Realita Menghadapi Karhutla di Berau, Petugas Terbatas, Tak Ada Anggaran Khusus untuk BBM  

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:44 WIB
TANGANI: Disdamkarmat, BPBD dan tim gabungan masih terus berjibaku memadamkan karhutla yang terjadi dibeberapa titik yang ada di Kabupaten Berau. ARTA KUSUMA YUNANDA/KP
TANGANI: Disdamkarmat, BPBD dan tim gabungan masih terus berjibaku memadamkan karhutla yang terjadi dibeberapa titik yang ada di Kabupaten Berau. ARTA KUSUMA YUNANDA/KP

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB –Seorang personel Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau pingsan saat berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di poros Kasai–Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Senin (10/8/2026).

 “Iya memang benar video yang sempat viral itu (petugas pingsan) merupakan personel kami. Karena, memang pada saat melakukan pemadaman personel tersebut berjibaku dan akhirnya pingsan,” ungkap Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan, Disdamkarmat Berau, Nofian Hidayat, kepada Berau Post (grup Prokal.co), Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Resensi Novel Kiri Sampai Sini, Kisah Asmara Mahasiswa di Samarinda dengan Bumbu-Bumbu Politiknya

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi gambaran nyata mengenai keterbatasan personel yang masih dihadapi Disdamkarmat Berau dalam menangani kondisi darurat, khususnya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah yang cukup jauh dari pusat pemerintahan. 

Saat ini, kata Nofian, jumlah personel pemadam kebakaran yang tersedia di setiap kecamatan relatif terbatas. Rata-rata hanya sekitar tiga orang yang harus dibagi dalam sistem pergantian atau shift.

Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra ketika terjadi kebakaran, terlebih apabila karhutla muncul secara bersamaan di sejumlah wilayah. 

“Personel kita memang terbatas. Di kecamatan rata-rata hanya sekitar tiga orang dan harus dibagi shift. Kalau ada kejadian yang cukup luas, tentu penanganannya menjadi lebih berat,” jelasnya.

Persoalan yang dihadapi Disdamkarmat Berau bukan hanya keterbatasan sumber daya manusia. Dukungan anggaran operasional untuk penanganan karhutla juga menjadi salah satu kendala di lapangan. 

Nofian mengungkapkan, Disdamkarmat Berau bahkan tidak memiliki alokasi khusus bahan bakar minyak (BBM) untuk kegiatan pemadaman karhutla. Kondisi tersebut membuat penggunaan BBM harus dilakukan secara terbatas dan disesuaikan dengan skala prioritas. 

“Terpaksa kita membatasi BBM untuk kegiatan penanganan karhutla. Kecuali kalau kebakaran permukiman, itu tetap kita prioritaskan,” katanya.

Menurutnya, persoalan tersebut cukup krusial mengingat Disdamkarmat merupakan organisasi perangkat daerah (OPD) teknis yang berada di garis depan ketika terjadi kebakaran maupun kondisi kedaruratan lainnya. 

Baca Juga: Usai Bakar Kantor Diskominfo Kukar, Pekerja Kontrak Babak Belur Dihakimi Pegawai

Petugas di lapangan dituntut bergerak cepat begitu menerima laporan, sementara untuk menjangkau lokasi karhutla yang berada jauh dari pusat kota dibutuhkan dukungan operasional yang tidak sedikit. 

“Disdamkarmat ini OPD teknis di lapangan, eksekutor ketika ada bencana seperti kebakaran dan lainnya. Seharusnya didukung dengan SDM dan anggaran yang memadai. Bahkan untuk BBM memadamkan karhutla saja kita tidak ada anggarannya,” tegasnya.

Ia menyayangkan kondisi tersebut. Sebab, tuntutan terhadap petugas pemadam di lapangan sangat besar. Mereka harus berhadapan langsung dengan api, panas, asap, medan sulit, hingga jarak lokasi kebakaran yang cukup jauh. Menurut Nofian, insiden seorang petugas yang sampai tumbang saat menjalankan tugas seharusnya menjadi perhatian bersama. 

Penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan kesiapan armada dan personel, tetapi juga dukungan anggaran operasional yang memadai. 

“Ini cukup kita sayangkan. Kita sebagai OPD eksekutor ketika ada bencana, tetapi masih memiliki banyak keterbatasan,” pungkasnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, ancaman karhutla di Kabupaten Berau masih cukup tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau mencatat sebanyak 923 titik panas (hotspot) tersebar di wilayah Kabupaten Berau dalam periode pengamatan terbaru. 

Kecamatan Segah dan Pulau Derawan menjadi dua wilayah yang mendapat perhatian karena memiliki konsentrasi titik panas cukup tinggi.

Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan tingginya kemunculan hotspot tidak terlepas dari kondisi atmosfer yang relatif kering. Minimnya curah hujan, suhu maksimum harian yang tinggi, serta pergerakan angin menjadi sejumlah faktor yang meningkatkan potensi munculnya titik panas. 

“Pergerakan angin juga berpotensi meningkatkan kemunculan titik hotspot di wilayah Berau,” ungkap Ade saat dihubungi.

Dengan kondisi hujan yang masih rendah dan permukaan tanah yang semakin mudah terbakar, BMKG mengingatkan masyarakat maupun seluruh pemangku kepentingan agar meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki potensi karhutla tinggi. 

Ade meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran. “Tidak melakukan pembakaran lahan atau aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran,” imbaunya.

Baca Juga: Sambut Maulid Rasululullah Muhammad, BP Islamic Center Kaltim Buka Donasi untuk Sesama 

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan kepada pihak berwenang. Selain itu, masyarakat diimbau aktif mengikuti perkembangan informasi cuaca dan potensi kebakaran dari sumber resmi. 

BMKG Berau, lanjut Ade, akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi cuaca, curah hujan, serta perkembangan hotspot di wilayah Kabupaten Berau. “BMKG akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca, curah hujan, dan hotspot di wilayah Kabupaten Berau serta menyampaikan informasi terkini kepada masyarakat,” tuturnya. (aky/far)

Editor : Faroq Zamzami
karhutla berau pulau derawan