TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau berhasil mengukuhkan posisinya sebagai magnet utama pariwisata di ujung Kalimantan Timur. Memasuki awal tahun 2026, khususnya pasca-libur Lebaran, Bumi Batiwakkal mencatatkan sejarah baru dengan lonjakan kunjungan wisatawan yang menembus angka 100 ribu orang. Capaian fantastis ini disebut-sebut sebagai rekor kunjungan tertinggi dalam lima tahun terakhir, sekaligus menjadi sinyal kuat kebangkitan ekonomi sektor non-tambang di daerah tersebut.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengungkapkan rasa syukurnya atas antusiasme pelancong yang luar biasa, di mana sekitar 250 orang di antaranya merupakan wisatawan mancanegara. Keberadaan Jembatan Nibung yang kini telah beroperasi dinilai menjadi salah satu faktor kunci yang memperlancar aksesibilitas darat, melengkapi jalur udara yang juga tengah berada di puncak performa. Saat ini, tercatat ada empat maskapai yang melayani rute ke Berau dengan tingkat keterisian kursi yang hampir selalu menyentuh angka 100 persen setiap harinya.
Peningkatan drastis ini berdampak langsung pada nadi ekonomi kerakyatan. Destinasi unggulan seperti Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, hingga jernihnya air di Bidukbiduk kini menjadi incaran utama. Efek dominonya pun sangat terasa; mulai dari penginapan yang penuh dipesan hingga geliat pelaku UMKM yang kebanjiran pembeli. Wisatawan kini tidak hanya datang untuk memanjakan mata dengan keindahan alam, tetapi juga berburu kuliner tradisional, cenderamata, dan pengalaman budaya autentik yang ditawarkan oleh 26 destinasi utama di Berau.
Bupati Sri Juniarsih menekankan bahwa momentum ini harus menjadi titik balik bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk lebih percaya diri dan meningkatkan standar kualitas produk mereka. Pemerintah Kabupaten Berau memang tengah serius mengalihkan fokus pertumbuhan ekonomi dari ketergantungan pada sektor sumber daya alam, seperti pertambangan, menuju sektor pariwisata yang lebih berkelanjutan. Baginya, pariwisata adalah masa depan yang mampu menyentuh langsung kesejahteraan masyarakat di berbagai lapisan.
Namun, rekor ini juga mendatangkan tantangan besar bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Lonjakan pengunjung menuntut kesiapan fasilitas publik, layanan kebersihan, hingga kualitas keramah-tamahan yang lebih mumpuni. Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha untuk bersinergi menjaga "Mutiara" di ujung Kalimantan ini agar tetap berkilau. Dengan kolaborasi yang aktif, diharapkan pariwisata Berau tidak hanya menjadi primadona musiman, tetapi tumbuh menjadi industri yang kokoh dan disegani secara internasional. (*)
Editor : Indra Zakaria