Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kopi Liberika Berau Juara Nasional, Tapi Mengapa Petaninya Masih Jalan di Tempat?

Redaksi Prokal • 2026-03-16 14:00:00

 

Salah satu kelompok tani kopi di Kampung Sambakungan mampu menghasilkan kopi liberika yang pernah menyabet juara nasional.
Salah satu kelompok tani kopi di Kampung Sambakungan mampu menghasilkan kopi liberika yang pernah menyabet juara nasional.

PROKAL.CO- Kabupaten Berau kini tidak lagi hanya bertumpu pada pesona pariwisata baharinya, melainkan mulai melirik potensi besar dari sektor perkebunan, khususnya kopi lokal. Komoditas ini dinilai memiliki karakter rasa yang unik dan khas, bahkan salah satu kelompok tani di Kampung Sambakungan telah berhasil membuktikan kualitas kopi Liberika mereka dengan menyabet prestasi di tingkat nasional.

Potensi besar ini diharapkan dapat menjadi pilar ekonomi baru bagi masyarakat jika digarap dengan strategi yang lebih serius dan terpadu.

Melihat peluang tersebut, Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman, menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani di tingkat kampung. Menurutnya, hambatan utama yang dihadapi saat ini adalah belum terbentuknya kelompok tani yang solid. Padahal, wadah organisasi ini sangat krusial untuk mempermudah akses para petani dalam mendapatkan pembinaan, pendampingan teknis, maupun bantuan alat mesin pertanian dari pemerintah daerah.

“Kelompok tani menjadi kunci agar pengembangan kopi ini bisa lebih terarah. Dengan kelembagaan yang kuat, para petani akan lebih mudah mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen,” ujar Sakirman.

Selain urusan kelembagaan, aspek hilirisasi juga menjadi perhatian serius. Pengembangan kopi Berau perlu didukung dengan penyediaan sarana produksi yang modern, seperti fasilitas pengeringan yang memadai hingga mesin roasting biji kopi. Infrastruktur ini sangat penting agar produk kopi lokal memiliki standar kualitas yang mampu bersaing, baik untuk pasar domestik maupun luar daerah.

Ironisnya, saat ini banyak kedai kopi di Berau yang justru masih mendatangkan pasokan biji kopi dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan operasional mereka. Situasi ini dipandang sebagai peluang pasar yang sangat terbuka lebar bagi petani lokal. Jika produksi kopi lokal dapat digenjot dan kualitasnya konsisten, maka ketergantungan pada pasokan luar bisa dikurangi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi para petani di kampung-kampung.

Melalui program pembinaan yang berkelanjutan dan kerja sama lintas sektor, pemerintah daerah diharapkan dapat terus mendorong ekosistem perkebunan kopi yang sehat. Harapannya, di masa depan kopi Berau tidak hanya menjadi komoditas sampingan, tetapi mampu bertransformasi menjadi produk unggulan daerah yang memberikan nilai tambah ekonomi signifikan bagi Kabupaten Berau secara keseluruhan. (*)

Editor : Indra Zakaria