PENAJAM PASER UTARA – Penanganan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur kini makin memfokuskan perhatian pada wilayah-wilayah rawan, terutama Kabupaten Berau dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Karakter geografis yang sulit, jarak antarwilayah yang membentang jauh, serta minimnya curah hujan membuat penanganan di Berau membutuhkan penanganan ekstra instensif.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro secara khusus mendorong agar alokasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau penyemaian garam untuk hujan buatan yang kini tengah berjalan dapat memprioritaskan kawasan Berau.
"Kondisi geografis dan cuaca di Berau membutuhkan intervensi khusus. OMC diharapkan bisa menjadi solusi cepat untuk membantu mengendalikan kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi memicu lonjakan titik api," ungkap Kapolda.
24 Titik Api Hanguskan 712 Hektare Lahan di Berau
Tingginya ancaman Karhutla di Berau tercermin dari data penanganan lapangan. Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Dr. Suharyanto, membeberkan bahwa berdasarkan data verifikasi per 13 September 2026, terdapat 24 fire spot (titik api aktif) dari total 34 hotspot yang terdeteksi di Berau.
Estimasi luas lahan yang dilahap si jago merah di wilayah tersebut diperkirakan telah mencapai 712,94 hektare. "Penguatan Satgas Darat yang dibantu operasi udara serta pemantauan titik panas terus dimaksimalkan. Sejumlah titik api di Berau berhasil kita padamkan, sementara sebagian lainnya masih dalam proses penanganan ketat oleh tim gabungan," jelas Suharyanto.
Sementara itu di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), antisipasi ancaman Karhutla juga ditingkatkan ke level tertinggi. Kepala Otorita IKN (OIKN), Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan penambahan personel serta penguatan sarana dan prasarana pemadaman di area inti maupun penyangga IKN.
"Patroli darat secara intensif terus ditingkatkan. Dukungan helikopter water bombing yang sebelumnya dikerahkan di kawasan Bukit Tengkorak juga disiagakan untuk mengantisipasi potensi munculnya kembali titik api baru," kata Basuki.
Di wilayah Penajam Paser Utara (PPU), jajaran Polres PPU di bawah pimpinan AKBP Andreas Alek Danantara turut memperketat monitoring wilayah melalui patroli terpadu bersama TNI, BPBD, OIKN, dan pemangku kepentingan setempat.
Kapolda Kaltim menuturkan bahwa penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi mulai dari pemantauan teknologi deteksi dini, respons cepat Satgas Darat, bantuan operasi udara, hingga tindakan penegakan hukum bagi para pelaku pembakar lahan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co