PROKAL.CO, SAMARINDA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan membayangi Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA Labanan yang berada di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Api yang sempat membakar kawasan di sekitar hutan dilaporkan terus mendekati area pusat rehabilitasi. Dalam kondisi paling kritis, titik api berada pada jarak sekitar 500 meter dari kawasan kandang dan permukiman staf.
KHDTK Labanan merupakan salah satu kawasan penting bagi habitat orang utan Kalimantan, khususnya subspesies Orang Utan Morio (Pongo pygmaeus morio). Di kawasan tersebut, Centre for Orangutan Protection (COP) mengelola pusat rehabilitasi yang dikenal sebagai BORA atau Borneo Orangutan Rescue Alliance Labanan.
Manager BORA-COP, Widi Nursanti, mengatakan tim di lapangan telah berjibaku memadamkan api yang mengancam kawasan rehabilitasi dalam beberapa hari terakhir. Pemadaman dilakukan bersama Manggala Agni dan relawan dengan menyisir kawasan bekas terbakar serta melokalisasi titik-titik api yang masih berpotensi meluas.
"Saat ini Pusat Rehabilitasi Orangutan COP yang berada di KHDTK Labanan terancam oleh kebakaran hutan dan lahan. Tim Centre for Orangutan Protection telah berjibaku untuk memadamkan api, baik di radius terdekat yaitu 500 meter dari pusat rehabilitasi hingga radius terluar," kata Widi, Senin 31 Agustus 2026.
Menurut dia, hujan yang turun setelah beberapa hari pemadaman memberikan ruang bernapas bagi tim di lapangan. Curah hujan membantu proses pembasahan area terdampak sekaligus memperlambat pergerakan api. Namun, ancaman belum sepenuhnya berakhir. Tim tetap disiagakan karena kondisi musim kering masih berpotensi memicu munculnya titik api baru. "Ancaman iklim tetap menghantui kami. Kami terus bersiaga untuk memastikan kawasan kami aman," ujarnya.
Abu Kebakaran Mulai Mencapai Kandang Orangutan
Ancaman karhutla juga mulai dirasakan langsung di area rehabilitasi satwa. Abu sisa kebakaran dilaporkan sempat beterbangan dan jatuh di sekitar kandang Ambon, salah satu individu orang utan yang sedang menjalani program rehabilitasi dan pelatihan. Dokter hewan COP, drh Wardiman, mengatakan tim medis meningkatkan pemantauan terhadap kondisi kesehatan Ambon sebagai langkah antisipasi terhadap paparan asap dan abu kebakaran.
Dalam beberapa malam sebelumnya, api bahkan sempat berada kurang dari satu kilometer dari lokasi kandang.
"Beberapa hari yang lalu kami sudah melihat beberapa abu sisa bakaran yang sempat berada di dekat kandang Ambon. Pada malam-malam sebelumnya, api sempat berada sekitar kurang dari satu kilometer dari kandang," kata Wardiman.
Meski demikian, berdasarkan pemeriksaan berkala, kondisi kesehatan Ambon masih dalam keadaan baik. Tim medis melakukan sejumlah pemeriksaan, mulai dari kondisi pernapasan, urinalisis, pemeriksaan feses, tingkat hidrasi, hingga aktivitas dan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan gangguan berarti. Urinalisis Ambon dalam kondisi normal dan pemeriksaan feses tidak menemukan паразit.
Nafsu makan dan kemampuan bergeraknya juga masih baik. "Dari pernapasan masih normal. Kondisi dehidrasi juga baik, tidak tergolong dehidrasi. Mukosa mulut masih pink dan CRT di bawah dua detik," ujar Wardiman. Animal keeper sekaligus trainer Ambon, Wildan, mengatakan aktivitas pelatihan orang utan tersebut sejauh ini masih berlangsung dalam kondisi kondusif.
Namun, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan karena titik api masih ditemukan di luar kawasan BORA Labanan. "Di luar kawasan BORA Labanan masih terdapat titik api sekitar 500 meter sampai satu kilometer. Karena itu, kawasan hutan ini harus terus dijaga dari ancaman karhutla," katanya.
Siapkan Skenario Evakuasi
COP juga telah menyiapkan skenario darurat apabila kebakaran kembali membesar dan api bergerak semakin dekat ke pusat rehabilitasi. Dalam skenario terburuk, orang utan yang berada di kawasan tersebut, termasuk Ambon, akan dievakuasi menuju lokasi rehabilitasi cadangan COP di Kampung Tasuk, Kabupaten Berau.
Kesiapan evakuasi mencakup kendaraan operasional, kandang transport khusus satwa liar, perlengkapan medis darurat, serta tim medis dan personel evakuasi yang disiagakan selama 24 jam. Sementara itu, tim gabungan masih melakukan pemantauan terhadap kawasan sekitar KHDTK Labanan meskipun hujan telah membantu meredakan kebakaran.
Widi berharap ancaman kebakaran hutan dapat menjadi perhatian bersama, terutama di tengah kondisi cuaca kering yang masih berpotensi memicu karhutla. "Dalam situasi seperti ini, marilah kita berhenti membakar lahan dan menjaga kekayaan terakhir kita, yaitu hutan," kata Widi. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co