Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sektor Hulu Migas Dipaksa Efisiensi

izak-Indra Zakaria • 2020-05-02 14:55:00
Pertamina Hulu Mahakam di triwulan 1 2020 masih mampu memproduksi gas mencapai 658,5 mmscfd atau di atas target teknis WP&B 2020 sebesar 590 mmscfd.
Pertamina Hulu Mahakam di triwulan 1 2020 masih mampu memproduksi gas mencapai 658,5 mmscfd atau di atas target teknis WP&B 2020 sebesar 590 mmscfd.

BALIKPAPAN - Kondisi global yang tak pasti ditambah anjloknya harga minyak dunia membuat PT Pertamina melakukan perubahan rencana pada investasi di sektor hulu. Perseroan pelat merah ini berupaya melakukan efisiensi biaya terutama terkait dengan aktivitas yang tidak berhubungan langsung dengan produksi dan penambahan cadangan migas.

Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu menjelaskan, Pertamina terus memantau perkembangan situasi global sambil terus menjalankan rencana untuk tetap berupaya mengejar target produksi hulu migas.

“Tidak dapat dimungkiri kondisi saat ini telah mengakibatkan berbagai konsekuensi secara operasional maupun finansial. Seperti terganggunya mobilitas dan jadwal pergantian pekerja lapangan, terhambatnya logistik dan interaksi dengan para stakeholder serta kemungkinan menurunnya pendapatan dari sektor hulu,” ungkapnya (30/4).

Samsu menuturkan, prioritas sektor hulu Pertamina saat ini adalah optimalisasi dan efektivitas biaya sambil merencanakan ulang anggaran dan kegiatan di hulu migas. Untuk mendukung langkah tersebut, Pertamina mendorong seluruh anak perusahaan hulu meningkatkan sikap cost awareness dan cost consciousness pada semua lini aktivitas operasional.

“Kepada seluruh anak perusahaan hulu diharapkan dapat melakukan optimalisasi aset atau fasilitas yang ada, baik di internal maupun antara anak perusahaan melalui sharing facility, sehingga diharapkan dapat meminimalkan pengadaan baru,” tuturnya.

Peninjauan kembali seluruh rencana kerja pun harus dilakukan untuk dapat menjaga keekonomian proyek hulu migas saat ini. Secara operasional, aktivitas pada sumur eksplorasi dan sumur eksploitasi akan diturunkan masing-masing sebesar 35 persen dan 25 persen.

Sedangkan aktivitas pada sumur yang memberikan kontribusi langsung pada produksi, termasuk kegiatan workover yang menjadi tulang punggung untuk mempertahankan level produksi sumur akan dipertahankan sepanjang memberikan pertimbangan cost dan benefit yang baik.

Diharapkan dengan langkah tersebut, biaya operasional sektor hulu Pertamina dapat diefektifkan dari USD 5,52 miliar menjadi USD 4,44 miliar. Sedangkan biaya investasi dioptimalkan sebesar 24 persen dari USD 3,7 miliar menjadi USD 2,8 miliar.

"Kami harus beradaptasi dengan kondisi apapun, baik saat harga minyak mentah melonjak tinggi maupun menurun tajam. Dan untuk kondisi sekarang, kami tetap optimis dapat melewati masa sulit ini dengan baik dan terus berupaya menjaga produksi hulu migas tahun ini dapat tercapai di atas 894 MBOEPD," tutup Dharmawan.

Sementara itu, anak perusahaan Pertamina di Kaltim seperti Pertamina Hulu Mahakam (PHM) hingga Maret 2020 atau kuartal I 2020 masih memproduksi gas mencapai 658,5 mmscfd (wellhead) atau di atas target teknis Work Program & Budget (WP&B) 2020 adalah 590 mmscfd. Sementara itu, produksi likuid (minyak dan kondensat) mencapai 30,34 kbpd, sedikit lebih tinggi daripada target teknis WP&B 2020 yakni 28,43 kbpd.

Capaian ini berkat penambahan produksi dari sejumlah sumur baru yang selesai dibor pada 2019 dan telah mulai berproduksi pada awal tahun ini, serta upaya pemeliharaan sumur-sumur (work over & well services) yang ada. Dari sisi pendapatan, bagi hasil untuk Pemerintah adalah USD 216,58 juta, masih di atas target WP&B 2020 yakni USD 199,37 juta.

Di Kaltim, Pertamina juga memiliki beberapa usaha hulu yakni Pertamina EP Asset 5, Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), dan Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS). Untuk minyak, produksi terbesar masih dari PEP Asset 5. Ditargetkan PEP Aset 5 tahun ini bisa mencapai produksi 18.478 BOPD. (aji/ndu/k18)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim