Dikepung Asap Kiriman dan 127 Titik Api, Udara Balikpapan Tembus Level Sangat Tidak Sehat

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 14:14 WIB
Petugas BMKG Balikpapan memantau peta pergerakan cuaca di tengah ancaman polusi udara.
Petugas BMKG Balikpapan memantau peta pergerakan cuaca di tengah ancaman polusi udara.

PROKAL.CO- Kabut asap tebal kian pekat menyelimuti Kota Balikpapan, terutama pada pagi hari. Jarak pandang yang terbatas dan bau sangit yang menusuk pernapasan mulai mengganggu aktivitas harian warga. Kualitas udara di Kota Minyak ini pun resmi merosot tajam ke kategori Tidak Sehat akibat eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian tak terkendali.

Berdasarkan pantauan data IQAir melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan pada Senin (12/10/2026), Indeks Kualitas Udara (AQI) melonjak hingga menyentuh angka 167. Konsentrasi partikel halus (PM 2.5 ) tercatat mencapai 79 mikrogram per meter kubik, sebuah sinyal bahaya yang menuntut langkah proteksi diri segera dari masyarakat.

Memburuknya kualitas udara ini berbanding lurus dengan tingginya intensitas kebakaran di wilayah setempat. Sepanjang tahun 2026 hingga pertengahan Oktober ini, BPBD Balikpapan mencatat sebanyak 127 kejadian karhutla telah menghanguskan lahan seluas 81 hektare.

"Kebakaran didominasi oleh vegetasi ilalang dan semak belukar yang mengering. Lonjakan kasus mulai tak terkendali sejak Agustus dengan 40 kejadian, dan memuncak pada September dengan 69 kejadian," terang Kepala Pelaksana BPBD Balikpapan, Usman Ali.

Angka tersebut naik drastis dibandingkan paruh pertama tahun ini yang hanya mencatat kasus dalam hitungan jari. Usman menambahkan bahwa Balikpapan Timur menjadi penyumbang kasus tertinggi dengan 50 kejadian, di mana Kelurahan Manggar mendominasi lewat 30 titik api, disusul Balikpapan Selatan dengan 31 kejadian dan Balikpapan Utara 28 kejadian.

Namun, pekatnya polusi yang melingkupi Balikpapan ternyata tak murni berasal dari dalam kota semata. Kota Balikpapan kini juga berada dalam kepungan asap kiriman dari wilayah sekitarnya.

"Kebakaran masif di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan membawa asap ke arah utara. Di saat bersamaan, eskalasi karhutla di wilayah tetangga seperti Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser turut menyumbang pekatnya kabut asap yang akhirnya menumpuk di langit Balikpapan," jelas Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan BMKG Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin.

Ancaman ini terasa kian menyiksa saat pagi hari. Huda mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat memulai aktivitas di pagi hari.

"Suhu udara yang relatif lebih rendah pada pagi hari menyebabkan partikel asap turun lebih dekat dengan permukaan bumi, membuat konsentrasinya semakin pekat dan berbahaya bagi pernapasan serta lalu lintas," papar Huda.

Kondisi ini diperparah oleh pergeseran posisi matahari ke selatan yang memicu paparan panas lebih ekstrem di wilayah selatan Kalimantan. Ironisnya, meski BMKG memantau adanya potensi tutupan awan dalam beberapa hari ke depan, formasi awan tersebut diprediksi belum cukup kuat untuk menjatuhkan hujan yang mampu menyapu kabut asap. Oleh karena itu, penggunaan masker bagi warga yang beraktivitas di luar rumah kini menjadi langkah perlindungan yang sangat krusial. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : balpos.com
balikpapan