BALIKPAPAN — Pesona bunga tabebuya yang tengah bermekaran lebat di Jalan Mayjend Sutoyo, kawasan Gunung Malang, Balikpapan Tengah, mendadak menjadi magnet baru bagi warga kota. Tak ingin melewatkan momen langka sebelum kelopaknya berguguran, warga rela datang sejak pagi hari demi berswafoto di bawah rindangnya pohon yang sedang penuh warna tersebut.
Salah satu warga yang antusias berburu momen indah ini adalah April Riani. Bersama rekannya, Sriwin, warga Balikpapan Utara ini sengaja meluncur lebih awal setelah terpikat oleh unggahan foto dan video keindahan tabebuya yang viral di media sosial.
"Senang banget melihat bunga bertaburan seperti ini karena momen langka, belum tentu setiap hari ada. Di medsos kan sudah banyak yang kelihatan 'botak' atau gugur. Kemarin sempat cek di Gunung Sari ternyata sudah banyak yang gugur, jadi kami cepat-cepatan datang ke sini sebelum habis," tutur April sembari tersenyum saat ditemui di lokasi, Selasa (29/9/2026) pagi.
Fenomena mekar indahnya tabebuya ini tak ayal menyulap area pinggir jalan menjadi lokasi photo shoot dadakan. Warga tampak bergantian mengambil foto dari berbagai sudut hingga memproduksi konten untuk platform media sosial mereka. Bagi April, tingginya antusiasme masyarakat ini menjadi sinyal jelas akan tingginya kebutuhan warga terhadap ruang terbuka kota yang estetis dan menyejukkan mata. Ia berharap Pemerintah Kota Balikpapan dapat memperluas penanaman pohon tabebuya ke wilayah lain.
"Bisa banget kalau diperluas. Penginnya ditanam di daerah Balikpapan Baru karena view-nya bagus dan vibes-nya dapat. Jadi warga tidak perlu jauh-jauh kalau mau foto," tambahnya.
Maraknya warga yang memadati kawasan Jalan Mayjend Sutoyo ternyata tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi para pemburu foto. Kehadiran fenomena alam ini turut membawa angin segar bagi perekonomian pedagang kecil di sekitar lokasi.
Wahyu, seorang pedagang kopi keliling yang biasa mangkal di kawasan tersebut, mengaku ketiban rezeki lantaran omzet penjualannya melonjak signifikan sejak lokasi itu ramai disatroni warga.
"Kalau hari biasa biasanya cuma laku sekitar 30 cup sehari, tapi sekarang bisa tembus sampai 50 cup per hari," ungkap Wahyu. Ia menuturkan, puncak keramaian pengunjung terjadi pada Minggu (27/9/2026) lalu. Puluhan warga mengantre bergantian demi mendapatkan giliran berfoto dan menikmati suasana segar di bawah pohon tabebuya.
Fenomena ini membuktikan bahwa keberadaan vegetasi peneduh seperti tabebuya tidak sekadar mempercantik lanskap estetika kota, tetapi juga ampuh menghidupkan interaksi sosial masyarakat sekaligus menggerakkan roda ekonomi usaha kecil di sekitarnya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co