PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Jadwal tanam padi di Kabupaten Berau diperkirakan mengalami kemunduran. Kondisi tersebut berkaitan dengan prediksi datangnya hujan yang diperkirakan baru terjadi pada awal hingga pertengahan Oktober 2026.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini, mengatakan petani perlu menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi cuaca.
Sebab, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan tanaman padi, khususnya pada musim rendengan atau musim hujan.
Baca Juga: Imbas Kondisi Hidrometeorologi Kering di Berau Mulai Pengaruhi Penerbangan, Satu Maskapai Minta Ini
“September-Oktober akan mundur waktu tanam padinya. Karena prediksi hujan baru terjadi paling cepat awal Oktober, bahkan bisa di minggu kedua Oktober baru ada hujan,” ujar Lita.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat jadwal tanam pada Oktober masih menjadi perhatian. Jika petani memaksakan penanaman ketika kondisi air belum mencukupi, risiko tanaman tidak berkembang optimal hingga gagal panen bisa meningkat.
Karena itu, pemerintah daerah masih akan melihat perkembangan kondisi cuaca sebelum menentukan langkah lebih lanjut. Penyesuaian waktu tanam dinilai lebih penting dibanding memaksakan pola tanam yang berpotensi merugikan petani.
“Kita lihat lagi kondisi seperti apa. Kapan waktu tanam padi, waktu rendengan atau musim hujan. Jadi kita harap tidak ada gagal panen lagi,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau juga menyiapkan langkah untuk menjaga kepastian pasar bagi hasil produksi petani.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan pemerintah daerah akan mendorong sinergi dengan Perum Bulog, terutama dalam menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani.
Baca Juga: Bakar Lahan Demi Perkebunan Sawit: Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla dan Sita Ribuan Barang Bukti
Kepastian harga dan pasar menjadi bagian penting dalam menjaga semangat petani untuk meningkatkan produksi. Petani tidak hanya membutuhkan dukungan dari sisi budidaya, tetapi juga kepastian bahwa hasil panen mereka dapat terserap dengan harga yang layak.
“Bulog saya ajak bersinergi dan jaga stabilitas harga gabah di tingkat petani dan jaminan pasar yang sehat akan menjadi stimulus bagi produksi tanpa rasa,” ujarnya.
Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi petani ketika memasuki masa panen. Dengan adanya jaminan pasar dan harga yang lebih stabil, petani memiliki kepastian dalam menghitung biaya produksi sekaligus pendapatan yang akan diperoleh.
Ditegaskan, sektor pertanian merupakan salah satu pilar pembangunan daerah. Pemkab Berau berkomitmen mendorong kemandirian pangan sehingga kebutuhan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Baca Juga: Kasus ISPA Balikpapan Masih Stabil, Dinkes Minta Warga Tetap Waspada Debu Kemarau
“Kita tidak boleh bergantung pasokan dari luar daerah. Tentu harus mandiri karena potensi kita dengan daerah lain itu sama,” katanya.
Keberadaan petani tentunya memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Berau. Karena itu, pemerintah daerah memberikan penghargaan kepada para petani yang dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan pangan. (aja/far)
Editor : Faroq Zamzami