TANJUNG REDEB – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini mulai berdampak nyata hingga ke pelosok daerah di Indonesia. Sektor transportasi udara di Kabupaten Berau menjadi salah satu yang terdampak paling awal akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) yang meroket hingga 70 persen.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Kantor UPBU Kelas I Kalimarau, Patah Atabri, mengungkapkan bahwa situasi global ini telah memicu pembatalan operasional maskapai. Pada Selasa (7/4), maskapai Batik Air terpaksa membatalkan jadwal penerbangan dari dan menuju Berau, khususnya untuk rute yang terkoneksi dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Tangerang) dan Bandara Juanda (Surabaya).
Selain karena faktor low season, kenaikan harga avtur yang sangat drastis menjadi alasan utama maskapai melakukan efisiensi. Patah menyebutkan bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian kini tengah mengkaji penyesuaian tarif tiket pesawat secara nasional.
"Potensi kenaikan harga tiket berkisar antara 9 sampai 13 persen. Hal ini akan segera dibahas bersama Komisi V DPR RI. Kami masih menunggu keputusan resmi apakah usulan penyesuaian tarif tersebut disetujui atau tidak," jelas Patah.
Meski maskapai reguler lainnya di Bandara Kalimarau belum mengajukan perubahan jadwal secara resmi, dampak kenaikan harga sudah mulai dirasakan langsung oleh calon penumpang. Di platform penjualan tiket daring, harga rute Berau–Balikpapan yang biasanya dibanderol Rp600 ribu hingga Rp700 ribu, kini terpantau melonjak di kisaran Rp800 ribu hingga Rp1 juta.
Kondisi ini mendapat perhatian serius dari Bupati Berau, Sri Juniarsih. Ia mengakui bahwa kenaikan harga tiket akan menjadi beban berat bagi mobilitas masyarakat serta sektor pariwisata yang menjadi unggulan daerah.
Bupati menyatakan akan segera menjalin komunikasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) di tingkat provinsi maupun otoritas penerbangan untuk mencari solusi alternatif. Ia berharap pemerintah provinsi dapat menjembatani persoalan harga avtur ini agar dampaknya terhadap masyarakat Berau bisa diminimalisasi.
"Ini adalah imbas dari situasi global yang memengaruhi harga energi dunia. Kita tidak bisa berjanji banyak, namun kami akan mengomunikasikan hal ini. Harapan kita tentu gejolak perang di luar sana segera mereda agar harga energi kembali normal dan tidak membebani ekonomi daerah," pungkas Sri Juniarsih. Dampak dari krisis energi ini dikhawatirkan akan memicu efek domino, mulai dari penurunan angka kunjungan wisata ke destinasi unggulan seperti Derawan dan Maratua, hingga kenaikan biaya logistik yang masuk melalui jalur udara ke Bumi Batiwakkal. (*)
Editor : Indra Zakaria