TANJUNG REDEB – Musim kemarau panjang yang mengepung Kabupaten Berau membuat amuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berada pada level mengkhawatirkan. Laporan titik api melesat tajam di hampir seluruh kecamatan, membuat armada pemadam kewalahan hingga harus memeras keringat di lapangan secara marathon.
Dua titik paling membara berada di kawasan Limunjan dan Labanan. Di Limunjan, petugas penjinak api bahkan terpaksa bersiaga dan bertempur memadamkan kobaran api selama lima hari berturut-turut. Sementara di Labanan, frekuensi ledakan titik api kian tak terkendali dengan catatan hingga lima kali kejadian kebakaran dalam satu hari.
Menghadapi situasi gawat ini, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) bersama BPBD Berau langsung menggelar rapat koordinasi darurat untuk membagi peta kekuatan. Namun, Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, secara terbuka mengakui keterbatasan amunisi pemerintah—mulai dari minimnya personil, keterbatasan armada, hingga pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Atas dasar itu, Rakhmadi melayangkan teguran keras dan mendesak sektor swasta untuk berhenti menjadi penonton. Pasalnya, mayoritas titik api yang mengepul justru berada di dalam wilayah konsesi perusahaan pertambangan dan perkebunan.
"Keseriusan seluruh pihak sangat dibutuhkan! Sebagian besar titik karhutla berada di dalam wilayah konsesi, baik pertambangan maupun perkebunan. Perusahaan harus bertanggung jawab penuh mendatangi dan memadamkan titik api di wilayah mereka sendiri," tegas Rakhmadi tanpa kompromi.
Selain wajib memadamkan api di lahan milik sendiri, pihak swasta juga dituntut untuk menyokong kebutuhan logistik bagi tim penanganan karhutla yang menguras tenaga di tingkat kecamatan.
Di tengah sorotan tajam tersebut, Rakhmadi mengapresiasi respons cepat PT Hutan Sanggam Berau (HSB) di Labanan yang dinilai sigap terjun memadamkan api. Ia menuntut langkah konkrit ini segera ditiru oleh puluhan perusahaan swasta lainnya di Berau.
Tak hanya sektor korporasi, ancaman api yang kian mendekati permukiman warga juga memicu peringatan serius bagi masyarakat umum. "Kami imbau warga meningkatkan kewaspadaan ekstra. Jaga lingkungan sekitar rumah dan jangan biarkan ada bahan-bahan berbahaya yang mudah terbakar menumpuk dekat permukiman hingga memicu bencana," tandas Rakhmadi. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co