BALIKPAPAN – Kualitas udara yang kian memburuk akibat kepungan kabut asap tebal memaksa Pemerintah Kota Balikpapan mengambil langkah tegas. Melalui Surat Edaran Wali Kota, seluruh kegiatan belajar mengajar di Balikpapan terpaksa dialihkan kembali menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sistem belajar daring guna memproteksi kesehatan para siswa dari bahaya polusi udara.
Menanggapi situasi darurat ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan, Irfan Taufik, bergerak cepat meninjau langsung pelaksanaan PJJ di sejumlah sekolah. Saat memantau proses interaksi belajar virtual di SMP Negeri 1 Balikpapan, ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk perlindungan utama bagi generasi muda.
"Hari pertama PJJ berjalan lancar. Berdasarkan surat edaran wali kota, ini adalah langkah proteksi pemerintah kota untuk menjaga kesehatan anak-anak kita. Kondisi udara kita saat ini sudah dalam kondisi yang tidak sehat," tegas Irfan Taufik saat meninjau lokasi.
Suasana kawasan Kampung Pelajar Gunung Pasir yang biasanya riuh pun mendadak lengang. Kendati tidak ada aktivitas fisik di ruang kelas, denyut proses belajar mengajar tetap berlangsung secara penuh secara virtual. Pihak sekolah mengaku tidak canggung menghadapi transisi mendadak ini karena telah memiliki pengalaman saat pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
Kepala SMP Negeri 1 Balikpapan, Untung Wahyudi, menjelaskan bahwa seluruh tenaga pengajar dan murid dapat langsung beradaptasi tanpa kendala berarti.
"Alhamdulillah, karena kita sudah terbiasa seperti musim COVID-19. Tidak ada kendala. Langsung action semua," ungkap Untung Wahyudi.
Berbeda dari skema darurat sebelumnya yang sering kali memangkas durasi belajar, kali ini pihak sekolah tetap memberlakukan jam pelajaran secara normal selama sembilan jam. Orang tua murid di rumah juga diimbau untuk turut serta melakukan pengawasan ketat selama anak-anak mengikuti proses PJJ.
Langkah darurat ini rencananya akan berjalan selama tiga hari. Meski demikian, kepastian apakah siswa dapat kembali belajar di sekolah atau harus memperpanjang masa PJJ sangat bergantung pada hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang saat ini telah menunjukkan angka tidak sehat.
Irfan Taufik menambahkan bahwa PJJ ini tidak bersifat permanen dan akan terus dievaluasi secara berkala seiring pergerakan kualitas udara di Balikpapan. "PJJ kita melihat kondisi udara nanti. Kita lihat perkembangannya selama tiga hari ini seperti apa," pungkas Irfan Taufik. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co