Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Diduga Plt Kepsek Cabuli 5 Anak di Balikpapan, Aktivis: Sekolah Harus Jadi Ruang Aman, Bukan Tempat Predator Beraksi

Redaksi Prokal • 2026-03-11 09:45:00

Ilustrasi pelecehan seksual terhadap santri
Ilustrasi pelecehan seksual terhadap santri

BALIKPAPAN – Gelombang kecaman terus mengalir pasca-mencuatnya kasus dugaan pencabulan yang melibatkan seorang oknum Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Sekolah Dasar di Balikpapan terhadap lima murid perempuannya. Aktivis perlindungan perempuan dan anak, Evi Purba, menyatakan sikap tegas dan mengecam keras tindakan oknum tersebut yang dinilai telah menghancurkan rasa aman di institusi pendidikan.

Evi mengungkapkan keprihatinan yang mendalam karena predator anak justru muncul dari kalangan pimpinan sekolah yang seharusnya menjadi benteng pelindung bagi siswa. Menurutnya, tindakan asusila di lingkungan sekolah adalah pengkhianatan besar terhadap amanah orang tua dan dunia pendidikan.

"Sekolah seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi anak-anak untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan masa depan mereka. Dugaan tindakan yang mencederai rasa aman tersebut merupakan persoalan serius dan tidak dapat ditoleransi dalam bentuk apa pun," tegas Evi dalam pernyataan tertulisnya.

Ia mendesak agar Polresta Balikpapan bertindak cepat, transparan, dan tanpa kompromi dalam mengusut tuntas perkara ini. Evi menekankan bahwa keadilan bagi para korban harus menjadi prioritas utama, mengingat trauma yang dialami anak di bawah umur akibat kekerasan seksual dapat berdampak jangka panjang bagi masa depan mereka.

"Kami mendesak aparat penegak hukum untuk menangani kasus ini secara cepat dan profesional. Proses hukum harus berjalan dengan memberikan perlindungan maksimal kepada para korban," tambahnya.

Selain langkah hukum, Evi juga meminta Dinas Pendidikan dan lembaga terkait segera melakukan langkah preventif ekstrem agar kejadian serupa tidak terulang. Ia menggarisbawahi pentingnya pendampingan psikologis yang intensif bagi kelima korban agar mereka dapat pulih dari trauma.

"Tidak boleh ada ruang bagi siapa pun yang menyalahgunakan posisi atau kekuasaan untuk melukai masa depan anak-anak kita. Perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif kita bersama," pungkasnya. Kini, publik pun turut mengawal kasus ini demi memastikan sanksi hukum yang setimpal bagi pelaku.(*)

Editor : Indra Zakaria