Bupati Berau Ajak Petani Geluti Kakao sebagai Komoditas Unggulan

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 06:38 WIB
SIAP DISALURKAN: Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat melihat pusat pembibitan kakao hasil pengajuan kepada Kementerian Pertanian. KPG
SIAP DISALURKAN: Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat melihat pusat pembibitan kakao hasil pengajuan kepada Kementerian Pertanian. KPG

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus mendorong pengembangan kakao sebagai salah satu komoditas perkebunan yang dinilai memiliki peluang ekonomi cukup besar.

Upaya tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari penyediaan bibit, perluasan lahan, hingga pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

Salah satu dukungan yang disiapkan Pemkab Berau ialah 200 ribu bibit kakao untuk delapan kelompok tani yang tersebar di enam kampung sentra kakao.

Bibit tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan tanaman kakao pada lahan seluas 200 hektare.

Kesiapan bibit ditinjau langsung Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, di lokasi persemaian UPT Pertanian Kecamatan Sambaliung, Sabtu (3/10/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi dan kesiapan bibit sebelum disalurkan kepada kelompok tani penerima.

Baca Juga: Perjuangkan Penambahan Kuota BBM di Berau, Bupati Sri Juniarsih Audiensi ke BPH Migas 

Sri Juniarsih mengatakan, bantuan tersebut merupakan tindak lanjut dari usulan Pemkab Berau kepada Kementerian Pertanian.

Usulan itu disampaikan ketika dirinya bertemu Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam forum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

“Ini upaya kami yang langsung mengusulkan kepada Kementerian Pertanian. Alhamdulillah, bantuan untuk 200 hektare sudah siap disalurkan,” ungkapnya.

Menurutnya, pengembangan kakao memiliki prospek karena kondisi lahan di Berau dinilai mendukung komoditas tersebut. Selain itu, produk kakao dari Berau telah memiliki pasar hingga ke luar negeri.

Atas dasar itu, pemerintah daerah tidak hanya berupaya meningkatkan luas areal tanam, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas dan produktivitas. Dengan demikian, kakao asal Berau diharapkan mampu memiliki daya saing sekaligus memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.

“Berau dengan kultur tanahnya sangat cocok untuk budidaya kakao. Kita ingin produksi cokelat dari Berau semakin meningkat,” jelas Sri Juniarsih.

Ia berharap bantuan bibit tersebut dimanfaatkan secara optimal oleh kelompok tani.

Pengelolaan kebun secara baik dinilai dapat membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian di kawasan sentra kakao.

Pemkab Berau juga memastikan dukungan tidak berhenti pada distribusi bibit.

Pendampingan melalui perangkat daerah dan tenaga penyuluh akan terus diberikan, termasuk mengupayakan bantuan pupuk dan tambahan bibit untuk memperluas areal pengembangan.

Baca Juga: Pasar Tak Lagi Sebatas Lokal, Wabup Berau Gamalis Dorong UMKM Melek Digital

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Berau, Lita Handini, menjelaskan kebutuhan bibit ditetapkan sekitar 1.000 batang untuk setiap hektare. Dengan jumlah 200 ribu bibit, target pengembangan dapat mencakup 200 hektare lahan.

“Untuk kebutuhan sekitar 1.000 bibit per hektare. Jadi target 200 hektare membutuhkan 200 ribu bibit,” terangnya.

Lita menekankan, distribusi bibit hanya menjadi tahap awal. Petani tetap memerlukan pendampingan dalam penanaman, pemeliharaan, pemupukan, hingga pengelolaan kebun agar tanaman berkembang optimal.

Ia juga menyebut, kakao memiliki nilai ekonomi menjanjikan. Saat ini, harga kakao kering dapat mencapai sekitar Rp 180 ribu per kilogram, meski harga yang diterima petani tetap dipengaruhi kualitas dan kondisi pasar.

Baca Juga: Pemkab Kukar-TNI Lanjutkan Kolaborasi Pembangunan Desa Lewat TMMD ke-130 di Jembayan

“Harga jual saat ini bisa tembus Rp180 ribu per kilogram kakao kering,” katanya.

Karena itu, peningkatan kualitas budidaya dan penanganan pascapanen menjadi bagian penting agar nilai ekonomi kakao semakin tinggi.

“Dukungan pupuk dan tambahan bibit akan terus kami upayakan untuk memperluas areal pengembangan kakao,” katanya. (adv/far)

Editor : Faroq Zamzami
berau kakao Sri Juniarsih Mas