BALIKPAPAN – Suasana di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan berubah menjadi mencekam usai sidang pembacaan vonis terhadap BN, oknum Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah terdakwa kasus pencabulan lima siswi SD. Kekecewaan massa atas sikap terdakwa yang memilih "pikir-pikir" terhadap hukuman 12 tahun penjara menyulut kericuhan hebat hingga merusak fasilitas pengadilan dan mengancam keselamatan tim kuasa hukum.
Ketegangan sebenarnya sudah terasa membakar sejak prosesi persidangan dimulai. Kerumunan warga yang memenuhi ruang sidang tak henti-hentinya meneriakkan sorakan ke arah terdakwa. Kondisi ini membuat Ketua Majelis Hakim, Anak Agung Ayu Sri Sudanthi, harus melontarkan teguran keras demi menjaga ketertiban.
Baca Juga: Terbukti Cabul kepada 5 Anak Didiknya, Oknum Plt Kepsek Balikpapan Divonis 12 Tahun Penjara
"Saya harap tenang, kalau tidak tenang saya suruh keluar ruang sidang," tegasnya di tengah persidangan.
Namun, instruksi tersebut hanya mampu meredam situasi sesaat. Begitu palu diketuk tiga kali menandai berakhirnya persidangan, gelombang emosi massa pecah. Warga secara sporadis merangsek maju dan berupaya mengejar terdakwa BN untuk melampiaskan kemarahan.
Aksi saling dorong dan kejar-kejaran antara massa yang emosi dengan petugas keamanan tak terelakkan. Eskalasi kericuhan bergeser hingga ke area luar ruang sidang dan berujung pada kerusakan fasilitas negara. Pintu utama gedung PN Balikpapan yang terbuat dari kaca tebal hancur berkeping-keping diterjang kerumunan.
Serpihan kaca tajam berserakan memenuhi lantai gedung dan memakan korban dari pihak warga sendiri. "Kaki saya terluka kena pecahan kaca," rintih salah seorang warga sembari memegangi kakinya yang bercucuran darah di lokasi kejadian.
Kemarahan warga tak hanya tertuju pada terdakwa, tetapi juga menyasar tim penasihat hukum. H. Indra Gunawan bersama istrinya, Yuliana Rombe, selaku pengacara BN, menjadi sasaran intimidasi brutal. Langkah hukum terdakwa yang menolak langsung menerima vonis 12 tahun penjara dan denda Rp500 juta memicu murka publik di lokasi.
Di tengah situasi yang kian tak terkendali, ancaman keselamatan dan caci maki dilontarkan secara terbuka ke arah tim pengacara.
"Mau mati di sini kah? Biadab kamu, setan!" teriak warga yang mengintimidasi para pengacara tersebut sebelum akhirnya petugas bergerak cepat melakukan evakuasi. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co