BALIKPAPAN — Warga Pantai Seraya, Sepinggan, Balikpapan Selatan mendadak digegerkan oleh penemuan bangkai lumba-lumba tanpa sirip punggung (Neophocaena phocaenoides) pada Rabu (19/8/2026). Peristiwa tragis ini menjadi kasus kematian mamalia laut kedua di pesisir Balikpapan hanya dalam kurun waktu dua bulan terakhir, sekaligus memicu alarm bahaya terkait keselamatan ekosistem Selat Makassar.
Saat ditemukan warga, satwa laut sepanjang 125 sentimeter ini berada dalam kondisi mengenaskan dengan tingkat pembusukan yang sudah lanjut. Bagian kepala lumba-lumba betina berusia remaja tersebut bahkan hampir menjadi tengkorak utuh, disertai luka misterius pada bagian punggung.
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, mengonfirmasi bahwa timnya telah melakukan evakuasi dan penguburan langsung di lokasi penemuan karena kondisi bangkai yang tidak memungkinkan untuk dilakukan otopsi (nekropsi). "Berdasarkan pengamatan, lumba-lumba ini sudah cukup lama mati dan terapung di lautan, lalu terbawa arus hingga akhirnya terdampar di Pantai Seraya," ujar Iwan, Kamis (20/8/2026).
Ancaman Biosonar Kapal hingga Racun Plastik
Peristiwa terdamparnya mamalia laut terlindungi ini mempertegas tingginya tekanan aktivitas manusia di sepanjang lintasan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI II). Pesisir Selat Makassar yang menjadi koridor migrasi penting kini berubah menjadi jalur yang sarat ancaman bagi satwa laut.
Iwan menerangkan bahwa padatnya aktivitas kapal industri berukuran besar berisiko mengganggu navigasi mamalia laut. "Gangguan kebisingan dari lalu lintas kapal dapat mengganggu navigasi biosonar mamalia laut, bahkan berisiko memicu tabrakan," jelas Iwan. Selain paparan suara mesin kapal, ancaman racun sampah plastik dan penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan diduga kuat turut memperburuk kondisi biota laut.
Insiden di Pantai Seraya melengkapi deretan kasus serupa di wilayah Balikpapan. Sebelumnya pada akhir Juni 2026 lalu, seekor lumba-lumba jenis Fraser juga ditemukan tewas terdampar di Pantai Swadaya, Balikpapan Timur.
Berulangnya rentetan kasus kematian ini menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem laut Balikpapan sedang mengalami tekanan berat. BPK Pontianak mengimbau keras seluruh masyarakat pesisir dan nelayan untuk segera melaporkan setiap temuan satwa terdampar—baik dalam kondisi hidup maupun mati—agar penanganan dan pemantauan cepat dapat segera dilakukan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co