MARATUA – Rencana Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk merelokasi pemukiman warga di tepian laut Pulau Maratua demi mempercantik kawasan wisata menuai penolakan keras. Kebijakan yang diusulkan oleh Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, tersebut dinilai tidak memahami akar budaya masyarakat lokal dan dianggap bukan solusi tepat dalam menangani persoalan abrasi di pulau terluar tersebut.
Wacana relokasi ini mencuat setelah kunjungan gubernur ke Kampung Payung-Payung, di mana ia mengusulkan pembongkaran tanggul batu karang dan pemindahan rumah warga di RT 02. Pemerintah berencana memperluas hamparan pasir putih guna menonjolkan estetika pantai bagi wisatawan, yang selama ini tertutup oleh deretan pemukiman penduduk di sepanjang sempadan laut.
Namun, bagi masyarakat setempat, pemukiman tersebut bukan sekadar tempat bernaung, melainkan identitas kultural. Kepala Kampung Payung-Payung, Riko, menegaskan bahwa pola hidup di atas air dan pesisir merupakan tradisi turun-temurun Suku Bajau yang sudah eksis jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, keberadaan warga justru menjadi benteng kelestarian alam, bukan penghambat kemajuan pariwisata.
Penolakan serupa disuarakan oleh Ketua Pokdarwis Batu Payung, Andriansyah. Ia menyayangkan rencana tersebut dan mendesak pemerintah untuk lebih fokus pada solusi teknis seperti pembangunan infrastruktur tetrapod atau pemecah gelombang guna mengatasi abrasi yang mengancam daratan. Warga berpendapat bahwa daripada memindahkan penduduk, pemerintah seharusnya melakukan penataan estetika di titik-titik strategis seperti pintu masuk bandara.
Masyarakat Maratua mengusulkan agar pemukiman yang ada saat ini dikembangkan menjadi pusat kuliner dan wisata budaya berbasis partisipasi warga. Bagi mereka, bertahan di pesisir adalah prinsip yang tidak bisa ditawar, meski tetap berkomitmen penuh mendukung kemajuan sektor pariwisata Berau. Warga berharap pemerintah mau mendengarkan aspirasi mereka dengan membangun dinding pemecah ombak agar kehidupan tradisional Suku Bajau tetap terjaga di tanah kelahiran mereka. (*)
Editor : Indra Zakaria