyak pilihan. Menu yang disajikan sesuai kemampuan pengelola dari uang SPP yang dibayarkan tiap bulan. 
 
Setidaknya, santri makan teratur. Seperti di rumah. Tiga kali sehari. Tak pernah kekurangan makanan walau dengan lauk seadanya. Dan tak pernah keracunan.
 
Kalau saya tak salah ingat, lauk favorit di pondok kami dulu bukan olahan ayam, tapi peyek udang. Setidaknya ini bagi saya dan beberapa rekan yang mengaku suka menu ini.
 
Tak setipis peyek, sedikit tebal bertepung, tapi tepungnya berasa gurih. 
 
Di peyek itu setidaknya ada dua hingga tiga udang ukuran kelingking yang nangkring.
 
 
Saya terkadang heran, mengapa kalau lauk peyek ini, sepertinya terasa enak seperti lauk rumahan. Sambalnya pas pedasnya dan peyeknya pas gurihnya. 
 
Sepertinya ditangani secara lebih maksimal oleh ibu-ibu dapur. Mengapa menu yang lain berasa kurang. Khususnya tiga menu yang saya sajikan di atas.
 
Mungkin karena santri sudah sejak awal ada rasa antipati jadi terbawa sugesti. Bisa jadi. Penolakan, penolakan bikin tak enak.
 
Menu peyek ini biasa datang pada hari Minggu. Saat makan siang. Sesekali hari lain juga ada menu peyek ini.
 
Minggu memang sering menunya lebih menggiurkan ketimbang hari biasa. 
 
Kalau tidak peyek yang ditempeli dua atau tiga udang itu, sesekali ayam goreng. 
 
Tentu dengan ukuran yang jangan dibandingkan dengan lauk ayam rumahan.
 
Dan untuk sarapan, pada Hari Minggu ada sajian tambahan berupa bubur kacang hijau yang lebih banyak airnya ketimbang kacang hijaunya. Namun, tetap enak. Selalu dinanti santri. Dan paling duluan habis.
 
Kalau tak mau rugi, biasa santri menambah bubur kacang hijau itu dengan satu dua sendok makan nasi biar porsinya jadi lebih banyak. Biar kenyang lebih lama.
 
Selebihnya menu di pondok kami dulu sebenarnya cukup variatif. 
 
Selain yang saya diskripsikan di atas, ada juga menu ikan goreng dengan sayur bening.
 
Jadi di piring nasi santri saat itu adalah nasi, ikan goreng dengan ukuran yang tak besar, sayur bening, dan sejumput sambal. Itu sudah enak. Dan sekali lagi jangan bandingan dengan sajian rumahan.
 
Menu di pondok, walaupun sama judulnya, levelnya di bawah menu rumahan, beberapa tingkat. Dan silakan nilai sendiri bagaimana kadar gizinya. 
 
Satu lagi menu favorit. Saya baru ingat, jadi harus menulis ini juga. Yakni, tempe goreng kering dengan lapisan tepung tipis dan sambal pedas. Sepertinya sambal tomat.
 
Sambalnya pedas ada gurihnya. Tempenya renyah karena baru masak. Dan menu ini hanya ada saat sarapan.
 
Beberapa santri suka adu nyali dengan menyaru, mencoba mendapatkan sekali lagi menu ini, karena biasanya santri berebutan kalau menunya tempe ini.
 
Yang sudah dapat segera kembali ke kamar, menaruh makanan, lantas mengambil piring lain, dan mencoba lagi berdesakan untuk sekali lagi dapat tempe dan sambal. Banyak yang lolos. Ada juga yang ketahuan. Standar. Namanya juga untung-untungan. 
 
Diskripsi saya tentang menu-menu itu saya rasa sudah cukup bagi ahli gizi untuk menilainya, bagaimana kandungan menu di satu piring makan santri. 
 
Selama saya di pondok, dengan lauk begitu, tak pernah ada kasus keracunan. Alhamdulillah sepertinya sampai sekarang. Dan mudah-mudahan seterusnya. Aamiin…
 
Namun, sekarang, ya sudah berbeda. Pondok tempat saya menuntut ilmu dulu sudah semakin maju dan modern. Santrinya sudah semakin banyak. SPP-nya juga sudah berbeda. Tentu menu makannya sangat jauh berbeda dengan zaman saya dulu.
 
Tapi poinnya di sejumlah pondok pesantren dengan kemampuan terbatas, santrinya dari kalangan menengah, dan menengah ke bawah, kita tak pernah mendengar permasalahan soal kesehatan makanan.
 
Soal keterbatasan pasti. Masih banyak pondok pesantren yang bangunannya saja masih terbatas. Gaji ustaznya juga, masih banyak yang belum memenuhi standar. 
 
Oke, kita kembali lagi ke pondok saya dulu saat saya di sana. Satu hal lagi, dulu, distribusi makanan masih sangat manual.
 
Tiap hari menu dimasak di asrama putri. Lantas diambil oleh santri putra yang kebagian tugas piket ambil makan. Tiap waktu makan berganti tim piket yang mengambil. 
 
Menu dari dapur di asrama putri dibawa ke tempat makan asrama putra, menempuh perjalanan kaki sekitar 800 meter. 
 
Kondisi jalannya mayoritas menanjak saat berangkat.
 
Sampai di dapur asrama putra, menu tak langsung dibagikan, kecuali saat sarapan. Karena waktu yang mepet saat pagi. 
 
Usai Salat Subuh biasa petugas piket segera mandi, persiapan sebentar, lantas menjalankan tugas ke asrama putri. 
 
Ketika mereka kembali, santri sudah banyak yang menanti di dapur. Tak ada jeda makanan tersimpan.
 
Suasana sarapan biasa begitu. Usai isi perut mereka langsung ke kelas menuntut ilmu.
 
 
Kalau siang menu sudah diambil sebelum Salat Zuhur. Santri makan usai salat. Ada jeda beberapa saat makanan tersimpan di dapur asrama putra. 
 
Sementara menu untuk malam sudah diambil pukul lima sore. Santri makan usai Salat Magrib. Juga ada jeda beberapa saat.
 
Ibu dapur pakai pelapis tangan seadanya saat membagikan jatah para santri. Biasa pakai plastik kemasan, terus sendok. Standar. 
 
Yang penting makanan tak diambil langsung dengan tangan. 
 
Ibu dapur yang membagikan makan juga tak pakai masker, hanya berjilbab seperti kewajiban para perempuan muslim.
 
Setelah dari pondok saya dulu, kita ke perusahaan katering tempat mama saya bekerja di Samarinda.
 
Mamaku kerja di katering mulai aku SD sampai beberapa tahun lalu saat dia memutuskan gantung spatula karena usia.
 
Alhamdulillah, makanan yang disajikan dari katering tempat mamaku bekerja tak pernah bermasalah. 
 
Bos mamaku pernah dapat proyek untuk makan sebuah perusahaan kayu saat aku masih SD, seribuan orang tiap makan. Berjalan beberapa tahun. Alhamdulillah tak ada masalah kesehatan.
 
Jangan tanya dengan acara perkawinan yang ada saja tiap minggu menggunakan jasa katering tempat mamaku bekerja.
 
Kalau sudah ada resepsi begini, biasa di GOR Segiri atau GOR Sempaja, Samarinda, pesanan makanan minimal seribu. Bisa dua ribu. Pernah lebih tiga ribu. Sekali lagi alhamdulillah. Aman-aman saja. 
 
Pengelola makan bergizi gratis, ada baiknya juga studi banding ke pondok pesantren dan ke pemilik katering. Bagaimana bisa begitu. 
 
 
Cobalah untuk lihat-lihat penanganan makan para santri, tak ada salahnya. Ke katering juga. 
 
Studi banding begitu saya rasa tak perlu keluar anggaran alias bisa dijalankan gratis. Mereka, pihak pondok atau pihak katering justru senang.
 
Intinya, kita semua yang mendukung atau yang menolak, toh program makan bergizi gratis di sekolah sudah berjalan, tak mau lagi disajikan berita siswa yang keracunan makanan. (*) 
Editor : Faroq Zamzami
balikpapan pondok pesantren samarinda keracunan makanan santri