Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mantap, Nasabah di Berau Dapat Label Jujur dari Pegadaian, Mayoritas Barang Gadai Ditebus

Redaksi • 2025-07-21 10:10:05
BANYAK DITEBUS: Barang yang digadai masyarakat di Pegadaian Berau sebagian besar ditebus dan hanya sedikit yang masuk lelang.
BANYAK DITEBUS: Barang yang digadai masyarakat di Pegadaian Berau sebagian besar ditebus dan hanya sedikit yang masuk lelang.

 

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Barang yang masuk ke Pegadaian Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), hampir seluruhnya kembali ke tangan pemilik. Hanya satu sampai dua persen yang akhirnya dilelang lantaran tidak ditebus.

Kepala Pegadaian Cabang Tanjung Redeb, Heri Wibawa, menyampaikan tren soal gadai-menggadai ini, itu terlihat jelas terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Menurutnya, periode itu menjadi momen paling sibuk bagi layanan gadai. Brankas pegadaian bahkan pernah kosong.

“Biasanya sebelum puasa ramai. Banyak orang butuh modal untuk jualan, misalnya jualan baju, kue kering, dan lainnya. Pertengahan Ramadan biasanya mereka sudah balik modal dan menebus kembali barangnya,” jelasnya.

Kondisi tersebut menurutnya menunjukkan bahwa masyarakat Berau memanfaatkan layanan gadai secara produktif. Mayoritas menjadikan gadai sebagai cara cepat mendapatkan modal, bukan sebagai jalan terakhir.

Barang yang digadaikan pun bervariasi. Di Berau, kebanyakan berupa perhiasan emas, meski kendaraan seperti sepeda motor dan mobil juga cukup sering dijaminkan. Berbeda dengan daerah lain, seperti Madura, di mana barang seperti sarung tenun juga bisa dijadikan jaminan.

“Nasabah di Berau relatif jujur. Mereka juga membandingkan nilai taksiran. Kadang sebelum datang ke pegadaian, mereka sempat ke toko emas untuk lihat harga belinya berapa,” katanya.

Di Pegadaian sendiri telah menetapkan harga emas dengan standar kadar tertentu. Ini membuat sistem penilaian lebih terbuka. Namun, ada kalanya nasabah datang dengan niat setengah menjual. Artinya, barang yang digadai memang tidak direncanakan untuk ditebus. Meski begitu, jumlahnya sangat kecil.

“Yang sampai dilelang itu cuma satu sampai dua persen. Jadi sebagian besar tetap kembali ke pemilik,” ucapnya.

Selain Ramadan, momen lain yang ramai adalah awal tahun ajaran baru. Menurutnya, kebutuhan sekolah turut mendorong masyarakat memanfaatkan layanan gadai, meski biaya sekolah saat ini sudah ditanggung pemerintah alias gratis.

“Sekolah memang gratis, tapi tetap saja ada kebutuhan beli buku, seragam, alat tulis, dan lainnya. Biasanya masyarakat cari solusi cepat, salah satunya lewat pegadaian,” ujarnya.

Heri juga menjelaskan soal dinamika harga emas selama masa gadai. Bila selama tenor harga emas naik, maka nilai jaminan juga bisa ikut naik. Dalam kondisi tertentu, kenaikan itu bahkan bisa dimanfaatkan untuk menutupi biaya sewa.

“Misalnya ada yang memperpanjang masa gadai, tapi ternyata harga emas naik cukup tinggi, nilainya bisa menutup biaya sewanya. Jadi, nasabah tidak perlu tambah uang lagi untuk perpanjangan,” terangnya.

Ia menilai, tren gadai adalah indikator bahwa roda ekonomi masyarakat terus bergerak. Terutama karena sebagian besar nasabah yang datang membawa barang jaminan memang bertujuan untuk menjalankan usaha kecil, bukan untuk konsumsi semata. (aja/far)

Editor : Faroq Zamzami
#berau #emas #pegadaian #kaltim