PROKAL.CO, TANJUNG REDEB –Kabupaten Berau salah satu penghasil terasi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Pelaku usaha ini memproduksi ratusan ton terasi setiap bulan.
Realita ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pemasaran produk olahan hasil laut tersebut.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan selama ini, sebagian besar produksi sudah dipasarkan ke luar daerah, karena kemampuan pasar lokal belum mampu menyerap seluruh hasil produksi.
Baca Juga: Transaksi KKPD PPU Naik Tajam, Peringkat Digitalisasi Daerah Melompat ke Posisi Dua
Pemkab Berau terus mendorong agar produk terasi tidak sekadar keluar daerah sebagai bahan olahan, tetapi juga membawa identitas Berau melalui penguatan merek dan pemasaran, sehingga ke depan bisa membidik pasar lebih luas lagi, yakni internasional.
Dikatakan Sri Juniarsih, potensi terasi yang dihasilkan masyarakat cukup besar untuk dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan daerah.
Karena itu, promosi dan penguatan branding sangat penting agar produk tersebut dapat dikenal lebih luas sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat yang terlibat dalam produksinya.
“Terasi Berau ini luar biasa, tapi sering diklaim orang lain. Saya ingin memutus mata rantai itu supaya manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Berau,” ujarnya.
Apalagi, berdasarkan data Dinas Perikanan (Diskan) Berau, produksi terasi mencapai sekitar 140 ton setiap bulan atau 1.680 ton dalam setahun.
Besarnya produksi tersebut membuat pasar Berau belum mampu menampung seluruh hasil olahan. Pemasaran ke luar daerah menjadi pilihan yang selama ini dijalankan oleh para pelaku usaha dan nelayan.
Baca Juga: PLTS Sebatik 150 kWp Beroperasi, PLN Perluas Energi Bersih hingga Tapal Batas
Sementra itu, Kepala Bidang Budidaya, Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Budiono, menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena kapasitas produksi masyarakat memang jauh lebih besar dibandingkan daya serap pasar lokal.
“Makanya kalau kita kelola sendiri, daya serap pasar di Berau tidak cukup,” bebernya.
Selama ini, terasi Berau banyak dipasarkan melalui jalur perdagangan antarpulau, terutama menuju Pulau Lombok dan Surabaya. Selama ini hubungan usaha telah lama terbangun antara nelayan di Berau dengan pedagang dari luar daerah.
Salah satunya adalah pemenuhan bahan baku pendukung produksi, termasuk garam yang disediakan oleh pedagang atau penampung dari luar daerah. Kerja sama yang sudah berlangsung lama itu membuat hubungan perdagangan antara nelayan dan penampung tetap berjalan.
“Bahan baku garam itu memang disediakan oleh penampung atau pedagang dari Lombok yang sudah dulu bermitra dengan para nelayan. Sejauh mereka saling menguntungkan,” jelasnya.
Selanjutnya, pekerjaan rumah yang harus dilakukan adalah hilirisasi dan identitas produk.
Terasi dari Berau selama ini tidak seluruhnya dipasarkan dengan identitas asal daerah. Sebagian dikirim dalam bentuk setengah jadi untuk kemudian dikemas kembali di luar daerah.
Hal itu membuat produk yang sebenarnya berasal dari Berau berpotensi kehilangan identitas ketika berada di pasar yang lebih luas.
Karena itu, penguatan merek lokal menjadi salah satu perhatian agar produk terasi memiliki ciri dan identitas yang lebih jelas.
Saat ini, ada empat wilayah yang menjadi sentra produksi terasi di Berau, yakni Batu Putih, Pegat Batumbuk, Pulau Derawan, dan Biatan.
Batu Putih disebutnya telah ditetapkan sebagai sentra kawasan industri terasi oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau.
Pengembangan kawasan tersebut nantinya juga diarahkan pada penataan rantai usaha dari hulu hingga hilir. Pemerintah daerah tengah menyiapkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), melibatkan Diskan, Diskoperindag, serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Baca Juga: Bapelitbang PPU Bidik Ekonomi Tumbuh dari Hulu, Hilirisasi Jadi Kunci
Tujuannya untuk memetakan berbagai bentuk produk terasi yang dihasilkan masyarakat, mulai dari terasi kering, basah hingga cair. Selain itu, akan menyiapkan dukungan sarana dan prasarana serta regulasi yang dapat mendukung masuknya investasi.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai jual produk, tetapi juga membangun rantai industri yang lebih terarah. Dengan begitu, masyarakat yang selama ini berproduksi tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi turut mendapatkan manfaat lebih besar dari perkembangan produk hingga ke pasar.
“Apabila ekosistem industrinya sudah terbentuk dengan baik, kita ingin terasi Berau tidak hanya berhenti diproduksi, tetapi juga memiliki identitas yang kuat,” katanya. (aja/far)
Editor : Faroq Zamzami