BALIKPAPAN – Badai kenaikan harga Dexlite yang menyentuh angka fantastis memaksa pengelola layanan transportasi publik Balikpapan City Trans (BCT) untuk segera memutar otak. Demi menjaga napas operasional angkutan massal andalan warga Balikpapan ini tetap panjang hingga akhir tahun, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kalimantan Timur kini mulai menjajaki opsi penggunaan bahan bakar alternatif berupa biosolar.
Langkah ini diambil sebagai respons atas membengkaknya biaya operasional harian yang sangat signifikan. Selama ini, seluruh armada BCT bergantung sepenuhnya pada Dexlite. Namun, dengan harga biosolar yang jauh lebih ekonomis—berada di kisaran Rp6.800 per liter—peralihan bahan bakar dinilai sebagai solusi paling masuk akal untuk menekan pengeluaran tanpa harus memangkas frekuensi perjalanan bus di lapangan.
Kepala BPTD Kelas II Kaltim, Renhard Ronald, mengungkapkan bahwa selisih harga antara Dexlite dan biosolar akan memberikan ruang napas yang lega bagi anggaran operasional. "Jika nantinya diperbolehkan beralih ke biosolar, tentu akan sangat membantu keberlangsungan BCT. Selisih harganya sangat signifikan jika dikalkulasikan dengan kebutuhan harian puluhan armada kami," jelas Renhard pada Rabu (29/4).
Peralihan ini pun bukan tanpa prosedur. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dikabarkan telah meminta Pemerintah Kota Balikpapan untuk menjembatani komunikasi dengan pihak Pertamina. Koordinasi ini krusial untuk membahas skema distribusi dan legalitas penggunaan biosolar bagi angkutan umum berskema Buy The Service (BTS) tersebut.
Renhard menekankan bahwa langkah ini harus segera dikebut. Pasalnya, opsi lain seperti penambahan anggaran operasional di tengah kebijakan efisiensi pemerintah saat ini adalah perkara yang sangat sulit. Memaksa bertahan dengan Dexlite tanpa tambahan dana dikhawatirkan justru akan mengancam stabilitas layanan di masa mendatang.
Saat ini, kekuatan BCT didukung oleh 24 unit bus, dengan 21 armada yang aktif melayani koridor-koridor utama di Balikpapan dan 3 unit sebagai cadangan teknis. Sebagai tulang punggung mobilitas perkotaan, keberlangsungan BCT sangat bergantung pada dukungan Pemerintah Kota dan Pertamina dalam merealisasikan formula efisiensi ini.
"Harapan kami ada dukungan penuh dari semua pihak. Tujuan utamanya adalah memastikan masyarakat tetap bisa menikmati layanan transportasi massal yang stabil, terjangkau, dan nyaman tanpa terganggu oleh gejolak harga energi," pungkasnya. (*)
Editor : Indra Zakaria