Operasi Modifikasi Cuaca di Berau Dimulai, Siapkan 10 Ton Garam Khusus untuk Menyemai Awan

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:54 WIB
PERSIAPAN: BNPB RI dan BMKG RI telah bersiaga di Bandara Kalimarau, Berau, mulai Senin (24/8/2026) hingga lima hari ke depan untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). SENO/BERAU POST
PERSIAPAN: BNPB RI dan BMKG RI telah bersiaga di Bandara Kalimarau, Berau, mulai Senin (24/8/2026) hingga lima hari ke depan untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). SENO/BERAU POST

PROKAL.CO, TELUK BAYUR - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) RI mulai melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Senin (24/8/2026). 

Langkah ini sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau. 

Operasi dijadwalkan berlangsung selama lima hari ke depan. Dalam pelaksanaannya, BNPB dan BMKG menyiapkan satu pesawat Cessna Grand Caravan 208B yang akan digunakan untuk melakukan penyemaian awan guna mendorong terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan.

Baca Juga: Sepasang Kekasih di Kabupaten Berau Ini Diduga Kompak Edarkan Sabu-Sabu, Polisi Sita 7,61 Gram

Untuk mendukung operasi tersebut, disiapkan sekitar 10 ton bahan semai berupa garam khusus. Setiap satu kali penerbangan, pesawat dapat membawa hingga satu ton bahan semai.

Apabila persediaan tersebut tidak mencukupi selama pelaksanaan operasi, tambahan bahan akan dikirim dari Jakarta.

Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat, BNPB RI, Tono Sumarsono, mengatakan OMC merupakan tindak lanjut atas permintaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau kepada pemerintah pusat.

“Dasarnya dari permintaan Bupati kepada Kepala BNPB dan Kepala BMKG,” ujar Tono. 

Menurutnya, OMC menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap upaya penanganan karhutla di Berau. Pelaksanaan kegiatan nantinya melibatkan lintas sektor, mulai dari BNPB, pemerintah daerah, pihak bandara hingga stasiun meteorologi setempat.

Baca Juga: Operasi Modifikasi Cuaca di Kaltim-Kalteng, Hujannya di Kabupaten Balangan Kalsel

Dalam operasionalnya, setiap penerbangan akan dilakukan berdasarkan rekomendasi Direktorat Modifikasi Cuaca. Artinya, pesawat tidak akan diterbangkan secara sembarangan, melainkan menunggu kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang dinilai memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.

“Pesawat ini bergantung pada potensi awan yang ada,” jelasnya.

Pesawat tersebut memiliki kapasitas membawa satu ton bahan semai dalam satu kali operasi, dengan empat awak yang terdiri atas pilot, co-pilot, serta dua saintis. Tim akan bersiaga di posko untuk memantau perkembangan awan hingga sore bahkan malam hari.

Begitu ditemukan potensi awan yang sesuai, proses pengisian bahan semai ditargetkan berlangsung maksimal sekitar 30 menit sebelum pesawat diberangkatkan.

“Kita tidak ada target berapa kali semai. Kalau ada potensinya, akan kita maksimalkan,” katanya.

Tono menegaskan, tujuan utama OMC bukan mengejar jumlah penerbangan maupun penyemaian, tetapi menghasilkan hujan. Karena itu, pelaksanaan sangat bergantung pada kondisi awan yang tersedia.

Pesawat yang digunakan dalam operasi di Berau tersebut sebelumnya juga digunakan untuk kegiatan serupa di Kalimantan Selatan (Kalsel). Armada itu kemudian dialihkan sementara selama lima hari untuk mendukung penanganan karhutla di Berau.

Sementara itu, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda Kedeputian Modifikasi Cuaca BMKG RI, Hari Saputro, mengatakan kondisi awan di Berau pada hari pertama pelaksanaan cukup mendukung. Potensi awan terlihat sejak pagi dan diperkirakan masih berkembang hingga sore bahkan malam hari. “Potensi awannya cukup banyak di Berau,” ujarnya.

Baca Juga: Klarifikasi Istana: Mensesneg Bantah Haji Isam Ditunjuk Pimpin Pemadaman Karhutla Kalsel

Hari menjelaskan, keberadaan awan menjadi syarat utama dalam pelaksanaan modifikasi cuaca.

OMC tidak bertujuan menciptakan awan baru, melainkan memanfaatkan awan yang sudah terbentuk secara alami untuk kemudian disemai agar proses terbentuknya hujan dapat dipercepat. “Kita membutuhkan awan karena kita tidak membuat awan,” katanya.

Bahan semai yang digunakan bukan garam biasa yang tersedia di pasaran. Material tersebut merupakan garam khusus dengan tingkat kehalusan sekitar 0,1 mikrometer sehingga dapat digunakan untuk proses penyemaian awan. “Ini bukan garam yang ada di pasar, ukurannya lebih halus,” jelas Hari.

Menurutnya, awan yang menjadi sasaran penyemaian juga harus memiliki kandungan uap air yang cukup. Setelah bahan semai dimasukkan ke dalam awan yang memenuhi kriteria, proses menuju turunnya hujan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam.

Meski demikian, Hari menyebut keberhasilan OMC tetap sangat bergantung pada kondisi awan. Tingkat keberhasilannya diperkirakan berada pada kisaran 30 hingga 50 persen untuk menghasilkan hujan. 

Dengan pelaksanaan OMC selama lima hari tersebut, pemerintah berharap potensi hujan di Berau dapat dimaksimalkan sebagai bagian dari upaya penanganan karhutla.

Operasi ini sekaligus menjadi bentuk sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak dalam menghadapi kondisi kebencanaan yang tengah terjadi. (sen/far)

Editor : Faroq Zamzami
bnpb operasi modifikasi cuaca bmkg berau