Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, menegaskan komitmennya dalam menjaga marwah profesi pendidik di wilayah Bumi Batiwakkal. Dalam sebuah pernyataan tegas di ruang kerjanya, ia menyatakan tidak akan pandang bulu terhadap oknum guru yang melakukan tindakan menyimpang atau tidak profesional. Langkah ini diambil menyusul maraknya laporan masyarakat, baik melalui jalur resmi maupun media sosial, mengenai berbagai insiden yang melibatkan guru dan murid, mulai dari kasus perkelahian, polemik pendisiplinan rambut, hingga kejadian terbaru di Berau di mana seorang guru merekam muridnya menari yang memicu kontroversi.'
Mardiatul yang juga menjabat sebagai Ketua PGRI Berau menjelaskan bahwa pihaknya telah bergerak cepat dengan memanggil pihak terkait untuk meminta keterangan serta mengonfirmasi kebenaran setiap laporan yang masuk. Ia menegaskan bahwa perlindungan tidak akan diberikan kepada guru yang gagal menjaga etika profesinya. Namun di sisi lain, Mardiatul memberikan jaminan pembelaan penuh bagi para guru yang bekerja sesuai dengan koridor hukum dan peraturan yang berlaku. Menurutnya, penting untuk memberikan rasa aman bagi guru yang benar agar mereka tetap berani menjalankan tugas pendisiplinan tanpa rasa takut.
Terkait dinamika pendidikan saat ini, Kadisdik menyarankan agar para guru lebih proaktif dalam memahami psikis anak didik, terutama generasi Z yang memiliki karakter dan dunia tersendiri. Guru diharapkan mampu "masuk ke ruang murid" untuk menghindari ketersinggungan yang dapat berujung pada konflik fisik maupun hukum. Pendekatan karakter menjadi kunci utama, di mana sekolah-sekolah di Berau telah mengimplementasikan berbagai kegiatan keagamaan seperti salat duha berjamaah dan salat wajib sebagai sarana membentuk disiplin dan moral siswa sejak dini.
Selain pendekatan agama, implementasi program "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" juga terus diperkuat di lingkungan sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter yang komprehensif. Mardiatul menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada guru semata, melainkan memerlukan kolaborasi dan sinergi yang hebat dengan orang tua siswa. Komunikasi yang terbuka antara pihak sekolah dan wali murid dianggap sebagai fondasi utama untuk meminimalisir kesalahpahaman serta menciptakan lingkungan belajar yang harmonis bagi perkembangan kualitas pendidikan di Kabupaten Berau. (*)
Editor : Indra Zakaria