Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Alarm Keras dari Berau: Kasus Asusila Anak Meningkat, DPRD Ingatkan Bahaya Orang Terdekat

Redaksi Prokal • 2026-03-15 09:15:00

Ilustrasi pelecehan seksual terhadap santri
Ilustrasi pelecehan seksual terhadap santri

TANJUNG REDEB – Meningkatnya tren kasus asusila terhadap anak di Kabupaten Berau memicu kekhawatiran serius di kalangan legislatif. Kondisi ini menjadi sinyal merah yang menuntut langkah pencegahan lebih agresif, mengingat anak-anak masih menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kekerasan seksual di lingkungan sekitar mereka.

Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menyoroti bahwa salah satu akar masalah utama adalah minimnya pemahaman anak mengenai batasan tubuh mereka sendiri. Ketidaktahuan ini membuat mereka kesulitan mengenali situasi berbahaya sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Fakta yang paling menyedihkan dalam berbagai kasus yang mencuat adalah profil pelaku yang seringkali bukan orang asing. Elita mengungkapkan bahwa pelaku kekerasan seksual justru kerap berasal dari lingkungan yang seharusnya menjadi tempat aman bagi korban. Kedekatan ini sering kali dimanfaatkan untuk memberikan tekanan atau ancaman, sehingga anak merasa takut untuk melapor.

“Sering kali pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” tegas Elita.

Situasi ini menciptakan trauma mendalam yang tidak hanya berimbas pada fisik, tetapi juga menghancurkan kondisi psikologis anak dalam jangka panjang. Dampak emosional dan hilangnya rasa percaya diri akibat trauma tersebut dikhawatirkan akan memengaruhi kemampuan anak dalam bersosialisasi hingga mereka dewasa nanti.

Menghadapi fenomena ini, DPRD Berau mendorong peran aktif keluarga sebagai lapisan perlindungan pertama. Elita menilai komunikasi terbuka antara orang tua dan anak adalah kunci, termasuk memberikan pemahaman dasar tentang perlindungan diri sejak dini.

Masyarakat pun diimbau untuk mulai membuang anggapan bahwa pendidikan seksual adalah hal tabu. Sebaliknya, pengetahuan tentang batasan tubuh justru menjadi senjata utama bagi anak untuk membentengi diri dari potensi ancaman. Menurutnya, orang tua harus memiliki keberanian untuk mendiskusikan hal ini secara edukatif demi keselamatan sang buah hati.

Selain keluarga, lembaga pendidikan juga dipandang memiliki peran strategis untuk menciptakan ruang aman dan memberikan edukasi preventif. Namun, upaya ini tidak akan maksimal tanpa adanya kerja sama yang solid antara pihak sekolah, pemerintah daerah, dan lingkungan sosial. (*)

 

Editor : Indra Zakaria