Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lampaui Target, Bulog Berau Optimistis Tingkatkan Serapan Gabah Petani di Tahun 2026

Redaksi Prokal • 2026-02-18 10:45:00
Bulog Berau berhasil menyerap gabah petani di Berau lebih dari 1.000 ton pada 2025 lalu dan terus menambah penyerapan pada 2026 ini. (IZZA/BP)
Bulog Berau berhasil menyerap gabah petani di Berau lebih dari 1.000 ton pada 2025 lalu dan terus menambah penyerapan pada 2026 ini. (IZZA/BP)

 

PROKAL.CO– Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Cabang Berau mencatatkan performa impresif dalam penyerapan gabah lokal. Pada tahun lalu, Bulog Berau berhasil menyerap lebih dari 1.000 ton gabah kering petani, angka yang secara signifikan melampaui target awal sebesar 700 ton. Keberhasilan ini menjadi fondasi kuat bagi Bulog untuk meningkatkan kontribusi pangan daerah pada tahun anggaran 2026.

Memasuki awal tahun 2026, realisasi penyerapan tercatat telah mencapai 49 ton dan diprediksi akan terus bertambah seiring berlangsungnya masa panen di berbagai kampung sentra produksi padi. Kepala Operasional Bulog Berau, Ade Anggoro, menjelaskan bahwa pasokan gabah saat ini didominasi oleh hasil tani dari Kampung Buyung-Buyung, Melati Jaya, Merancang Ilir, dan Semurut. Meski angka pasti target tahun ini masih menunggu ketetapan pusat, pihaknya optimistis akan ada kenaikan target sejalan dengan sasaran nasional yang mematok angka 4 juta ton.

Optimisme Bulog Berau didukung oleh perubahan pola tanam petani di Bumi Batiwakkal yang kini mulai didorong menjadi tiga kali panen dalam setahun (IP300), dari yang sebelumnya hanya dua kali. Peningkatan frekuensi panen ini diharapkan mampu mendongkrak volume produksi padi daerah secara keseluruhan. Saat ini, terdapat sembilan kampung yang menjadi mitra rutin Bulog dalam menyerap gabah kering, dan peluang kerja sama tetap terbuka luas bagi kampung lain yang memenuhi standar kualifikasi.

Dalam memperluas kemitraan, Bulog Berau menekankan pentingnya ketersediaan fasilitas penunjang di tingkat kelompok tani, seperti mesin penggilingan padi, lantai jemur, dan ayakan yang memadai. Hal ini bertujuan agar gabah yang diserap dapat segera diolah menjadi beras berkualitas sesuai standar medium Bulog, yakni dengan kadar air maksimal 14 persen dan derajat sosoh mencapai 95–100 persen. Kehadiran lumbung padi di tingkat kampung juga terus didorong guna meminimalisir risiko kerusakan gabah selama masa penyimpanan.

Beras hasil serapan lokal tersebut nantinya akan disalurkan kepada masyarakat melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Dengan sistem distribusi first in first out, Bulog memastikan kualitas stok di gudang tetap terjaga. Saat ini, harga beras SPHP di tingkat konsumen tetap stabil di angka Rp11.300 per kilogram dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp65.500 per kemasan 5 kilogram. Pihak Bulog memastikan pengawasan ketat di tingkat agen agar tidak ada penjualan di atas HET demi menjaga keterjangkauan pangan bagi masyarakat Berau. (*)

Editor : Indra Zakaria