TANJUNG RDEB– Rencana besar organisasi masyarakat Labarimpa Bahari untuk memfilmkan sejarah perjuangan pahlawan lokal, Raja Alam Sultan Alimuddin, mulai menemui titik terang. Proyek film yang diperkirakan menelan biaya produksi sebesar Rp326 juta ini telah masuk dalam pembahasan serius di tingkat Pemerintah Kabupaten Berau.
Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) Berau, Endah Ernani Triariani, memberikan sinyal positif terkait rencana tersebut. Menurutnya, visi pembuatan film ini sangat relevan dengan upaya pelestarian nilai sejarah dan kebudayaan lokal di Bumi Batiwakkal. Meski demikian, Endah mengingatkan bahwa pencairan anggaran daerah harus melewati prosedur ketat agar tidak menabrak regulasi.
Pemerintah daerah menawarkan dua skema pendanaan yang sah secara hukum. Skema pertama adalah melalui subkegiatan di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi kebudayaan. Skema kedua adalah melalui jalur hibah, di mana organisasi penerima wajib memiliki legalitas resmi dan terdaftar di Kemenkumham minimal selama dua tahun.
Endah menjelaskan bahwa jika jalur hibah yang dipilih, Labarimpa Bahari harus mengajukan proposal kepada Bupati Berau. Nantinya, bupati akan memberikan disposisi kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sebagai OPD teknis untuk melakukan verifikasi dokumen secara menyeluruh. Jika dinyatakan layak, rekomendasi besaran dana akan dibahas oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) di bawah koordinasi Sekretaris Kabupaten.
Plt Kepala Disbudpar Berau, Warji, turut mendukung inisiatif ini sebagai langkah penting merawat ingatan publik atas kepahlawanan Sultan Alimuddin dalam mengusir penjajah. Warji menegaskan bahwa pemilihan skema akan menentukan peran organisasi dalam produksi. Jika melalui hibah, Labarimpa Bahari menjadi pengelola mandiri, namun jika melalui program OPD, organisasi tersebut akan bertindak sebagai rekanan pelaksana.
Realisasi dukungan anggaran ini nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan keuangan daerah dan kelengkapan administrasi dari pihak pengusul. Upaya ini diharapkan dapat menjadi momentum kebangkitan sinema sejarah lokal yang mampu menginspirasi generasi muda Berau di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria