PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Berau dalam beberapa hari terakhir.
Kondisi tersebut terutama terlihat pada sore hari dan mulai mengganggu jarak pandang masyarakat.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menduga kabut asap yang muncul bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Berau, melainkan asap kiriman dari daerah lain.
Baca Juga: Wujudkan Bus Sekolah dan Trans Berau, Bupati Sri Juniarsih Akan Minta Dukungan Kemenhub
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan pihaknya telah mencermati perkembangan kondisi cuaca dan sebaran asap yang terjadi belakangan ini.
Pemkab juga telah melakukan komunikasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memastikan kondisi karhutla di wilayah Berau.
“Iya, kita mencermati kondisi cuaca beberapa hari belakangan ini. Setiap sore kerap muncul kabut asap kembali yang cukup mengganggu,” ujarnya, Senin (5/10/2026).
Menurut Sri Juniarsih, dugaan asap kiriman muncul karena tidak terdapat penanganan karhutla yang dilakukan di Berau dalam beberapa waktu terakhir. Namun, pada saat yang sama, kondisi asap justru semakin memburuk.
“Saya sudah melakukan komunikasi dengan OPD kami, bahwa belakangan ini penanganan karhutla tidak ada,” katanya.
Berdasarkan pemantauan, sebaran asap mulai terlihat sejak Minggu (4/10/2026). Asap terpantau muncul sekitar pukul 14.00 Wita, terutama di wilayah selatan Berau.
Kondisi tersebut kemudian meluas secara konsisten hingga Senin (5/10/2026), ketika sebaran asap mulai menutupi wilayah Berau secara keseluruhan.
Dampaknya, jarak pandang di sejumlah wilayah ikut mengalami penurunan. Bahkan, berdasarkan pemantauan yang diterima pemerintah daerah, jarak pandang turun hingga sekitar 1.200 meter.
Sri Juniarsih menyebut, laporan Stasiun Meteorologi (Stamet) Kalimarau turut menunjukkan adanya titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim). Berdasarkan data tersebut, titik panas tercatat cukup banyak berada di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Paser.
“Ini kemungkinan besar merupakan asap kiriman dari wilayah lain yang terjadi karhutla,” jelasnya.
Baca Juga: Pemkab Berau Dorong UMKM Perluas Akses Pembiayaan
Meski demikian, Pemkab Berau tetap mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, terutama terhadap kesehatan.
Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk dan menggunakan perlindungan diri.
Sri Juniarsih mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas, menjaga waktu istirahat, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh dengan mengonsumsi air putih.
“Kita harap masyarakat tetap memperhatikan kesehatan diri, menggunakan masker saat beraktivitas, istirahat yang cukup, dan minum air putih yang cukup,” tuturnya.
Ia juga berharap, hujan dapat turun secara merata di wilayah Kalimantan. Curah hujan diharapkan mampu membantu mengurangi titik panas sekaligus menghentikan munculnya karhutla yang menjadi sumber asap.
“Kita berdoa agar hujan bisa berlangsung secara merata di Kalimantan,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau Masyhadi Mundi, mengindikasikan kondisi tersebut dimungkinkan dipengaruhi asap kiriman dari sejumlah daerah di luar Berau.
Masyhadi mengatakan, pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang membawa asap dari wilayah lain menuju Berau. Sejumlah daerah yang disebut menjadi sumber kiriman asap di antaranya Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Paser, Kutai Timur, hingga Kutai Kartanegara.
“Angin bergerak ke utara dan timur laut,” ujarnya.
Menurutnya, indikasi tersebut diperkuat dengan kondisi hotspot di Berau yang mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Bahkan, dalam dua hari terakhir jumlah titik panas tercatat turun dari 32 titik menjadi 15 titik. Berbeda dengan dua wilayah lain misalnya, Kutai Timur dan Paser mencatat sebaran titik panas lebih dari 400 titik.
Masyhadi menyebut, hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di sejumlah wilayah Berau turut membantu menekan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski masih terdapat potensi karhutla lokal, kontribusinya terhadap kondisi kabut asap dinilai tidak terlalu signifikan.
“Dengan adanya hujan intensitas tinggi, kemungkinan dari wilayah kita ada, tetapi tidak terlalu signifikan,” jelasnya.
Baca Juga: Bupati Berau Ajak Petani Geluti Kakao sebagai Komoditas Unggulan
Di sisi lain, sebaran hotspot di wilayah selatan Berau masih terpantau cukup tinggi. Kondisi tersebut, ditambah arah angin yang bergerak menuju utara dan timur laut, dinilai cukup memengaruhi kualitas udara di wilayah Berau.
BPBD Berau memastikan tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi karhutla. Masyarakat juga kembali diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih berpotensi memicu kebakaran.
Selain itu, masyarakat diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menghindari kegiatan yang tidak diperlukan di luar rumah. “Konsumsi vitamin dan air putih yang cukup,” katanya. (adv/far)
Editor : Faroq Zamzami