Menjadi Kaya dari Kebiasaan Kecil

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 08:51 WIB
Sejumlah komoditas seperti cabai dan bawang mencatat kenaikan tertinggi jelang Nataru, terpantau di Pasar Klandasan.
Ilutrasi

Catatan: Ivan Firdaus

PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Pagi itu mungkin terlihat biasa saja. Tidak ada berita besar. Tidak ada keputusan bisnis bernilai miliaran rupiah. Hanya seseorang yang berjalan ke pasar membeli kebutuhan dapur.

Tetapi justru dari langkah kecil itulah kadang-kadang uang ditemukan.

Di tengah kondisi ekonomi sedang sulit, banyak orang sibuk mencari cara mendapatkan tambahan penghasilan.

Ada yang membuka usaha kecil, mencari pekerjaan sampingan, atau mencoba investasi. 

Semua itu baik. Namun, ada satu sumber cuan yang sering dilupakan, uang yang sebenarnya sudah kita miliki, tetapi bocor karena kebiasaan kecil yang tidak efisien.

Baca Juga: PLN Lanjutkan Tahapan Pemberian Kompensasi ROW SUTT 150 kV Bontang Lestari

Kadang bukan karena kita tidak punya uang. Kita hanya terlalu malas mencari cara yang lebih murah.

Saya teringat sebuah pengalaman sederhana ketika mulai memperhatikan aktivitas belanja pagi di dua pasar dekat rumah, Pasar Klandasan dan Pasar Baru, di Balikpapan. 

Dari pengamatan itu muncul sebuah pelajaran menarik. Dua pasar yang jaraknya tidak terlalu jauh ternyata memiliki perbedaan besar dalam waktu buka dan harga barang.

Seorang pedagang tahu dan tempe asal Pekalongan yang sudah berjualan selama 48 tahun mengatakan bahwa Pasar Baru beroperasi lebih dini. Bahkan lapaknya sudah buka sekitar pukul 03.00 dini hari.

Bagi sebagian orang, bangun pagi seperti itu terasa merepotkan. Mengapa harus keluar rumah ketika orang lain masih tidur?

Jawabannya sederhana, karena ada selisih harga yang nyata.

“Kadang keuntungan terbesar bukan datang dari mencari uang lebih banyak, tetapi dari berhenti membuang uang secara diam-diam.”

Kemalasan yang Mahal, Kedisiplinan yang Menghasilkan

Kita sering menganggap malas sebagai persoalan kecil. Padahal dalam ekonomi rumah tangga, kemalasan bisa menjadi biaya yang terus berulang.

Malas membandingkan harga. Malas bangun lebih pagi. Malas mencari sumber belanja yang lebih murah. Malas menghitung pengeluaran kecil.

Satu kali mungkin tidak terasa. Tetapi jika terjadi setiap hari, jumlahnya bisa menjadi besar.

Dari pengalaman belanja tersebut, perbedaan harga antara pasar dan tempat lain bisa sangat jauh menurut catatan pengeluaran rumah tangga.

Bayangkan sebuah keluarga membeli sepuluh jenis kebutuhan dapur. Jika setiap barang memiliki selisih harga, penghematan yang terkumpul bisa mencapai lebih dari Rp 100 ribu.

Nilai itu bukan sekadar angka. Ia bisa berubah menjadi bahan bakar kendaraan, kebutuhan sekolah anak, atau tabungan kecil keluarga.

Baca Juga: Lomba Tumpeng Emak-Emak RT 58 Graha Indah Jadi Sajian Berbeda Memeriahkan Hari Kemerdekaan 

Inilah konsep cuan yang sering tidak terlihat. Cuan tidak selalu berarti mendapat uang tambahan. Cuan juga berarti mengurangi pengeluaran tanpa mengurangi kualitas hidup.

Bagi orang yang ingin membuka bisnis kuliner, misalnya, kebiasaan sederhana ini bisa menjadi keunggulan. 

Membeli bahan baku langsung dari pasar yang lebih murah bisa membuat margin keuntungan lebih besar. 

Pemilik warung makan yang mampu menghemat biaya bahan baku beberapa persen setiap hari akan memiliki daya tahan lebih kuat dibanding pesaingnya.

Dalam bisnis kecil, kemenangan sering bukan karena menjual lebih mahal, tetapi karena membeli lebih cerdas.

Langkah Kecil Mengubah Rutinitas Menjadi Keuntungan

Pelajaran dari pasar pagi sebenarnya bukan hanya tentang belanja.

Ini tentang cara melihat peluang di sekitar kita.

Banyak orang mencari ide bisnis besar, tetapi lupa bahwa efisiensi adalah bisnis pertama yang harus dimiliki setiap orang. 

Sebelum mencari tambahan pendapatan, seseorang perlu memastikan bahwa pendapatan yang sudah ada tidak bocor tanpa disadari.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa langsung dilakukan.

Pertama, catat pengeluaran selama satu minggu. Bukan untuk menjadi terlalu perhitungan, tetapi untuk mengetahui ke mana uang pergi.

Kedua, cari alternatif sebelum membeli. Bandingkan harga pasar, toko, aplikasi, atau pemasok lokal.

Ketiga, ubah kebiasaan pagi menjadi aset. Bangun lebih awal tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan, tetapi juga membuka kesempatan mendapatkan harga lebih baik.

Keempat, jika memiliki usaha kecil, perlakukan belanja bahan baku sebagai strategi bisnis, bukan sekadar rutinitas.

Seperti kata pepatah sederhana, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Dalam ekonomi rumah tangga, sedikit efisiensi setiap hari bisa menjadi bukit penghematan dalam setahun.

Kita tidak selalu bisa mengendalikan kondisi ekonomi. Harga bisa naik. Tantangan bisa datang. Tetapi kita masih bisa mengendalikan cara kita mengambil keputusan.

Baca Juga: Meriahkan Hari Kemerdekaan, Warga RT 15 Wika Balikpapan Gelar Aksi Bersih-Bersih hingga Upacara

Jadi mungkin masalahnya bukan apakah kita punya kesempatan untuk mendapatkan cuan.

Mungkin pertanyaannya adalah, apakah kita cukup rajin untuk menemukan cuan yang selama ini tersembunyi di balik kemalasan kita sendiri?

Besok pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, cobalah satu perubahan kecil. Bangun sedikit lebih awal. Cari pilihan yang lebih efisien. Karena kadang-kadang keuntungan terbesar tidak datang dari langkah yang jauh.

Ia datang dari langkah kecil yang selama ini kita abaikan.

Seperti pergi ke pasar lebih pagi. Seperti mencatat pengeluaran. Seperti memilih lebih bijak.

Karena dalam kondisi ekonomi sedang sulit, kemampuan menghemat bukan lagi sekadar kebiasaan baik. Ia adalah bentuk kecerdasan finansial. (*)

Editor : Faroq Zamzami
pasar baru tambahan penghasilan pasar klandasan balikpapan