Layaknya pegawai negeri, kelompok nelayan ini pun turut menikmati gaji ke-13. Sesuatu yang sulit ditemui di kehidupan nelayan saat ini.
MUHAMMAD RIZKI, Balikpapan
TAK sekadar mengembangkan budi daya kepiting soka dengan tiga rupa, kelompok nelayan ini juga mengusung misi melawan pengepul. Yang selama ini dianggap kurang berpihak terhadap kesejahteraan para penjala. Di komunitas ini, 14 nelayan terikat kontrak. Layaknya karyawan yang bekerja di perusahaan berbadan hukum. Kontrak berdurasi enam bulan.
Perjanjian secara tertulis itu membuat nelayan mendapat kepastian. Mulai sisi penjualan, pemasaran, hingga pendapatan. Dari sisi penjualan, misalnya. Sejak kontrak ditandatangani hingga enam bulan ke depan, tangkapan kepiting nelayan dibeli seharga Rp 27.500 per kilogram. Terobosan ini dinilai menguntungkan nelayan. Karena volume tangkapan kepiting yang tidak menentu dari hari ke hari.
Harga tersebut dinilai jauh di atas harga rata-rata yang dibanderol tengkulak kepada nelayan di Balikpapan. Yakni, sekitar Rp 20–25 ribu per kilogramnya. Selain kepastian harga, kontrak ini berdampak positif pada kualitas kepiting yang dibudi daya. Sebab, modus nelayan sebelum dikontrak sebelumnya, kerap menjual kepiting dengan kualitas “A” ke tengkulak. Lalu menjual kualitas “B” ke kelompok nelayan ini.
Nelayan yang terikat kontrak di komunitas ini juga mendapat tambahan penghasilan. Bonus dibagi pada akhir tahun. Sesuatu yang sulit ditemui di kehidupan nelayan saat ini. Patra Bahari Mandiri. Demikian nama kelompok nelayan ini yang berlokasi di Jalan Manuntung, RT 03, Salak Oseng, Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat.
Usia kelompok nelayan ini baru seumur jagung. Berdiri pada 2017. Setahun kemudian (2018), nelayan mendapatkan pendampingan dari Pertamina (Persero) lewat program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Sebanyak 14 nelayan Patra Bahari Mandiri fokus pada budi daya kepiting soka. Dikelilingi panorama hutan mangrove pesisir Teluk Balikpapan, budi daya kepiting soka ini terhampar di atas lahan tambak seluas 2 hektare.
Rustam, Ketua Kelompok Nelayan Patra Bahari Mandiri menuturkan, sebelum Pertamina (Persero) memberikan pendampingan lewat program CSR, nelayan di Salak Oseng sudah menggeluti budi daya kepiting soka. “Skala kecil. Dengan cara yang itu-itu saja. Tangkap, jual, tangkap, jual. Sehingga yang sukses bukan dia (nelayan), tapi pengepul. Salahnya di teknik,” beber Rustam kepada Kaltim Post, Jumat (25/9) lalu.
Sebelum mengomandoi Patra Bahari Mandiri, Rustam bertahun-tahun mencari nafkah sebagai nelayan di Kabupaten Paser, Kaltim. “Sesukses-suksesnya di kampung orang, lebih baik di kampung sendiri,” kata Rustam perihal keputusan dirinya yang kembali ke Balikpapan. Menurut dia, akibat nelayan hanya menangkap, lalu menjual, maka tidak ada nilai tambah yang didapat nelayan.
“Bahkan tidak jarang, nelayan berutang ke nelayan untuk melaut. Jadi uang yang mereka dapat, habis hari itu juga. Padahal, jika dicermati, nelayan yang punya barang, mereka harusnya memiliki nilai tawar. Karena yang lebih butuh tentu tengkulak, ataupun pengusaha kuliner,” bebernya.
Dalam sebulan, rata-rata produksi budi daya kepiting soka kelompok nelayan Patra Bahari Mandiri yang sudah berjalan dua tahun terakhir sekira 500 kilogram. Volume tersebut disokong lewat tiga cara budi daya kepiting soka yang dikembangkan.
Yakni tradisional (alami), semi-tradisional, dan modern. Cara tradisional, berarti Rustam dan anggota nelayan lainnya memotong capit dan kaki kepiting untuk merangsang pelepasan kulit dan pergantian cangkang keras (molting) secara alami. Sementara metode semi-tradisional, hanya kaki kepiting yang dipotong, lalu diberi suntikan herbal. Berupa ekstrak bayam merah untuk merangsang molting.
“Tergantung kurus-gemuknya kepiting. Kalau kurus, disuntik. Sebenarnya tidak disuntik juga tidak apa-apa. Hanya berpengaruh pada cepat tidaknya proses molting,” sebutnya. Metode terakhir, tanpa memotong capit dan kaki, alias tubuh kepiting utuh. Lalu disuntik dengan ekstrak bayam merah. Proses penyuntikan ekstrak bayam merah dengan teknik semi-tradisional maupun modern, dilakukan hanya sekali.
Ketika kepiting berbobot sekitar 15 gram. Atau sebelum kepiting dimasukkan dalam keranjang plastik warna hitam (crab box) atau keramba. Dengan suntik ekstrak bayam merah ini, masa panen kepiting lebih cepat. Jika cara budi daya tradisional membutuhkan waktu 25–30 hari, dengan ekstrak bayam hanya 15–20 hari. Dari tiga cara ini, bobot kepiting soka ketika dipanen sesuai standar. Minimal 150 gram.
“Metode-metode yang kita pakai supaya masyarakat bisa belajar, barangkali tidak berhasil dengan cara ini, maka mencoba dengan cara lain. Skill tiap nelayan kan beda-beda. Jadi orang datang ke sini untuk belajar cara dan tekniknya. Tempatnya berbagi ilmu, ada inovasi yang bertujuan meningkatkan pendapatan nelayan,” tutur Rustam.
Khusus budi daya kepiting soka dengan cara ekstrak bayam merah, Rustam menyebut baru dilakukan setelah Pertamina melakukan pembinaan. Sisi positif dari metode ini adalah mempercepat proses masa panen. Namun, karena tubuh kepiting utuh, proses pemantauannya selama ini dilakukan laki-laki atau yang sudah terampil.
“Kalau cara tradisional, capitnya kan tidak ada. Jadi istri nelayan pun bisa ikut mengontrol. Siapa pun bisa. Bahkan, anak saya bisa mengontrol. Bagi pembudi daya pemula cara ini (metode tradisional) cocok,” jelasnya.
Perbedaan lainnya, sambung dia, budi daya cara modern atau dengan suntik ekstrak bayam diperuntukkan permintaan penikmat kepiting dari luar negeri. Sementara itu, budi daya tradisional dan semi-tradisional, untuk memenuhi permintaan kepiting soka dalam negeri. Khususnya melayani pasokan kuliner kepiting di restoran maupun hotel-hotel berbintang di Balikpapan.
“Jualnya bukan per ekor. Tapi per kilo. Pengusaha restoran atau perhotelan sekali beli minimal 15 kilogram. Itu cukup untuk kebutuhan seminggu,” terangnya. Bicara harga, kelompok nelayan Patra Bahari Mandiri menjual kepiting soka seharga Rp 90–100 ribu per kilogramnya. Dari total produksi sekira 500 kilogram dalam sebulan, kelompok nelayan ini bisa meraup omzet sekitar Rp 45 juta. Omzet itu lalu dibagi kepada 11 nelayan yang termasuk dalam kelompok ini.
Menurut Rustam, sejak Pertamina memberikan pendampingan dalam dua tahun terakhir, nelayan mendapat bantuan berupa lemari pendingin untuk menyimpang kepiting yang telah dipanen. Keranjang plastik tempat budi daya, keramba untuk menampung hasil tangkapan ataupun sebagai tempat penggemukan kepiting, pembangunan gazebo, dan alat pengemas.
Sementara itu, Region Manager Comm, Rel dan CSR MOR VI & RU V Kalimantan PT Pertamina (Persero) Roberth MV Dumatubun menuturkan, program budi daya kepiting soka kelompok Patra Bahari Mandiri merupakan upaya Pertamina (Persero) Integrated Terminal BBM Balikpapan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi kelompok nelayan.
Menurut dia, nelayan selama ini hanya bergantung pada hasil tangkapan laut yang berdampak pada nilai jual yang rendah. Selain itu, area mangrove di lingkungan para nelayan menyimpan banyak potensi perikanan yang belum dimaksimalkan. Melalui budi daya kepiting soka dua tahun terakhir, omzet serta penghasilan kelompok nelayan mengalami peningkatan.
Yakni memiliki penghasilan Rp 3–4 juta per bulannya. “Budi daya ini membuka harapan baru untuk pengembangan usaha dan kehidupan keluarga nelayan,” katanya. Lanjut dia, dalam dua tahun terakhir, pihaknya tidak hanya memberikan bantuan fisik keperluan budi daya. Tetapi pelatihan kepada nelayan dalam menghasilkan inovasi.
Salah satunya melalui ekstrak bayam yang disuntikkan ke kepada kepiting untuk merangsang percepatan molting. “Kalau molting-nya cepat, otomatis penjualannya semakin meningkat,” kata Roberth. Inovasi lain yang masih terkait percepatan molting, pihaknya bekerja sama dengan mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dalam menyediakan pakan kepiting. Produk suplemen ekstrak bayam itu diberi nama “Sokavit”.
Cara penggunaan Sokavit tergolong sangat mudah, efisien, dan efektif. Hanya dengan menyemprotkan pakan ke kepiting. Dampaknya, pendapatan kelompok nelayan Patra Bahari Mandiri meningkat hingga 40 persen. Serta menghidupkan kembali tambak yang tidak produktif. Selain itu, istri para nelayan dilibatkan dalam mengolah limbah cangkang kepiting menjadi produk penambah atau penguat rasa makanan (braco).
Sementara itu, sisa limbah pembuatan braco diolah lagi menjadi pelet pakan ikan. “Sehingga kegiatan budi daya ini zero waste. Itu salah satu inovasi juga,” tuturnya. Saat ini, pihaknya juga membangun saung apung untuk area wisata, budi daya ikan nila di air laut, dan penggemukan kepiting.
“Karena itulah, kelompok nelayan ini juga mengusung branding Nelayan Berdasi. Karena nelayan ini adalah pebisnis, menjual hasil usaha, dan menghasilkan inovasi. Ada kebanggaan menjadi nelayan di kelompok ini,” pungkasnya. (riz/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria